Kulit Hitam Tak Sekadar Cepat dan Kuat

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Kulit Hitam Tak Sekadar Cepat dan Kuat

“Ia akan memberi energi tambahan untuk tim, dan ia merupakan karakter kecil yang jahat.” Dengan kalimat itu legenda Liverpool, Paul Thompson, menyambut kedatangan gelandang anyar Liverpool, Naby Keita.

Kalimat Thompson menyiratkan bahwa Keita merupakan tipe pemain kuat dan cenderung kasar yang akan mempertebal kekuatan lini tengah The Reds. Penilaian ini agaknya berdasar pada rekam jejak Keita semasa membela RB Leipzig musim lalu.

Keita dikenal sebagai pemain kuat dan agresif. Pemain asal Guinea itu mengoleksi tiga kartu merah langsung dan satu kartu merah tidak langsung sepanjang musim 2017/18. Di Bundesliga musim lalu, ia rata-rata melakukan 2,4 tekel dan 1,9 pelanggaran per laga.

Kuat dan agresif adalah dua hal yang barangkali kerap Anda dengar ketika seseorang memaparkan keunggulan pemain kulit hitam seperti Keita. Bleacher Report pernah membuat daftar 15 pemain terkuat di dunia sepakbola pada 2014, dan sebanyak 13 pemain di antaranya merupakan pemain kulit hitam. Selain kekuatan dan agresivitasnya, pemain kulit hitam juga acap kali dilabeli sebagai pemain yang unggul dalam hal kecepatan.

Saat Senegal akan berhadapan dengan Polandia di Piala Dunia 2018 lalu, komentator pertandingan, Slaven Bilic, mengatakan bahwa para pemain Senegal harus mengandalkan kecepatan dan kekuatan mereka untuk meladeni Polandia. Ketika Paul Pogba menjalani debut di Manchester United, Eurosport mendeskripsikan debutnya sebagai “kontes kecepatan dan kekuatan, ambisi dan keberanian”.

Kecepatan Marcus Rashford adalah hal yang disorot ketika berhasil mencetak 2 gol ke gawang LA Galaxy, pada tur pra-musim Manchester United 2017 lalu. Akun Twitter bernama Watch LFC menyebut Sadio Mane sebagai pemain yang cepat, kuat, lihai menggiring bola, dan berkeinginan keras untuk menang saat berhasil membawa Senegal meraih kemenangan atas Polandia.

Orang Kulit Hitam sebagai Manusia dengan Kekuatan Super

Kuat dan cepat adalah aspek kemampuan fisik. Tentang mengapa kedua aspek ini begitu sering diidentikkan dengan para pemain berkulit hitam, tidak lepas dari anggapan kebanyakan yang menilai orang kulit hitam sebagai manusia yang memiliki kekuatan super.

Melansir Slate, Adam Wayzt dari Northwestern University bersama Kelly Marie dan Sophie Trawalter dari University of Virginia, pernah membahas terkait hal ini dalam sebuah laporan berjudul A Superhumanization Bias in Whites Perception of Blacks (2014).

Ketiga akademisi itu melakukan survei terhadap sekelompok pengguna internet yang seluruhnya merupakan orang kulit putih. Dalam melakukan surveinya, setiap peserta diperlihatkan dua wajah manusia yang masing-masing berkulit putih dan hitam. Selanjutnya, melalui enam pertanyaan yang diajukan, peserta dipersilakan untuk menentukan mana di antara kedua wajah tersebut yang dianggap memiliki fisik paling kuat. Hasilnya sebanyak 63,5 persen peserta memilih wajah berkulit hitam sebagai yang paling kuat, yang artinya wajah berkulit putih hanya sebesar 36,5 persen.

Menurut Matthew Hughey, seorang sosiolog dari University of Connecticut, banyaknya prestasi dalam bidang olahraga yang diraih orang kulit hitam pada pergantian abad ke-20 menjadi sebab munculnya anggapan bahwa orang kulit hitam lebih kuat dibandingkan mereka yang berkulit putih. Namun di sisi lain, dari sana lahir pula anggapan bahwa mereka yang berkulit putih lebih kuat dalam hal kognitif dibandingkan mereka yang berkulit hitam.

“Para komentator mulai menekankan superioritas kognitif kulit putih yang kontras dengan orang kulit hitam. Orang kulit hitam diidentikkan sebagai mereka yang liar dan tak terkendali,” ujar Hughey.

Tak Sekadar Modal Kekuatan Fisik

Tidak ada yang buruk dengan label pemain kuat dan cepat. Kedua hal itu merupakan aspek penting yang diperlukan oleh pesepakbola. Namun kita akan rentan terjebak pada stereotip yang keliru jika menganggap seorang pemain—utamanya yang berkulit hitam—hanya memiliki modal kekuatan dan kecepatan saja untuk bermain sepakbola.

Sama seperti para pesepakbola dunia lainnya, mereka juga punya kekuatan kognitif dan teknik yang mumpuni dalam mengolah si kulit bundar.

Di balik tekel-tekel keras dan agresivitas Naby Keita, ia juga merupakan seorang pemain dengan teknik tinggi yang mampu menciptakan gol indah, contohnya saat ia terlebih dahulu melewati tiga orang pemain sebelum mencetak gol ke gawang Hoffenheim.

“Ia selalu bisa berbuat sesuatu dengan bola, bahkan ketika semuanya terlihat tidak mungkin. Gol terakhirnya saat berhadapan dengan Hoffeinheim ia lakukan dengan cara mengelabui tiga orang pemain belakang. Tidak banyak pemain di dunia ini yang bisa melakukan hal seperti itu,” ucap bekas rekan satu tim Keita, Yussuf Poulsen.

Sama halnya dengan para pemain Senegal saat mengalahkan Polandia, Sadio Mane dan kolega tak sekadar mengandalkan kekuatan fisik dan kecepatan saja untuk memenangkan pertandingan. Mereka mengungguli Polandia berkat kreativitas, organisasi pertahanan yang rapi, serta umpan-umpan yang presisi.

Benar bahwa pemain berkulit hitam punya kehebatan dalam hal kekuatan dan kecepatan. Namun tidak hanya itu, mereka juga memiliki kreativitas, daya pikir, dan teknik yang tidak kalah hebatnya dengan para pemain kulit putih dalam bermain sepakbola.

Komentar