Bagaimana Fosun Mengangkat Pamor Wolverhampton Wanderers

Cerita

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Bagaimana Fosun Mengangkat Pamor Wolverhampton Wanderers

Harus diakui, sejak Fosun International menguasai Wolverhampton Wanderers, kesebelasan asal Black Country, Midlands Barat, tersebut telah bertransformasi. Mereka bukan lagi tim yang bisa dipandang sebelah mata. Bukan lagi penghuni papan tengah ke bawah. Apalagi dilabeli sebagai ‘tim yo-yo’. Naik ke Liga Primer Inggris sebagai juara EFL Championship 2017/18, Wolves langsung masuk dalam jajaran elit. Wakil Liga Primer Inggris di kompetisi antar klub Eropa.

Kembalinya Wolves ke divisi tertinggi sepakbola Inggris memang tergolong baru. Namun, jika melihat skuad yang dimiliki Nuno Espirito Santo, cukup mustahil untuk Wolves kembali turun ke Championship. Mereka bahkan berhasil mengamankan jasa gelandang Portugal kelahiran 1997, Ruben Neves, sejak di divisi dua. Padahal ia diincar berbagai kesebelasan ternama Eropa seperti Chelsea. Dibanding membela the Blues, ia lebih memilih untuk mengikuti agennya, Jorge Mendes, ke Wolves.

Mendes dipercaya Fosun untuk menjadi penasihat perusahaan dalam urusan sepakbola. Pasalnya sebagai perusahaan, Fosun asing dengan dunia sepakbola. Pada 1992, Fosun didirikan sebagai perusahaan ekonomi, lebih tepatnya investasi. Dari bisnis investasi itu, mereka kemudian melebarkan sayap ke berbagai bidang lain, Entah itu kesehatan publik, industri, mode, ataupun perumahan elit. Tapi tidak sepakbola.

VIDEO: Update sepakbola dunia terkini



Menurut Guardian, Mendes adalah sosok yang mengajak Fosun ke dunia sepakbola. Agen super asal Portugal itu punya hubungan dekat dengan petinggi-petinggi Fosun. Mendes sadar bahwa Presiden Tiongkok Xi Jinping ingin membesarkan sepakbola di Negeri Tirai Bambu. Ia pun mengajak Fosun untuk membeli Wolverhampton. Bahkan terlibat aktif dalam negosiasi perpindahan tangan klub.

Langkah yang diambil Mendes ini bisa dilihat sebagai cara untuk memudahkan pekerjaannya sebagai agen. Namun di sisi lain, dia juga membantu teman-temannya di Fosun memperbaiki hubungan dengan Pemerintah Tiongkok. Pasalnya, sekitar enam bulan sebelum Fosun resmi mengakuisisi Wolves, Presiden Fosun Guo Guangchang pernah menghilang, `diculik` pihak pemerintahan sebagai usaha negara menegaskan anti-korupsi di Tiongkok. Membawa Fosun ke dunia sepakbola yang begitu diincar Xi Jinping tentu membantu pemulihan relasi kedua belah pihak.

Pengaruh Jorge Mendes selaku penasihat Fosun membuat Wolves jadi kesebelasan yang kompetitif di atas lapangan. Santo dan Neves merupakan bagian dari klien paling menguntungkan Mendes. Menurut CIES Football Observatory, nilai pasar Neves ada di angka 50 hingga 70 juta Euro, klien termahal kelima Mendes. Hanya kalah dari Fabinho, Ederson Moraes, Cristiano Ronaldo (70-90 juta Euro), dan Bernardo Silva (90-120 juta Euro). Sementara dari daftar pelatih yang diwakili oleh Mendes, mungkin hanya Jose Mourinho yang punya biaya kompensasi lebih besar dibandingkan Santo.

