Bagaimana Media Sosial Semakin Membebankan Para Pesepakbola

Cerita

by Adrianus Eduard Johanes Saerong

Adrianus Eduard Johanes Saerong

"Losing my religion to football"

Bagaimana Media Sosial Semakin Membebankan Para Pesepakbola

“Sepakbola saja sudah cukup berat. Tanpa sosial media sudah banyak tantangan yang harus dihadapi. Namun kini sosial media telah menjadi bagian besar dalam dunia sepakbola,” kata James Milner dalam buku ‘Ask A Footballer’ karya Oliver Kay.

“Waktu saya pertama memulai karier sebagai pesepakbola tak ada sosial media. Andaikan kami bermain buruk, bahkan saat sebenarnya tidak seburuk itu, pasti akan ditulis di koran atau menjadi perbincangan komentator televisi. Tapi hanya itu saja”.

“Sosial media membuat semua orang bisa berkomentar tentang permainan kami. Ketika ada yang bermain buruk dan mengecek sosial media mereka, pemain itu akan merasa seluruh dunia sedang menghakimi dia,” jelas Milner.

Milner mungkin dikenal sebagai pemain yang ‘membosankan’. Akan tetapi, ucapan Milner tersebut adalah kenyataan yang sedang dihadapi oleh para pesepakbola. Menulis untuk the Athletic, Oliver Kay menceritakan bagaimana seorang agen harus menghadapi kliennya setelah bermain buruk.

Sang Agen sadar bahwa kliennya bermain buruk. Tanpa membuang waktu, ia memantau sosial media. Nama kliennya menjadi perbincangan dunia. Banyak notifikasi yang masuk. Usai pertandingan ia pun bertanya, “Apa kamu baik-baik saja?”. “Ya,” jawab pemain tersebut. “Hal seperti ini terjadi. Ini normal, saya baik-baik saja,” lanjutnya.

Namun, perasaan pemain itu mengalami perubahan saat perjalanan pulang. Sang Agen tahu mengapa kliennya murung. “Sudah, tidak perlu dipikirkan,” kata agen. Mendengar ucapan agen yang berusaha untuk menenangkan dirinya, pemain tersebut justru mengamuk. “Bagaimana saya bisa tidak memikirkan hal ini? Seluruh dunia sedang menertawakan saya,” katanya.

Kay juga merasa bahwa perselisihan antara Raheem Sterling dan Joe Gomez di pemusatan latihan Tim Nasional Inggris tidak lepas dari pengaruh sosial media. Meski menelan kekalahan, Sterling tak bermain buruk. Sejak meninggalkan Liverpool untuk Manchester City pada 2015, Sterling memang bukan sosok yang diagungkan publik Anfield. Ditambah dengan persaingan gelar juara Liga Primer Inggris 2019/2020, tentu Sterling panas selama pertandingan.

Akan tetapi, perlakuan Gomez saat menjaga Sterling menambah amarah mantan pemain akademi Queens Park Rangers tersebut. Gomez seakan menyombongkan diri dapat mematikan pergerakan Sterling. Momen perselisihan keduanya pada laga tersebut diabadikan dengan GIF di sosial media.

Menurut Kay, Sterling tidak punya niat untuk berkelahi dengan Gomez di pemusatan latihan. Hanya saja hatinya sudah terbakar, ketika datang ditertawakan, Sterling pun meledak. Tim Nasional Inggris telah meredam insiden ini sebisa mereka. Akan tetapi, dampaknya sudah terasa. Gomez hanya bermain tiga menit di pertandingan ke-1.000 the Three Lions (vs Montenegro). Tapi suporter Inggris tetap sempat memberikan sorakan negatif kepada mantan bek Charlton Athletic tersebut.

Serupa tapi tak sama, Direktur Teknis Garuda Select Dennis Wise sempat memarahi punggawa Indonesia U19, Bagus Kahfi dan Bagas Kaffa karena terlalu sering melakukan nutmeg ketika menjalani uji coba di Inggris. ”Saya pasti akan sangat kesal jika menjadi korban aksi kalian. Duduk di ruang ganti, pikiran saya adalah bagaimana caranya untuk membalas,” kata Wise.

“Saya akan mencari cara untuk mempermalukan ataupun menyakiti kalian. Atau setidaknya rekan-rekan satu tim kalian. Jangan memberi mereka alasan untuk menyakiti kalian,” jelas mantan pemain Chelsea itu dalam dokumenter Garuda Select I yang disiarkan Mola TV.

Cerita perjalanan tim Garuda Select generasi pertama selama berlatih di Inggris.

Wise bermain di masa-masa saat Milner baru menjadi pesepakbola. Tidak ada sosial media, hal-hal sederhana seperti nutmeg bisa menciptakan api perselisihan. Pada era sosial media, perselisihan dapat muncul karena orang lain, bukan pemain.

Sosial media mempermudah pesepakbola untuk membangun citra diri mereka. Ketika bermain bagus, mereka akan dibanjiri pujian. Tetapi saat bermain buruk, makian akan sangat mudah datang. Bahkan makian yang sama sekali tidak menyangkut sepakbola seperti rasisme.

Perbudakan sudah tidak lagi diterapkan. Semua ras sudah dianggap setara. Tapi tiba-tiba lewat sosial media, rasisme mulai meningkat. Pesepakbola juga jadi korbannya. “Menurut saya rasisme saat ini lebih buruk dibandingkan waktu pertama memulai karier sebagai profesional. Tentu dulu ada rasisme, tapi sosial media membuat hal itu jadi lebih sering muncul,” aku Kapten Leicester City Wes Morgan.

Komentar