Merdeka Seperti Seorang Zidane

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Merdeka Seperti Seorang Zidane

Menjadi manusia yang merdeka, terutama secara pola pikir, adalah hal yang bisa dibilang susah-susah gampang. Namun, Zinedine Zidane bisa melakukan hal tersebut. Hasilnya? Masa-masanya menjadi pelatih Madrid pun dipenuhi oleh gelimangan trofi.

Pada pertengahan musim 2015/2016, tak ada yang menyangka sekaligus menduga bahwa sosok pengganti Rafael Benitez yang dianggap gagal di Madrid, adalah sosok pelatih yang bernama Zinedine Zidane. Sebagai pemain, tak ada yang meragukan kapasitasnya sebagai peraih trofi Liga Champions bersama Real Madrid, sekaligus pernah sukses bersama Juventus di Serie-A Italia.

Namun, sebagai pelatih, orang-orang masih bertanya-tanya perihal kapasitas Zidane ini. Pengalaman melatihnya hanya berkutat di tim Real Madrid B ketika itu. Di level yang lebih tinggi, ia hanya pernah menjadi asisten pelatih Carlo Ancelotti dan menjadi bagian dari La Decima Madrid di musim 2013/2014 silam. Selain itu, ia sama sekali tidak punya pengalaman melatih di level kompetisi yang tinggi.

Meski begitu, hal itu bukanlah halangan tersendiri bagi Zidane untuk menapaki kariernya sebagai pelatih kepala, sekaligus juga bukan halangan baginya menapaki karier untuk menjadi manusia yang merdeka.

Zidane, pelatih yang merdeka secara pola pikir

Memulai tapak karier sebagai pelatih, Zidane mengaku bahwa ia memiliki sosok pelatih yang ia nilai memberikan banyak pelajaran baginya. Ia adalah sosok Carlo Ancelotti. Dari pelatih asal Italia tersebut, Zidane mengaku banyak belajar dan mendapatkan ilmu-ilmu kepelatihan yang membantunya menjalani karier sekaligus pekerjaan sebagai pelatih kepala Real Madrid sekarang ini.

"Sebagai pelatih, saya belajar banyak darinya. Tapi asal Anda tahu, saya tidak pergi untuk memberi tahu Anda apa yang saya pelajari dari dia. Saya sangat banyak belajar darinya," ujar Zidane saat akan menghadapi Carlo Ancelotti dalam babak delapan besar Liga Champions musim 2017/2018.

Carlo Ancelotti, sosok yang diidolakan sekaligus menjadi mentor bagi Zidane

Meski mengaku memiliki mentor sekaligus sosok yang ia idolakan sebagai pelatih, namun hal tersebut tidak mengekang Zidane dalam sebuah filosofi sepakbola tertentu. Seperti halnya Pep Guardiola yang begitu mendewakan possession football, hasil belajar yang ia dapat dari mentornya bernama Johan Cruyff semasa ia menjadi pemain, Zidane tidak terpaku pada sebuah metode ataupun filosofi tertentu.

Caranya menerapkan taktik, skema permainan, serta susunan pemain di dalam tim yang ia asuh sekarang, mencerminkan bahwa ia tidak terpatok pada sebuah pola yang sama. Ketika dirasa ada yang tidak jalan dalam permainan timnya, ia bisa merespon hal tersebut dengan baik. Hal ini berhasil ia lakukan dalam laga final Liga Champions 2017/2018 melawan Juventus. Perubahan kecil yang ia lakukan langsung bikin Madrid mampu menang dalam laga yang dihelat di Stadion Millennium, Cardiff, tersebut.

Contoh lain bisa dilihat ketika Gareth Bale, salah satu bagian dari trio BBC, ketika ia cedera. Zidane yang merdeka secara pikiran ini pun dapat menemukan solusi, dengan memainkan formasi dasar berlian 4-3-1-2 dan menempatkan Isco sebagai gelandang serang di belakang dua penyerang, Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema.

Hasilnya pun cukup ciamik. Isco mampu mengeluarkan potensi terbaiknya dan menjadi tulang punggung permainan Real Madrid. Kegemilangan Isco ini, sekaligus menjadi cermin bahwa Zidane sebagai pelatih tidak terpatok pada sebuah pola, dan bisa menemukan cara lain ketika satu cara gagal. Merdeka secara pikir, membantu pahlawan timnas Prancis di Piala Dunia 1998 tersebut berkembang menjadi pelatih jempolan.

Merdeka dalam soal mengatur pemain

Menangani tim sebesar Real Madrid, salah satu pekerjaan rumah yang harus Anda lakukan adalah menangani ego pemain-pemain bintang yang ada di dalamnya. Hal inilah yang gagal dilakukan oleh beberapa pelatih macam Manuel Pellegrini ataupun Rafael Benitez, yang membuat mereka gagal mengangkat performa Real Madrid.

Zidane, dengan aura bintang yang ia miliki sekaligus kemampuannya dalam mendinginkan ruang ganti (hal yang juga ia pelajari dari Carlo Ancelotti), berhasil mengatur ego para pemain bintang dalam skuatnya. Dengan kemerdekaan mengatur pemain ini, selain mendapatkan kepercayaan dari para pemain, ia juga menjadi bebas dalam meramu taktik dan susunan pemain di dalam timnya.

Bersatunya skuat Madrid sekarang, tak lepas dari peran Zidane sebagai pelatih

Dalam masa asuhan Zidane, hampir semua pemain mendapatkan jam terbang yang cukup banyak. Ini tak lepas dari efek merdeka pola pikir Zidane, yang menganggap bahwa semua pemain di Madrid punya kemampuan yang sama untuk membawa Los Blancos tampil baik dalam sebuah pertandingan. Rata-rata pemain merasakan tampil di atas 20 pertandingan pada musim 2016/2017 silam. Semua mendapatkan jatah yang sama.

Tak heran, Zidane pun terbilang jarang punya masalah dengan pemain selama masa kepelatihannya di Madrid. Ia bebas dan merdeka mengatur pemain mana saja yang akan main, tanpa ada kekangan dari pemain bintang ataupun pihak-pihak tertentu.

***

Tak terasa sudah satu setengah musim (sejak pertengahan musim 2015/2016) Zidane menangani Real Madrid. Lewat kemerdekaannya dalam mengatur tim, ia berhasil mempersembahkan tujuh trofi dalam masa satu setengah musim kepelatihannya di Santiago Bernabeu. Capaian yang membuatnya bahkan ditawari oleh Florentino Perez untuk tetap tinggal di Madrid sampai tua kelak. Ia berhasil membuat dirinya menjadi manusia yang merdeka di Madrid.

Namun, sebagai manusia yang merdeka dan tidak terikat, Zidane punya pilihan untuk meninggalkan Madrid suatu saat nanti. Ada masanya ia ingin berkembang sebagai pelatih dan mencoba tantangan baru di tempat lain. Kemungkinannya untuk itu akan selalu ada, karena kemungkinan Zidane untuk berkembang sebagai pelatih pun masih terbuka lebar. Apalagi ia punya pola pikir yang merdeka, yang membuatnya bisa menerima banyak ilmu dari siapapun yang ia temui kelak sepanjang karier kepelatihannya.

Mari menjadi merdeka seperti Zidane!

Komentar