Mengingat Aliou Cisse, Mengenang Bruno Metsu

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Mengingat Aliou Cisse, Mengenang Bruno Metsu

Aliou Cisse menciptakan sensasi di Piala Dunia 2018. Sebelum tim yang dilatihnya, Senegal, mengalahkan Polandia pada partai perdana grup H, gaya rambut dreadlocks-nya sudah menjadi pembicaraan. Gayanya yang nyentrik tersebut dibarengi statusnya sebagai pelatih termuda di Piala Dunia 2018.

Cisse saat ini berusia 42 tahun. Tepat 16 tahun lalu, Piala Dunia juga menjadi panggung sensasi baginya. Ia masih menjadi pemain saat itu. Berkat kemampuannya dalam menggalang lini tengah dan memimpin timnas Senegal, Cisse yang menjadi kapten tim menciptakan sejarah dengan menerbangkan Senegal ke Jepang-Korea Selatan sebagai tempat perhelatan Piala Dunia 2002. Itu debut Senegal di Piala Dunia.

Pada Piala Dunia 2002, ia masih berusia 26 tahun. Namun jangan remehkan pengaruhnya untuk tim. Berposisi sebagai gelandang, ia adalah pemain yang bertugas menghentikan serangan lawan. Ketangguhannya di depan duet bek tengah membuat Salif Diao dan Pape Bouba Diop lebih leluasa dalam membantu Henri Camara, Khaliou Fadiga, dan El Hadji Diouf dalam membombardir serangan lawan.

Perancis yang berstatus juara bertahan ditaklukkan pada partai pembuka. Hasil imbang melawan Denmark dan Uruguay membuat mereka lolos ke perdelapan final, menghadapi Swedia. Langkah Senegal baru terhenti di perempat final setelah kalah dengan skor tipis 0-1 dari Turki.

Karier Cisse sebagai pemain sebenarnya tidak terlalu istimewa. Selain penampilan cemerlang di Piala Dunia 2002 (juga di Piala Afrika 2002), kesuksesan enggan menghampirinya. Di klub-klub yang dibelanya, Cisse bukan pilihan utama. Di Birmingham City, yang tertarik merekrutnya usai Piala Dunia 2002, Cisse lebih dikenal sebagai pengoleksi kartu. Kartu merah ia dapatkan pada debutnya menghadapi Arsenal. Sebelum bermasalah dengan sang manajer, Steve Bruce, ia mendapatkan 10 kartu kuning dalam setengah musim.

Kehidupan Cisse memang berubah usai Piala Dunia 2002. Selain membuatnya hijrah ke Inggris (sebelumnya bermain di Paris Saint-Germain), hidupnya mulai diliputi kesedihan. Empat bulan setelah ia bereuforia karena menjalani kehidupan baru dengan menjadi pemain yang lebih dihormati, ia kehilangan 12 anggota keluarganya karena kecelakaan kapal laut.

Cisse mendapati informasi bahwa di antara sekitar 1.900 korban tenggelam kapal Le Joola di laut Afrika Timur terdapat keluarga bahkan kerabatnya sepekan jelang laga melawan West Ham United. Saat itu ia tetap berusaha tenang dan fokus menghadapi pertandingan. Ia bahkan merahasiakan kesedihan dalam hatinya itu pada rekan-rekan setimnya, juga pada manajer.

"Saya berusaha melindungi tim dari kesedihan hati saya. Datang ke latihan tetap dengan senyuman," kata Cisse, dinukil dari Guardian. "Satu minggu itu saya menyimpan kesedihan untuk diri saya sendiri. Kami kemudian menang [melawan West Ham] dan saya pikir itu lebih berarti untuk fans."

Semuanya baru terungkap ketika Cisse meminta izin untuk membela timnas Senegal yang akan bertanding pada partai amal untuk korban kecelakaan kapal Le Joola tersebut melawan Nigeria. Sekembalinya dari laga amal tersebut, saat Birmingham menghadapi Manchester City, barulah pendukung Birmingham memberinya dukungan moral. Mereka mengumpulkan dana untuk diberikan pada keluarga Cisse. Bendera Senegal pun dikibarkan sebelum pertandingan.

