Perempuan di Stadion, Revolusi Besar di Arab Saudi

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Perempuan di Stadion, Revolusi Besar di Arab Saudi

Sebuah pemandangan unik mungkin akan tampak di stadion-stadion Arab Saudi dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini selaras dengan izin yang diberikan oleh pihak kerajaan Arab Saudi soal diperbolehkannya perempuan-perempuan Arab Saudi untuk mengunjungi stadion, tentunya dengan pakaian yang serba tertutup.

Per 2018 kelak, ada sebuah kebijakan baru yang akan diterapkan oleh pihak Kerajaan Arab Saudi, melalui General Sport Authority (badan yang menaungi soal keolahragaan di Arab Saudi). Kebijakan tersebut adalah mengizinkan perempuan untuk hadir dan menonton di tiga stadion sepakbola di tiga kota besar di Arab Saudi. Tiga stadion tersebut adalah Stadion King Fahd di Riyadh, Stadion King Abdullah Sport City di Jeddah, serta Stadion Pangeran Mohammad bin Fahd di Dammam.

Ketiga stadion tersebut adalah stadion-stadion yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi penonton pria saja. Namun seiring dengan kebijakan revolusioner yang dilakukan oleh putra mahkota Kerajaan Arab Saudi, Mohammed bin Salman, perempuan pun mulai diizinkan untuk ikut hadir di dalam stadion.

Kebijakan diperbolehkannya perempuan masuk ke stadion ini merupakan perkembangan dari kebijakan yang sudah diberlakukan oleh pihak Kerajaan Arab Saudi pada September 2017 silam. Kebijakan tersebut adalah mengizinkan perempuan untuk mengemudi di jalanan Arab Saudi.

"Kami sedang memulai persiapan untuk mengubah tiga stadion di kota besar di Arab Saudi, yakni Jeddah, Riyadh, dan Dammam agar menjadi stadion yang ramah untuk keluarga. Untuk kebijakannya sendiri, akan kami mulai pada 2018 mendatang," ujar General Sports Authority dalam cuitan mereka di akun Twitter resmi mereka.

Dua hal yang terjadi dalam kurun waktu yang tidak terlalu berjauhan ini, merupakan revolusi besar tersendiri yang terjadi di negara Arab Saudi, negara yang sejak dulu dikenal sebagai negara yang konservatif.

Revolusi besar di Arab, motivasi tinggi Pangeran Mohammed bin Salman

Arab Saudi, seperti halnya negara-negara di jazirah Arab kebanyakan, adalah negara yang cukup konservatif. Kekonservatifan dari negara Arab Saudi ini, dilansir dari The Guardian, merupakan buah dari revolusi yang terjadi di Iran pada 1979, yang berusaha mengembalikan ajaran Islam secara menyeluruh. Setelah itu, negara-negara di jazirah Arab lain, termasuk Arab Saudi mulai mengikuti apa yang dilakukan Iran. Mereka mulai menerapkan ajaran Islam secara menyeluruh ini di negara mereka masing-masing.

Namun, pengamalan ajaran Islam ini ternyata berubah ke arah yang lebih ekstrim. Salah satu yang cukup disoroti oleh masyarakat dunia adalah soal kebebasan kaum perempuan. Di negara-negara Arab, perempuan tidak memiliki kebebasan yang cukup besar. Apa yang mereka lakukan, ke manapun mereka pergi, semua harus dengan izin suami/ayah mereka. Mereka juga diwajibkan memakai cadar, dengan maksud untuk menutup aurat mereka.

Sekilas hal ini memang tampak baik. Sesuai dengan ajaran Islam, ini dilakukan agar kehormatan dari perempuan itu sendiri dapat dijaga. Hal ini juga dilakukan agar perempuan tidak mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari kaum laik-laki. Tapi hal ini kerap disalahartikan, dan Islam kerap dianggap sebagai agama yang konservatif. Pangeran Mohammed bin Salman pun memahami isu ini dan mencoba untuk mengubah pandangan konservatif tersebut.

"Apa yang sudah terjadi selama 30 tahun ke belakang ini bukanlah mencerminkan tentang Arab Saudi, bukan juga Timur Tengah (Asia Barat). Setelah revolusi Iran pada 1979, negara-negara lain mulai meniru apa yang dilakukan Iran ini, salah satunya adalah Arab Saudi. Sekarang kami harus mengubah pandangan konservatif ini," ujar Pangeran Salman.