Campur tangan Mendes ini sempat diprotes berbagai kesebelasan divisi dua Inggris. Mereka merasa Wolves curang dengan melibatkan seorang agen super dalam pembentukan tim. Akan tetapi setelah Badan Liga Inggris (EFL) melakukan investigasi, Wolves tidak dianggap melanggar aturan. Mendes tak terlibat langsung ke dalam klub, hanya berstatus sebagai penasihat Fosun. Meski keberhasilan Wolves mendapatkan jasa Santo, Diogo Jota dan Neves saat itu tidak lepas dari pengaruh Mendes.

Bebas dari segala tuduhan, jumlah klien Mendes di Wolves semakin banyak. Menurut transfermarkt, lima dari 27 pemain asuhan Santo di Liga Primer Inggris 2019/20 merupakan klien Mendes. Saat agen super seperti Mendes membantu Fosun dalam urusan sepakbola, pemilik klub pun dapat lebih mudah mengurus bisnis di luar lapangan.

Menurut laporan the Athletic, komunitas pendukung Wolves sudah menjamur di Meksiko, Tiongkok, dan Amerika Serikat. Keberhasilan Wolves menjamah pasar Tiongkok jelas tidak lepas dari pengaruh Fosun. Sama seperti Dalian Wanda (Atletico Madrid) atau Suning (Inter Milan), mereka menggunakan status sebagai perusahaan asal Tiongkok untuk mendapatkan animo tinggi dari masyarakat Negeri Tirai Bambu. Membuat warga di sana merasa jadi bagian dari klub mereka. Leicester City juga menerapkan hal serupa di Thailand.

Tapi, Wolves bukanlah kesebelasan yang memiliki pamor sebesar Inter atau Atletico Madrid. Bahkan dibandingkan Leicester saja, mereka masih kalah. Setidaknya Leicester pernah mengangkat piala Liga Primer Inggris di millennium kedua. Sementara sejauh ini, pencapaian terbaik Wolves adalah gelar Piala FA 1959/60 dan final UEFA Cup 1971/72.

Mendes sudah dan akan terus membantu Fosun untuk menentukan langkah mereka di atas lapangan. Tapi untuk urusan di luar lapangan, tanpa piala yang bisa dipamerkan, mereka butuh strategi lain agar bisa menarik minat. Fosun akhirnya membentuk citra Wolves lebih dari sekedar klub sepakbola di tanah air mereka. Wolves adalah sebuah mode di Tiongkok, mendukung dan menjadi bagian dari klub tersebut bukan hanya menunjukkan seseorang menggemari sepakbola, tapi juga modis.

Mereka menggelar fashion show di salah satu gedung terkenal Shanghai, Menara Podung Skyline. Mereka juga membuka toko di pusat perbelanjaan Shanghai Megastore dan TMALL. Wolves mungkin sudah puasa gelar puluhan tahun, tapi identitas mereka tidak pernah berubah. Dunia mode adalah salah satu zona nyaman Fosun. Mereka pun sadar bahwa logo serigala Wolves sangatlah menjual.

“Secara identitas produk, tidak ada yang bisa mengalahkan Wolverhampton. Simbol serigala yang kami miliki adalah lambang terkuat di Liga Primer Inggris,” ungkap Ketua Pemasaran Wolverhampton Russell Jones. Ungkapan yang tidak berlebihan jika mengingat identitas mereka sampai pernah digunakan klub asal Tangerang di Liga Primer Indonesia. Diluncurkan bersamaan dengan performa apik anak-anak asuh Santo di Liga Primer Inggris, nilai Wolves sebagai bagian dari mode semakin besar.

Selain merambah dunia mode, Wolves juga membentuk tim eSports di Tiongkok. Mereka menjalin kerja sama dengan mesin pencari terbesar Tiongkok, Weibo, dan ikut serta dalam kompetisi FIFA Online Star League (FSL). Langkah ini bukan hanya membantu Wolves menggaet lebih banyak penduduk Tiongkok tapi juga membantu perusahaan lain dari Negeri Tirai Bambu membesarkan nama mereka. Wolves pun semakin dicintai di sana.