"Apa yang mereka lakukan hari ini, tidak ada kata lain yang bisa saya ucapkan selain terima kasih, terima kasih banyak. Orang-orang dekat membantu saya sangat banyak. Begitu juga dengan Birmingham. Para pemain membantu saya dengan tetap berbicara dengan saya. Steve Bruce dan asistennya juga ada untuk saya. Sementara apa yang dilakukan para suporter hari ini membuat saya terenyuh."

Meski begitu, kecelakaan yang menimpa keluarga Cisse berdampak besar pada kehidupannya. Di Senegal ia tak punya lagi banyak saudara dan kerabat. Itu membuatnya trauma. Ia mulai enggan pulang ke Senegal karena jika berada di sana, ia selalu merasa sendiri dan teringat pada keluarganya yang menjadi korban.

Awalnya Bruce memberikan Cisse libur lebih lama untuk memulihkan kembali perasaannya. Tapi ia langsung ingin membela Birmingham karena semakin ia berada di Senegal, semakin bersedihlah hatinya.

"Itu tidak mudah. Tidak mudah ketika kamu kehilangan 12 orang dari keluargamu sendiri. Itu tidak mudah," tukas Cisse. "Saya lantas berkata pada diri saya bahwa saya tidak bisa terus berada di sana [Senegal]. Sendirian. Saya harus berada di sini [Birmingham]. Di sini saya bisa berlari, berlatih, dan bertemu dengan orang-orang. Saya juga bisa lebih sering meninggalkan rumah. Stadion adalah tempat yang paling pasti saya datangi."

"Hidup memang seperti itu. Tapi saya seorang yang percaya, saya yakin ada hikmah di balik ini semua. Seminggu di Senegal sebelum melawan Nigeria sangat sulit bagi saya. Saya tidak bisa tidur. Mungkin saya punya karakter yang membuat saya selalu memikirkan sesuatu secara berlebihan. Di sekitar saya sekarang hanya air mata. Sekitar saya hanya ketidakbahagiaan yang mendalam."

Yang terjadi kemudian membuat Cisse semakin tidak fokus dalam menjalani karier. Ia bermasalah dengan Bruce sampai akhirnya dijual ke Portsmouth. Ia lantas kembali ke Perancis dengan membela Sedan dan pensiun pada 2009 dengan membela kesebelasan divisi dua Perancis, Nimes.

Kariernya di timnas pun tak cemerlang. Ia memutuskan pensiun dari timnas bahkan sejak 2005, tiga tahun setelah perhelatan Piala Dunia 2002, pada usia 29 tahun. Total caps-nya "hanya" 35 kali. Mungkin jika semakin sering ia membela Senegal, akan semakin sering pula ia kembali ke kampung halamannya; yang membuatnya akan terus bertemu dengan kesedihan.

Semua Berkat Bruno Metsu

Tak banyak pelatih yang percaya pada kemampuan bermain Cisse. Bahkan setelah Cisse tampil impresif di Piala Dunia 2002. Namun kehebatan Cisse memang seolah-olah hanya muncul saat bersama timnas Senegal saja di ajang empat tahunan tersebut.

Hal itu ternyata disebabkan oleh kepercayaan tinggi pelatih Senegal saat itu, Bruno Metsu. Metsu sudah mengenal dan mengetahui kapasitas Cisse jauh sebelum Piala Dunia 2002. Metsu adalah pelatih yang membawa Cisse ke Perancis pada 1992 saat ia melatih Lille. Namun keduanya lebih cepat berpisah karena Metsu hanya bertahan di Lille untuk 27 laga saja (hanya menang lima kali).

Metsu bukan pelatih sembarangan. Dalam dua tahunnya menangani Senegal, Metsu sudah dicap sebagai pahlawan. Wajar jika melihat pencapaian Senegal di Piala Dunia 2002. Pencapaian Cisse dan kawan-kawan di Piala Dunia 2002 memang berkat kemampuan manajemen Metsu.

Saat melatih kesebelasan-kesebelasan Perancis memang tidak spesial. Pemecatan demi pemecatan ia alami. Bahkan untuk tim divisi dua sekalipun. Hal itulah yang membuatnya berpetualang ke Afrika. "Saat itu saya merasa muak dengan sepakbola. Tapi kemudian ada pemain Afrika yang menyadarkan dan menghidupkan saya kembali."