"Kami akan segera menuju negara Islam yang lebih moderat, negara yang lebih toleran dan terbuka terhadap perbedaan dan agama lain. Kami tidak ingin menghabiskan waktu kami dalam 30 tahun ke depan melawan para ekstrimis di negara kami sendiri. Kami akan segera melenyapkan para ekstrimis tersebut," tambahnya.

Perempuan Arab Saudi menyetir. Foto: The Guardian

Untuk mengatasi pemikiran konservatif tersebut, langkah-langkah kecil mulai dilakukan oleh Pangeran Mohammed bin Salman. Hal ini semata-mata dilakukan agar menunjukkan ke mata dunia bahwa Arab Saudi bukanlah negara yang kelewat konservatif. Negara Arab Saudi adalah negara yang terbuka dan ramah untuk siapa saja, bukan hanya bagi Muslim saja.

Salah dua langkah yang sudah dilakukan adalah dengan mengizinkan perempuan untuk menyetir dan hadir di stadion. Meski disitat dari CNN bahwa hal ini bisa dilakukan asal sang perempuan mendapatkan restu dari ayah/suami mereka, hal ini jelas adalah sebuah revolusi besar dan sebuah perkembangan tersendiri bagi Arab Saudi. Apalagi Arab Saudi juga sedang berusaha untuk ikut dalam percaturan ekonomi dunia (Arab Saudi adalah anggota G20).

"Ini semua adalah tentang memberikan generasi baru di Arab Saudi tentang sebuah kehidupan sosial yang baru. Harus ada pilihan lain bagi para perempuan di sini. Mereka harus bisa menyetir kendaraan mereka sendiri untuk pergi ke tempat kerja. Jika ini tidak terjadi, maka ini akan menjadi kesulitan tersendiri. Semua tahu itu, terutama mereka yang tinggal di daerah pinggiran kota. Mereka akan belajar," ujar Pangeran Salman.

Waspada kaum konservatif

Kebijakan yang kelak akan diterapkan oleh Pangeran Mohammed bin Salman ini akan membuka peluang yang cukup besar bagi perempuan di Arab Saudi. Hadirnya perempuan di stadion, akan menjadi sebuah awal dari Arab Saudi yang lebih terbuka dan tidak konservatif. Namun Pangeran Salman pun harus waspada akan hal tersebut.

Berkembang sejak 1970an silam, kaum-kaum konservatif di Arab Saudi mulai berkembang sedemikian rupa dan menjadi kaum yang berpengaruh di Arab Saudi. Dengan kebijakan baru ini, penentangan dari kaum konservatif diprediksi akan muncul, apalagi lazimnya mereka adalah kaum ekstrimis yang tak jarang akan berbuat hal-hal yang ekstrim juga.

"Meskipun pernyataan dan kebijakan dari Pangeran Salman ini cukup revolusioner, pangeran juga tidak boleh lupa bahwa dominasi kaum konservatif di Arab Saudi sudah meluas sejak 1970 silam. Hal ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan semudah membalikkan telapak tangan. Kaum-kaum ultrakonservatif, ekstrimis, dan radikal akan memberikan ancaman tersendiri jika kebijakan ini diberlakukan." ujar analis dari Eurasia Grup.

Kalau memang sampai tetap diberlakukan, maka akan banyak potensi yang muncul di Arab Saudi. Yang terparah, bisa saja perang saudara di Arab Saudi, seperti halnya yang terjadi di Suriah, akan terjadi di masa depan karena ada pertentangan pandangan antara pihak Kerajaan Arab Saudi dan kaum konservatif. Jika ini sampai terjadi, Arab Saudi akan menderita kerugian yang cukup besar.

***

Meski memang mengandung banyak risiko, namun langkah revolusioner yang dilakukan olen Pangeran Salman ini patut untuk diapresiasi. Mengizinkan perempuan masuk ke stadion dan mengemudi di jalan, adalah sesuatu yang cukup besar dan bisa berdampak pula terhadap kehidupan masyarakat Arab Saudi nantinya.

Lebih jauh, setidaknya dengan langkah yang dilakukan oleh Pangeran Mohammed bin Salman ini menunjukkan bahwa negara Arab bukanlah negara tertutup. Hal ini juga bisa menjadi penegasan dari tujuan Islam sendiri sebagai agama yang terbuka dan toleran terhadap agama-agama lain.

foto: @nycjim

Komentar