Menurut Jones, eSports Wolves juga sudah berhasil menarik perhatian penduduk Brasil. Tapi, tidak ada yang merasakan peningkatan lebih besar dibandingkan pengikut mereka di Meksiko. Bermodalkan penyerang Tim Nasional Meksiko Raul Jimenez, Wolves dengan mudah masuk ke dalam kehidupan penggemar sepakbola di sana. Jimenez membantu sosial media Wolves yang menggunakan Bahasa Spanyol mengalami peningkatan 12.500% persen dalam 18 bulan. Pertandingan mereka yang dilaporkan dengan Bahasa Spanyol empat kali lebih banyak diakses dibandingkan laporan berbahasa Inggris.

https://twitter.com/mediotiempo/status/1169678795055480832">

Melihat hal ini, Wolves memanfaatkan peluang dengan merilis kostum berwarna hijau, sama seperti Tim Nasional Meksiko. Kostum tersebut membuat mereka yang awalnya hanya menyaksikan Wolves karena Jimenez merasa lebih dekat lagi dengan klub. Sin Cara, pegulat profesional yang juga sahabat Jimenez juga membantu pemasaran Wolves. Kostum hijau mereka pun dengan mudah terjual habis.

Menurut Russell, tinggal Amerika Serikat saja yang belum memiliki fanatisme terhadap Wolves setinggi Tiongkok dan Meksiko. Pasar lokal, dan Britania Raya tidak perlu dipertanyakan lagi. Menurutnya sudah cukup banyak yang dengan bangga menggunakan kostum Wolves dalam keseharian mereka. Bahkan tak jarang dirinya melihat anak-anak bermain dengan kostum hitam-emas bertuliskan Jimenez atau Traore di Britania Raya.

Dari segi sosial media, Wolves mendapat peningkatan 300% dalam 18 bulan. Peserta Liga Primer Inggris dengan peningkatan sosial media terbesar. Pengikut mereka mencapai lebih dari 3 juta orang. Termasuk 30.000 pengikut di Youtube yang membuat mereka masuk dalam daftar 20 kanal klub sepakbola paling ramai pada situs tersebut.

Setidaknya hingga tulisan Tim Spiers di Athletic diterbitkan pada 9 Januari 2020, Wolves telah memiliki 150 kelompok suporter di berbagai belahan dunia. Dari Selandia Baru hingga Kanada. Termasuk di Bali, yang menurut situs resmi klub sudah memiliki 20 anggota. Menurut Athletic, Indonesia juga menjadi salah satu negara yang paling banyak menyumbang pengikut di kanal Youtube Wolves. Hanya kalah dari Meksiko dan Amerika Serikat.

Musim 2019/20 baru menjadi musim ke-enam Wolverhampton sepanjang sejarah Liga Primer Inggris. Jika menghitung era divisi utama, mereka sudah 77 musim mewarnai level tertinggi sepakbola Inggris. Paling lama 19 musim berturut-turut (1946-1965), setelah perang dunia kedua. Berada dalam kekuasaan Fosun, Wolves memiliki kesebelasan yang kompetitif dan dukungan dari berbagai belahan dunia. Bukan tidak mungkin jika suatu saat nanti Wolves akan menjadi kekuatan baru di dunia sepakbola.

Foto: Twitter / @SwissRamble

Fosun sendiri mendapatkan keuntungan besar dari hal ini. Mereka sudah pernah membawa Wolves tur ke Tiongkok dan sedang berusaha melakukan pra-musim di Amerika Serikat. Mengincar daerah seperti Texas, yang dekat dengan Meksiko. Tur tentu akan memberi dana tambahan untuk Fosun dan Wolves. Bahkan hal-hal di luar lapangan seperti pemasaran, penjualan, dan bidang komersil lainnya dapat memberikan pemasukan lebih besar dibandingkan tiket pertandingan.

Tak jarang, pemilik klub Eropa yang berasal dari Tiongkok justru merusak identitas. Membuat klub itu semakin sengsara. Birmingham City, Sochaux, dan ADO den Haag adalah beberapa contoh di antaranya. Tapi Fosun justru mengangkat citra Wolves lebih dari sekedar klub sepakbola, sekalipun belum ada piala yang bisa mereka pamerkan.

Komentar