Awalnya Metsu menangani timnas Guinea. Namun karena infrastruktur dan manajemen federasi Guinea lebih buruk dari yang ia bayangkan, akhirnya ia memilih tim lain yang lebih baik setahun kemudian. Di saat bersamaan, Senegal baru berpisah dengan pelatih asal Jerman, Peter Schnittger, setelah kalah di babak perempat final Piala Afrika 2000.

Senegal menjadi lebih kuat bersama Metsu. Ia sendiri sempat mendapatkan kritik dari federasi karena memanggil pemain-pemain yang sebelumnya tidak dipanggil karena masalah indisipliner. Tapi bersama Metsu, para pemain tersebut menjelma menjadi pemain kunci. Hal ini karena pelatih kelahiran 28 Januari 1954 tersebut punya pendekatan tersendiri dengan para pemain bermasalah Senegal.

Jelang Piala Dunia 2002, para pemain tersebut sebenarnya membuat onar. Fadiga misalnya, yang ketahuan mencuri perhiasan di sebuah toko emas di Korea Selatan. Begitu juga dengan sejumlah pemain yang membuat keributan di hotel tempat menginap para pemain pada pukul 2 dini hari dengan bergulat (gulat olahraga terpopuler di Senegal bersama sepakbola dan basket) jelang laga melawan Perancis.

Alih-alih menghukum para pemain, Metsu berbicara langsung pada pemain. Ia mendengarkan penjelasan dari yang bersangkutan. Ternyata, menurut Metsu, alasan-alasan yang disampaikan para pemain tersebut cukup masuk akal. Misalnya para pemain yang bergulat, di mana mereka sebenarnya hanya mencoba melepaskan ketegangan jelang partai perdana di Piala Dunia.

"Saya bukan polisi," kata Metsu. "Sepakbola adalah tentang kesenangan dan saya tahu apa yang para pemain saya lakukan saat latihan dan apa yang bisa mereka lakukan saat pertandingan. Saya adalah orang yang sangat percaya tentang nilai seorang manusia. Jika kamu tidak percaya pemainmu maka kamu tidak akan mendapatkan hasil yang kamu inginkan. Ini seperti sedikit hal yang bisa dilakukan oleh seorang manajer pada pemainnya, motivasi yang bisa membuat para pemain memberikan sesuatu untukmu."

Para pemain bengal Senegal pada akhirnya disulap menjadi pemain setangguh singa Teranga, sebagaimana julukan timnas Senegal. Yang dilakukan Metsu memang lebih pendekatan spiritual. Ia tahu pemain-pemainnya tidak lebih berteknik dibanding negara lain. Maka dari itu ia lebih ingin membuat para pemainnya punya kemauan dan ambisi yang kuat dalam bermain sebagai tim.

"Kami bekerja keras sama seperti kesebelasan di seluruh dunia saat latihan. Tapi Anda tidak perlu manajer hebat untuk menyuruh sebuah tim bermain di formasi 4-4-2 atau 4-3-3 atau apapun itu karena semua orang bisa melakukannya. Sebaliknya, menjembatani energi dan kekuatan semua orang untuk tujuan yang sama, itu lain hal. Memotivasi pemain, memberikan mereka kepercayaan diri, membuat mereka kuat secara mental.... sepakbola terkadang bukan hanya tentang taktik dan beberapa orang sering melupakan itu," ujar Metsu pada 2012.

Petuah-petuah Metsu, pada akhirnya, yang membuat Cisse dan rekan-rekan setimnya menjadikan Senegal sebagai kesebelasan kejutan di Piala Dunia 2002. Karena hal itu juga mentalitas kuat dalam diri Senegal menghilang dan serangkaian hasil negatif mulai menghampiri. Metsu meninggalkan Senegal usai Piala Dunia 2002 karena dikritik terlalu mengandalkan 11 pemain utama sehingga kalah dari Turki.

***

Kesedihan dan tak dilatih Metsu membuat Cisse menjalani kehidupan berbeda. Beruntung baginya karena pada sebuah kesempatan ia bertemu dengan Metsu. Pertemuannya kembali dengan pelatih yang dijuluki "penyihir putih" itulah yang memunculkan keinginannya untuk menjadi pelatih.

"Inspirasi melatih muncul setelah saya bertemu dengannya ketika saya sedang liburan," ujar Cisse sebelum Piala Dunia 2018 digelar. "Bruno selalu berada jauh di depan kita. Saya rasa ia selalu mewariskan sesuatu di tim mana pun yang ia latih."

