Belum Usainya Penantian PSM Makassar

Cerita

by Budi Windekind

Budi Windekind

Penikmat sepakbola, khususnya Indonesia & Italia.

Belum Usainya Penantian PSM Makassar

Bertempat di Stadion Gelora Bung Karno, laga final kompetisi Liga Indonesia musim 1999/2000 diselenggarakan pada 23 Juli 2000. Sepasang kesebelasan, PSM Makassar dan Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Bontang jadi kubu yang bertarung memperebutkan supremasi tertinggi di kancah sepakbola nasional.

Berlangsung ketat sedari awal, dwigol Kurniawan Dwi Yulianto dan sebiji gol tambahan dari sang supersub, Rachman Usman, sudah cukup bagi PSM untuk menyudahi perlawanan PKT via skor akhir 3-2. Alhasil klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan tersebut menahbiskan diri sebagai kampiun.

Teruntuk Juku Eja sendiri, malam indah di Jakarta tersebut menggenapi titel juara mereka menjadi enam buah (termasuk lima gelar di era Perserikatan) sekaligus menghentikan paceklik trofi yang telah berlangsung selama satu windu. Nama PSM pun jadi semakin harum sebagai klub top di tanah air.

Dengan skuat bertabur bintang lantaran dihuni nama-nama semisal Aji Santoso, Bima Sakti, Carlos de Mello, Hendro Kartiko, Josep Lewono, Kurniawan, Miro Baldo Bento, Ortizan Solossa, Ronny Ririn, Syamsuddin Batola hingga Yuniarto Budi, PSM memang kesebelasan yang pilih tanding.

Tak cuma mentereng di sektor pemain, di balik kemudi, PSM juga memiliki sosok berkualitas. Syamsuddin Umar duduk di kursi pelatih dan Henk Wullems menjabat sebagai direktur teknik. Dua lelaki jenius tersebut dinilai sebagai dalang utama mengapa klub kesayangan The Maczman punya strategi luar biasa di atas lapangan dan sukar ditaklukkan.

Namun ambisi dan mimpi PSM untuk terus mengecup trofi tidak berhenti sampai di situ karena di musim-musim selanjutnya, mereka tetap ingin menguasai sepakbola nasional dengan menjadi yang terbaik.

Sayangnya, usaha Juku Eja buat merengkuh titel juara ketujuhnya di musim 2001 pupus di fase penentuan. Walau tampil superior di babak penyisihan grup Wilayah Timur, fase 8 besar, dan semifinal, hasrat PSM untuk jadi juara patah di tangan Persija Jakarta pada laga final. Bertanding di Stadion Gelora Bung Karno yang dipadati sekitar 60 ribu penonton pada tanggal 7 Oktober 2001, tim Macan Kemayoran sukses menekuk Juku Eja via skor ketat 3-2.

Selepas momen itu, keinginan PSM untuk menjadi yang nomor satu di kancah nasional senantiasa berujung pada kata hampir. Di musim 2003, mereka hanya sanggup mengakhiri musim di tempat kedua, tepat di bawah sang jawara, Persik Kediri. Semusim berselang, giliran Persebaya Surabaya yang menggagalkan asa PSM mengecup titel.

Terasa makin pahit, kekeringan prestasi yang melanda PSM terus berkelindan di tahun-tahun berikutnya. Meski di sejumlah kesempatan mereka hasil menghuni papan atas, Juku Eja juga tak asing dengan keterpurukan sehingga terseok-seok di papan tengah ataupun bawah.

Stagnansi yang dialami PSM bikin The Maczman gerah luar biasa. Sebagai pendukung setia, mereka pun meminta pihak klub untuk lebih serius dalam berbenah. Penantian panjang akan gelar juara mesti disudahi sesegera mungkin.

Akan tetapi, usai bertahun-tahun, keberuntungan masih enggan bersekutut dengan PSM. Kendati tampil meyakinkan dan konsisten berada di papan atas, Juku Eja harus puas duduk di peringkat tiga klasemen akhir Liga 1 2017 kemarin. Sebuah musim kompetisi yang bakal diingat publik sebagai salah satu periode paling kontroversial di kancah sepakbola nasional. Akibatnya, mimpi PSM beroleh gelar juara selama 17 tahun kembali tertunda.

