Uni Emirat Arab Belum Siap (?)

Cerita

by Fahmin

Fahmin

Playing football with his hands. Writing and playing PlayStation.

Uni Emirat Arab Belum Siap (?)

Pada 21 Desember 1996, 60 ribu penonton memadati Stadion Syekh Zayed, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Jarak Uni Emirat Arab dengan kemenangan hanya dipisah 12 meter depan gawang dan 5 eksekutor mereka. Namun adu penalti seperti mata dadu yang dilemparkan. Lawannnya, Arab Saudi, memenuhi takdir mereka dengan keluar sebagai juara untuk ketiga kalinya setelah dua penendang Uni Emirat Arab, Saleh dan Saeed, gagal menaklukkan Mohammad Al-Deayea di bawah mistar Arab Saudi.

Dan hari ini, di tanah yang sama di turnamen yang sama pula, anak asuhan Alberto Zaccheroni ini coba melampaui atau setidaknya menyamai apa yang mereka capai 23 tahun lalu. Berhasil atau gagal?

***

Sebulan dari pemecatan Edgardo Bauza yang dicap gagal membawa timnas UEA lolos di tikungan terakhir menuju Rusia, federasi sepakbola Uni Emirat Arab cuma perlu waktu sebentar untuk memutuskan nama Alberto Zaccheroni sebagai pelatih baru. Kontrak berdurasi 16 bulan langsung mereka sodorkan kepada pelatih yang berusia 65 tahun ini.

Dengan segudang pengalaman melatih klub kenamaan di Italia seperti Juventus, Internazionale Milan, Lazio, dan AC Milan ditambah 8 tahun meneguk pahit-manis karier yang melintang di sepanjang Asia Timur, nama Zaccheroni adalah pilihan paling realistis bagi The Emirate saat itu.

Tangan dingin seorang Zaccheroni didukung penuh talenta-talenta berbakat dalam diri Omar Abdulrahman dan Ahmad Khalil dalam skuad UEA. Ahmad Khalil adalah pemain terbaik Asia tahun 2015 sementara Omar Abdulrahman adalah talenta terbesar yang dimiliki negara yang kaya akan minyak bumi tersebut. Banyak yang meyakini bahwa negara berperingkat 79 dunia ini akan menjadi salah satu tim yang disegani.

Segala faktor yang memungkinkan bagi UEA untuk tampil baik di Piala Asia seperti: faktor tuan Rumah, momen 1996, dukungan ribuan pendukung, pelatih kenamaan serta generasi emas menjadi modal penting bagi perjalanan mereka di piala Asia. Jadi, jika sekadar menapaktilasi apa yang mereka capai di tahun 1996 bukan suatu hal yang sulit apalagi jika sampai tembus sebagai juara seperti yang dilakukan Australia empat tahun sebelumnya.

"Saya melihat di atas kertas mereka dipenuhi talenta-talenta berbakat, khususnya di lini depan. Mereka tampak defensif. Dan saya pikir Zaccheroni akan membentuk struktur bertahan yang bagus untuk permainan mereka. Pokoknya, banyak hal positif dari mereka," ujar Asisten pelatih Australia, Ante Milicic, selepas undian Piala Asia beberapa saat yang lalu.

Namun apa yang menjadi ekspektasi justru bertolak belakang dengan apa yang terjadi. Sejak Zaccheroni mengambil alih kemudi pelatih UEA, timnas UEA justru bergerak mundur dan tampil inkonsisten.

Kekalahan 2-0 dari Kuwait, Jumat (28/12), di pertandingan persahabatan terakhir sebelum perhelatan Piala Asia merangkum tujuh kekalahan yang telah dialami tim yang memiliki julukan Al Sukoor ini, dengan hanya meraih enam kemenangan dan lima hasil imbang. Bahkan dari 18 pertandingan, 11 pertandingan diantaranya mereka lalui tanpa mencetak satu gol pun.

Permasalahan dalam tubuh timnas UEA semakin pelik ketika pemain-pemain yang awalnya diandalkan justru bergelimpangan akibat cedera. Omar “Amoory” Abdulrahman terpaksa tidak diikutsertakan ke Piala Asia karena mengalami cedera ligamen lutut saat bermain untuk Al Hilal. Kondisi lebih baik memang dialami bek Ismail Ahmed, walaupun ia tetap diikutsertakan dalam 23 nama pemain yang dibawa, namun ia diragukan tampil di laga pembuka kontra Bahrain malam nanti. Sementara performa luar biasa di level klub yang ditunjukkan Ali Mabkthout sudah lama tidak dapat ia duplikasi saat berkostum putih Uni Emirat Arab.

“Tim UEA sudah mempersiapkan semuanya dengan mantap. Kami sudah melakukan uji coba di dalam dan luar negara, dan saat kami butuh semua bentuk dukungan agar kami mampu tampil baik di kompetisi kali ini,” ujar Zaccherroni pada konferensi pers jelang melawan Bahrain.

“Memang beberapa pemain mengalami kendala cedera, namun kami dengan tegas menyatakan bahwa itu tidak akan mengganggu performa kami selama kompetisi dan kami berniat membuat awal yang bagus saat melawan Bahrain “imbuhnya.

Pihak penyelenggara Piala Asia dan pemerintah Uni Emirat Arab seperti yang dilaporkan dalam laman AFC sudah siap menjadikan turnamen kali ini sebagai turnamen terbaik dan bersejarah. Turnamen ini akan diikuti 24 negara dan akan dimainkan di 8 stadion dengan beberapa kebijakan dan aturan baru yang akan diterapkan. Ribuan sukarelawan dan petugas keamanan pun sudah siap siaga membantu menyukseskan Piala Asia edisi ke-17 ini.

Tapi jika melihat performa timnas Uni Emirat Arab sejauh ini, apakah pasukan Alberto Zaccheroni benar-benar siap menghadapi persaingan Piala Asia kali ini seperti yang persis Zaccheroni ucapkan di konferensi pers?

Komentar