Pertemuan kembali Cisse dengan Metsu terjadi sekitar tahun 2012. Tanpa disangka, setahun kemudian, Metsu dinyatakan meninggal karena kanker usus besar. Penyakitnya itu sebenarnya sudah diketahui setahun sebelumnya. Namun Metsu merasa yakin bisa melawan penyakitnya, sampai kemudian kankernya tersebut menyebar ke organ tubuh lainnya.

Kabar meninggalnya Metsu menjadi salah satu hari kelam bagi masyarakat Senegal. Metsu cukup berarti bagi masyarakat Senegal, apalagi hari di mana Senegal mengalahkan Perancis kini menjadi hari libur nasional [ralat: sehari setelah mengalahkan Perancis, Presiden Senegal meliburkan seluruh aktivitas untuk merayakan kemenangan]. Hubungan Metsu dan Senegal semakin erat karena setelah disambut bak pahlawan, Metsu menikahi perempuan Senegal. Bahkan ia memutuskan untuk menjadi mualaf dan berganti nama menjadi Abdou Karim Metsu.

Metsu pun dimakamkan secara Islam di ibu kota Senegal, Dakar. Orang-orang terpenting Senegal seperti presiden Senegal, Macky Sall, juga para pemain timnas Senegal di Piala Dunia 2002 hadir dalam upacara pemakamannya. Bahkan Cisse, sang kapten sekaligus pelatih timnas Senegal, menjadi orang yang mengantarkan Metsu ke tempat peristirahatan terakhir.

Timnas Senegal saat ini pun menjadi salah satu warisan Metsu. Selain Cisse, ada pemain Senegal asuhan Metsu lainnya di staf kepelatihan yakni Omar Daf, Tony Silva, dan Lamine Diatta.

Cisse sendiri menerapkan cara melatih Metsu pada Senegal. Ia adalah pelatih yang cukup berjasa bagi para pemain Senegal saat ini untuk mencapai kemampuan maksimalnya. Sejumlah pemain Senegal di Piala dunia 2018 adalah pemain-pemainnya saat Cisse menukangi timnas Senegal U-23.

"Kami benar-benar tidak akan pernah berhenti berterimakasih padanya," ujar Cheikhou Kouyate. "Pada 2012 tidak ada yang tahu saya atau Sadio Mane. Tapi ia mendatangi saya di Belgia dan kemudian menemui Sadio di Metz. Ia sangat dekat dengan pemain. Ia bisa menemukan kalimat yang tepat untuk memotivasi kami."

Pemain-pemain muda sangat dipercaya oleh Cisse. Di skuat Senegal saat ini, hanya ada empat pemain yang berusia di atas 30 tahun. Bahkan ia memercayakan pos bek kanan pada bek berusia 19 tahun, Moussa Wague, yang bermain untuk kesebelasan papan bawah Belgia, Eupen.

Cisse pun sama seperti Metsu, pernah dikritik oleh federasi karena keputusan-keputusannya, salah satunya adalah terlalu memercayai pemain muda. Tapi Cisse bergeming sampai akhirnya keputusannya terbukti baik untuk Senegal. Setelah absen pada tiga edisi Piala Dunia, Senegal kembali tampil memamerkan kehebatannya.

"Ini generasi emas," kata Cisse. "Apa yang sedang kami ubah adalah pola pikir. Ini bukan tentang bermain operan atau teknik-teknik lain. Ini untuk meningkatkan level permainan seluruh sepakbola Afrika. Itu tujuan kami."

Cisse berada di jalur yang tepat. Senegal tampil luar biasa saat menghadapi Polandia. Bahkan kemenangan Senegal atas Polandia menjadikan Senegal satu-satunya negara Afrika yang meraih kemenangan. Kemenangan yang tentunya menjaga martabat sepakbola Afrika di ajang Piala Dunia 2018 ini.


Beberapa saat setelah pemakaman Metsu, Senegal meluncurkan beberapa film dokumenter tentang perjalanan timnas Senegal di Piala Dunia 2002 untuk mengenang jasa-jasanya. Salah satu cuplikannya bisa dilihat pada video di bawah ini. Terlihat bagaimana Metsu menyiapkan pemainnya, melatih pemainnya, hingga membuat masyarakat Senegal berbahagia atas kemenangan Perancis.

foto: gettyimages.com

Komentar