Ujian Sepakbola Menekan Hasenhttl di Tanah Britania

Cerita

by Fahmin

Fahmin

Playing football with his hands. Writing and playing PlayStation.

Ujian Sepakbola Menekan Hasenhüttl di Tanah Britania

Kekalahan Arsenal dari Southampton bukan hanya tentang terhentinya 22 laga yang dilewati The Gunners tanpa kekalahan, namun juga tentang intensitas yang ditularkan oleh manajer baru dari kubu The Saint, Ralph Hasenhüttl.

Sempat menuai kekalahan di laga pertamanya saat melawat ke Cardiff City, sentuhan magis Ralph Hasenhüttl mulai menuai hasil dengan menjungkalkan anak asuhan Unai Emery di pekan ke 17 Liga Inggris. Laga yang ia sebut sebagai unbelievable moment itu menjadi langkah awal bagi pelatih berkebangsaan Austria ini menapaki jalan sukses di ranah Britania sebagaimana yang telah ia torehkan di Jerman.

Kesuksesan di Jerman

Hasenhüttl memulai karier kepelatihannya di SpVgg Unterhaching pada tahun 2007. Tak banyak prestasi yang ditorehkan, kebersamaan itu berakhir pada Februari 2010 setelah Unterhaching mengalami kendala finansial.

Pada Januari 2011 dia bergabung VfR Aalen saat tim asal kota Baden-Wurttemberg ini terjerembab di posisi 14, situasi yang sama juga ia alami saat ia ditunjuk menjadi pelatih FC Ingolstadt 04 pada Oktober 2013. Keberadaan Ralph langsung memberi dampak signifikan pada kedua tim ini. VfR Aalen mampu promosi dari liga 3 ke Bundesliga 2 di musim 2011-2012. Sementara itu di musim keduanya bersama Ingolstadt menjadi catatan mengesankan dalam karier kepelatihannya: promosi ke Bundesliga dengan keluar sebagai juara Bundesliga 2.

Nama Ralph Hasenhüttl mulai berkibar saat membesut RB Leipzig. Status sebagai klub promosi dengan Ralf Rangnick sebagai direktur olahraga, saat itu RB Leipzig berburu pelatih yang dapat mewakili identitas dan etos klub yang mengedepankan agresivitas, permainan cepat, counter-pressing and sepak bola menyerang atraktif. Dan dengan segala pengalaman dan kapasitasnya, sosok Ralph Hasenhüttl menjadi pilihan yang tepat.

Dipilihnya pelatih berusia 52 tahun terbukti tidak salah, dengan formasi 4-2-2-2 yang menekankan pada pressing, kecepatan, serangan balik, dan intensitas serangan, RB Leipzig menjelma sebagai kuda hitam yang menakutkan.

“Kami adalah sebuah tim yang bermain dengan berbeda. Kami memiliki filosofi yang jelas cara dalam bermain. Kami selalu fight, memberikan segalanya, dan bermain dengan sepakbola menyerang yang atraktif,” ucap Ralph Hasenhüttl pada surat kabar Jerman Die Zei pada November 2017.

Ralph Hasenhüttl dan sistem yang diusungnya merupakan bagian revolusi sepakbola Jerman setelah kegagalan timnas mereka di Piala Eropa 2004. Saat itu Jerman melakukan perubahan signifikan dalam segala aspek. Mulai dari produksi talenta serta edukasi sistem kepelatihan.

Revolusi ini mencuatkan seorang bernama Mirko Slamca yang mengawali cara pandang yang berbeda di Bundesliga. Mirko Slamca mempunyai filosofi sederhana yakni mengalirkan bola dari daerah pertahanan ke area sepertiga lapangan lawan dalam tempo 10 detik. Konsep ini berdasarkan sebuah studi yang mengatakan bahwa pikiran manusia butuh waktu 10 detik untuk mengubah situasi dan membuat kekacauan saat lawan kehilangan bola.

Dari sana muncul sistem yang mengedepankan pressing ketat, intensitas, dikombinasikan dengan serangan balik mematikan. Jürgen Klopp menjadi nama yang lebih dulu dikenal saat berhasil menerapkan sistem ini dengan pakem yang kemudian dikenal dengan Gegenpressing.

Metode Ralph Hasenhüttl tidak jauh berbeda dengan Klopp yang menekankan pressing, kecepatan lari, dan apa yang disebut sistem otomatis, di mana pemain harus punya kemampuan dalam menentukan keputusan yang baik. Tidak mengherankan jika ia juga dijuluki Klopp dari Alpen.

Ada cerita menarik yang ia ungkapkan pada wawancaranya dengan The SetPiece. Selepas meninggalkan posnya sebagai pelatih VfR Aalen, ia menghabiskan bulan Juli dengan bersepeda ke pegunungan Alpen. Dengan teropong yang dibawanya, dia diam-diam mengintip sesi latihan Dortmund dan Moenchengladbach untuk melihat metode pelatihan Klopp dan Lucien Favre.

“Saya pikir kami menghargai hal serupa pada sepakbola, kami ingin bermain dengan tempo tinggi, kami ingin pemain-pemain kami berlari, melakukan tekanan, dan itu merupakan elemen yang membuat pertandingan lebih hidup dan membuat penonton bersemangat, ucapnya pada Bundesliga.com Mei lalu.

Prestasi terbaiknya terjadi pada akhir musim 2016-2017. Ralph mengantarkan RB Lepzieg finis di urutan kedua Bundesliga, satu strip di bawah superioritas tak terbendung Bayern Munchen asuhan Carlo Ancelotti. Sekaligus membawa Die Roten Bullen mentas di Champions League untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.

Perjalanannya sebagai pelatih RB Leipzig harus berakhir setelah tidak tercapainya kesepakatan kedua belah pihak. Sempat diisukan menjadi suksesor Arsene Wenger di Arsenal dan pengganti Jupp Heynckes di Bayern Munchen, Hasenhüttl justru merapat ke Saint Mary Stadium awal Desember 2018.

Hasenhüttl dan Proyek Pemain Muda Southampton

Didatangkannya Ralph Hasenhüttl mengisi posisi pelatih Southampton adalah bagian perubahan yang dikumandangkan pemilik klub, Gao Jiseng, posisi yang sebelumnya gagal diemban oleh Mauricio Pellegrino dan Mark Hughes. Sebelumnya, pebisnis asal Tiongkok ini juga mencopot Les Reed dan Martin Hunter dari jabatan vice-chairman dan direktur teknik klub.

Track record serta pengalamannya menangani tim-tim kecil seperti Ingolstadt and VfR Aalen menjadi modal berharga dan kompatibel dengan profil Southampton yang dikenal fokus dalam pengembangan talenta-talenta muda. Kesuksesan masa lalu Southampton dibangun dengan identitas yang jelas. Fondasi dari identitas ini fokus pada pengembangan pemain, baik dari akademi mereka atau pemain dari klub lain. Hal itulah yang coba mereka lanjutkan bersama Ralph Hasenhüttl.

”Kemampuannya dalam melatih dan mengembangkan talenta sudah terbukti di masa lalu dan dia merupakan pilihan tepat untuk menjadi pelatih baru The Saint,” ucap chairman Southampton, Ralph Krueger.

Mungkin terlalu cepat untuk menilai kinerja Ralph Hasenhüttl di Southampton. Namun dengan kemampuan dan pengalaman dalam diri Hasenhüttl, potensi untuk sukses seperti karier kepelatihannya di Jerman bukan suatu hal yang muskil terjadi.

Komentar