Apakah VAR Awal Distopia Sepakbola?

Cerita

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Apakah VAR Awal Distopia Sepakbola?

Suka tidak suka, sepakbola telah berubah sejak penerapan Video Assistant Referee (VAR). Kehadirannya memang menambal kekurangan manusia, tetapi sekaligus mencabut hal paling manusiawi: kesalahan.

Pengaplikasian VAR bertujuan membantu wasit mengambil keputusan yang paling tepat sesuai peraturan berlaku. Begitu juga, demi menegakkan keadilan setegak-tegaknya bagi kedua tim.

Penggunaan teknologi dalam olahraga sebenarnya hal biasa. Atletik, american football, kriket, hingga bulutangkis telah menggunakannya dan terbukti ampuh meningkatkan kepuasaan para atlet serta penonton terkait hasil akhir. Namun, respons berbeda muncul dari lanskap sepakbola yang terbagi dua: pro dan kontra.

Pertama-tama, mari sepakat hampir tidak ada olahraga yang menglorifikasi kontroversi seperti sepakbola. Contoh paling mudah, Diego Maradona dan Tangan Tuhan-nya. Ia tahu menyentuh bola dengan tangan adalah hal terlarang, namun mampu menarasikannya sebagai anugerah dari Yang Maha Kuasa.

Kebanyakan penggemar pun - kecuali suporter Inggris, tentu - menerimanya bukan sebagai sebuah tragedi kelalaian wasit, melainkan momen bersejarah yang menjadikan sepakbola sebagai sepakbola; tempat pelanggaran dan kepatuhan pada peraturan boleh diperdebatkan.

Gampangnya: sah-sah saja jika seorang pemain menjegal lawan yang sudah berada di depan gawang kosong demi tidak kebobolan. Apalah artinya kartu merah jika mampu mengamankan kemenangan? Toh, masih berada dalam batas kerangka `Fair Play`, kan? Maka, ketika kesempatan memperdebatkan kontroversi-manusiawi terminimalisir, sepakbola tidak lagi dianggap sebagai sepakbola.

Nada sumbang bukan hanya berasal dari kalangan suporter, melainkan juga dari pelatih. "Kami harus menerima bahwa ini adalah hal yang adil, peraturan tersebut. Saya kecewa karena kami kemasukan dua gol dan emosi (atmosfer) pertandingan berubah," ucap pelatih Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino, seperti yang dikutip CNN.

Pernyataan Pochettino merujuk kekalahan 1-2 Tottenham dari Leicester City dalam pekan ke-6 Premier League. Pada menit ke-64, Serge Aurier sukses membuat skor menjadi 2-0 untuk keunggulan Tottenham, tetapi VAR menunjukkan bahwa Son Heung-Min terlebih dahulu berada dalam posisi offside sembilan detik sebelumnya. Gol dianulir dan skor kembali menjadi 1-0. Beberapa menit kemudian, Leicester menyamakan kedudukan.

Hal senada turut diucapkan manajer Chelsea, Frank Lampard. Mereka tengah tertinggal 0-1 ketika Cesar Azpilicueta menyarangkan bola ke gawang Liverpool. Namun, selebrasi yang dilakukan harus berakhir prematur setelah VAR menyatakan gol tersebut tidak sah. Tak berselang lama, Liverpool menggandakan keunggulan, memenangi pertandingan dengan skor 2-1.

"Hal tersebut jelas mengubah atmosfer di antara para penonton dan di atas lapangan, sedikit mengurangi semangat kami dan tentu mereka (Liverpool) mendapatkan dorongan oleh karenanya," kata Lampard.

Ada dua kesamaan dalam keluhan Pochettino dan Lampard, yakni tentang VAR mengubah momentum pertandingan. Jurnalis asal Inggris, Oliver Kay, menyebut dalam tulisannya di The Athletic bahwa ini adalah distopia sepakbola.

Dalam pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia, distopia artinya tempat khayalan yang segala sesuatunya sangat buruk dan tidak menyenangkan serta semua orang tidak bahagia atau ketakutan.