Belajar dari peristiwa tersebut, manajemen PSM yang dikomandoi Munafri Arifuddin ini semakin serius berbenah jelang Liga 1 musim 2018. Selain mempertahankan sosok Robert Rene Alberts di bangku pelatih, sejumlah penggawa pilar macam Ardan Aras, Marc Klok, Rasyid Akbar, Wiljan Pluim, dan Zulham Zamrun juga tetap merumput di Stadion Andi Mattalatta.

Dengan skuat yang nyaris tidak berubah dan racikan strategi Alberts yang apik, performa PSM di musim ini tampak brilian. Mereka amat konsisten bertarung di papan atas. Bahkan menurut statistik yang dihimpun via Transfermarkt, Pluim dan kolega tak pernah sekalipun terlempar dari tujuh besar klasemen di musim ini. Sungguh impresif, bukan?

Bagusnya aksi PSM sepanjang musim ini melambungkan asa buat merengkuh trofi yang sudah lama dinanti. Namun hasil imbang tanpa gol melawan Bhayangkara FC di laga ke-33 pekan lalu (3/12), bikin Juku Eja tergeser ke peringkat kedua dan tak dapat menentukan takdir juaranya sendiri.

Pasalnya, rival utama mereka dalam perebutan gelar juara, Persija, sanggup menumbangkan Bali United di Gianyar (2/12) dengan kedudukan akhir 2-1 sekaligus mengudeta puncak lewat keunggulan satu poin.

Guna memelihara kans juara, PSM mesti menghempaskan PSMS Medan di laga pekan ke-34 di kandang sendiri (9/12). Lebih dari itu, mereka pun berharap kalau dalam partai yang lain, sang rival Persija gagal membungkam Mitra Kutai Kartanegara di Stadion Gelora Bung Karno.

"Kami ingin mengakhiri musim ini dengan kemenangan. Namun untuk titel juara, kami harus melihat hasil pertandingan lain terlebih dahulu. Jika menang, kami bisa memelihara kans itu sampai detik terakhir", tutur Alberts seperti dilansir situsweb resmi PSM.

Apa yang diucapkan sang pelatih juga diamini oleh fullback andalan Juku Eja, Zulkifli Syukur. Sosok kaya pengalaman tersebut mengutarakan kalau PSM ingin mempersembahkan penampilan terbaik di laga pamungkasnya musim ini demi fans yang selalu setia memberi dukungan.

Benar saja, Pluim dan kawan-kawan langsung tancap gas di laga kontra PSMS. Sedari sepak mula, mereka memperlihatkan aksi yang ciamik dan penuh determinasi. Dalam tempo 45 menit pertama, PSM sukses menggelontorkan empat gol sekaligus ke gawang tim Ayam Kinantan. Gol-gol itu sendiri disumbangkan oleh Marc Klok (dua gol) serta Alessandro `Sandro` Ferreira, dan M. Rachmat. Skor 4-0 pun bertahan sampai turun minum.

Pada 45 menit kedua, PSM kembali menambah perbendaharaan golnya setelah Sandro menceploskan sebuah gol paripurna dari luar kotak penalti. PSMS bukannya tak memberi perlawanan tapi usaha mereka baru menemui hasil di menit-menit akhir pertandingan via Reinaldo Lobo. Skor telak 5-1 pun menjadi penutup dari laga ini tapi sayangnya, gelar juara tak berlabuh di kota Makassar sebab di pertandingan lain, Persija berhasil menumpas perlawanan Mitra Kukar dengan skor tipis 2-1.

Walau kemenangan ini tetap disambut gembira dan syukur oleh pemain, pelatih dan suporter PSM, rasa amarah, dan kecewa tetap terselip di dada mereka. Pesta suar yang ada di Stadion Andi Mattalatta pun terasa hambar karena untuk kesekian kali, PSM dipaksa mengubur dalam-dalam mimpi juaranya.

Menghabiskan 18 tahun tanpa trofi memang amat menyesakkan. Sebuah penantian yang begitu menyiksa jiwa dan raga. Padahal, bila diibaratkan manusia, impian PSM sudah pantas beroleh Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Surat Izin Mengemudi (SIM).

Kegagalan PSM di musim ini, pasti bisa ditebus di lain waktu. Namun berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk itu, cuma Tuhan yang tahu. Bisa saja itu terjadi pada musim depan, musim depannya lagi atau malah musim depannya lagi, lagi, dan lagi.

foto: liga-indonesia.id

Komentar