Ada banyak jenis situasi dan penyebab distopia. Kay, misalnya, membandingkan sepakbola dengan kisah dalam sebuah episode film serial populer Black Mirror.

Diceritakan, manusia menggunakan teknologi yang mampu mencarikan jodoh dengan tingkat kecocokan/keakuratan mencapai 99,8%. Namun, di pengujung episode, diketahui bahwa konsekuensinya ternyata tak sebanding dengan harapan dan memunculkan pertanyaan: sejauh mana manusia memakai teknologi demi menggapai kesempurnaan?

"Teknologi itu netral dan sangat kuat, dan mereka (manusia) salah menggunakannya - atau, mereka menanggung akibat orang lain yang salah menggunakannya. Tetapi, biasanya adalah manusia yang menciptakan masalah," ucap pencipta Black Mirror, Charlie Brooker, membela diri ketika muncul tuduhan dirinya membawa agenda anti-teknologi.

Ketika Asosiasi Sepakbola Internasional (IFAB) memperkenalkan VAR, jargon utama mereka adalah "minimum interference, maximum benefit" ("gangguan minimum, keuntungan maksimal"). Tujuannya demi mengurangi "ketidakadilan yang disebabkan kesalahan atau melewatkan insiden serius yang jelas dan terang-terangan".

Benar bahwa VAR membantu `mengurangi ketidakadilan`. Berkatnya, pelanggaran-pelanggaran yang terlewat oleh wasit dalam dihukum dengan pantas dan selayaknya. Berdasarkan statistik yang dirilis La Liga pada Januari 2019, VAR sukses mengoreksi 15 dari 30 gol selama setengah musim liga berjalan. VAR juga mereduksi kesalahan wasit memberikan penalti sebanyak 19 kali.

Menjadi permasalahan ketika VAR dirasa tebang-pilih dalam menegakkan keadilan. Penggunaannya terbatas pada empat tipe insiden, yakni: pengesahan gol, pemberian penalti, hukuman kartu merah, dan kesalahan identitas pemain.

Sementara, ada banyak pelanggaran-pelanggaran yang tidak ditinjau ulang. Manajer Professional Game Match Officials Limited, Mike Riley, menilai setidaknya ada empat insiden penting yang mampu mengubah hasil akhir pertandingan terlewatkan oleh VAR selama empat pekan pertama Premier League 2019/20.

Bagi Riley, ini adalah bagian dari proses untuk terus mempelajari dan mengembangkan proyek VAR. Ungkapan tersebut senada dengan yang diutarakan sekretaris IFAB, Lukas Brud, pada Agustus 2019.

"Konsep VAR masih berada di tahap awal. Kami berdiskusi dengan olahraga-olahraga lain dan semuanya mengatakan bahwa proyek ini butuh waktu 10 tahun sebelum orang-orang sungguh memahami caranya bekerja," kata Brud kepada FourFourTwo.

Kembali ke distopia sepakbola, kegundahan Kay terhadap pengaruh VAR bagi masa depan olahraga ini rasanya cukup beralasan. VAR adalah produk yang lahir dari kemajuan industri sepakbola. Sebelumnya, VAR hanya milik mereka yang menyaksikan lewat layar kaca, bukan yang menonton langsung di stadion.

Agaknya, memang mengerikan, jika membayangkan 10 tahun mendatang, menonton bola di stadion terasa seperti menonton di televisi. Atmosfer ketegangan dan kelegaan puluhan ribu penonton menjadi artifisial - tidak spontan hasil buncahan adrenalin.

Sepakbola, sejatinya, tidak akan pernah menjadi olahraga yang sempurna. Sepakbola mengajarkan sportivitas bukan semata-mata dari kekalahan, melainkan juga dari kesalahan dan pelanggaran orang lain, yang tak seharusnya membuat kita berhenti berjuang. Peraturan-peraturan karet terasa `menyenangkan`, hanya boleh ada dan terjadi dalam sepakbola.

Komentar