Andri Syahputra, Kekhawatiran yang Harus Segera Dipikirkan Indonesia

Cerita

by Muhammad Firza Richsan 115331

Muhammad Firza Richsan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Andri Syahputra, Kekhawatiran yang Harus Segera Dipikirkan Indonesia

Duel big match tersaji di pekan ke-18 Liga Qatar dengan mempertemukan Al-Sadd dan Al-Gharafa, Jumat (27/1/2017). Dalam laga yang dilangsungkan di Jassim Bin Hamad Stadium ini, kedua tim menargetkan kemenangan untuk dapat mendongkrak posisinya masing-masing. Menjelang laga, Al-Sadd masih bercokol di peringkat kedua, dengan 40 poin, di bawah Lekhwiya yang mengoleksi 43 poin. Sedangkan Al-Gharafa masih berada di posisi kelima dengan 30 poin.

Al-Sadd pun memang lebih diunggulkan dalam pertandingan ini, terlebih mereka berstatus sebagai tuan rumah. Selain itu, kapten mereka, Xavi Hernandez, telah meminta dukungan kepada para suporter Al-Sadd agar pergi berbondong-bondong ke stadion yang berkapasitas 13 ribu tempat duduk tersebut. Dan benar saja, tim berjuluk The Wolf ini mampu melibas Al-Gharafa dengan skor telak 3-0. Xavi pun turut serta menyumbangkan satu golnya di laga tersebut.

Akan tetapi, ada satu hal yang menarik di pertandingan ini. Kejadian itu terjadi pada menit ke-68. Ketika itu, pemain dengan nomor punggung 41 bernama Andri Syahputra masuk menggantikan Muneer Abdulghanai sebagai gelandang serang Al-Gharafa. Seorang pemain Indonesia menjalani debutnya di Qatar!

Andri sendiri merupakan pemain kelahiran Lhokseumawe, Aceh, 17 tahun silam. Nama Andri mungkin masih cukup asing di telinga para pecinta sepakbola tanah air. Hal itu sebetulnya wajar saja, mengingat Andri memang belum pernah sama sekali membela kesebelasan di Indonesia, bahkan timnas junior Indonesia sekalipun.

Perjalanan Sepakbola Seorang Andri Syahputra

Andri Syahputra terbang dari Indonesia ke Qatar ketika dirinya berusia lima tahun. Kala itu, Andri harus meninggalkan bumi pertiwi lantaran harus ikut dengan sang ayah yang bekerja di bidang gas dan minyak di salah satu perusahaan yang bertempat di negara yang dikenal sebagai pengekspor minyak bumi terbesar di dunia tersebut.

Di tahun 2005, atau tepatnya ketika Andri berusia enam tahun, dirinya bergabung dengan Al-Khor Community Club (AKC). AKC merupakan sebuah lembaga pendidikan asal Qatar yang memfasilitasi berbagai bakat luar biasa, seperti dari bidang pendidikan dan olahraga.

Di AKC, Andri dibina oleh Muhammad Yunus Bani. Yunus Bani memang ditugaskan untuk menangani anak-anak dari Indonesia yang tergabung di AKC. Lewat tangan dingin pelatih asal Langsa, Aceh tersebut nama-nama seperti Farri Agri, Khuwailid Mustafa, dan juga Andri Syahputra mampu tampil mengesankan dan sempat membuat heboh publik Qatar.

Setelah menghabiskan waktu di AKC, Andri kemudian ditarik oleh Al-Khor Sport Club. Di Al-Khor SC, permainan Andri semakin menjanjikan. Hal itulah yang membuat salah satu kesebelasan elit di Qatar, Al-Gharafa, memboyongnya satu tahun berselang. Dalam urusan memboyong Andri, Al-Gharafa bahkan harus saling sikut terlebih dahulu dengan raksasa Liga Qatar bernama Al-Sadd.

Pada Februari 2009, Andri berhasil masuk ke Aspire Football Academy, namun status Andri masih tetap sebagai pemain Al-Gharafa. Aspire sendiri merupakan sebuah akademi yang mengumpulkan para pemain bertalenta dari berbagai kesebelasan yang ada di Qatar. Bersama Aspire, Andri telah mengikuti berbagai macam turnamen junior yang diselenggarakan di negara-negara sepakbola seperti Italia, Inggris, Spanyol, Jerman, juga di negara-negara Eropa lainnya.

Oleh Aspire pula lah Andri sering dikirimkan ke berbagai klub di Eropa untuk mengikuti trial. Villarreal adalah salah satu klub yang pernah disinggahi oleh Andri dalam rangka program trial-nya. Penampilan yang ditunjukkan oleh Andri kala mengikuti serangkaian tes pun sebetulnya sempat membuat klub berjuluk The Yellow Submarines tersebut tertarik untuk merekrutnya.

Namun hal itu menjadi urung terjadi lantaran posisi Andri ketika itu telah dimiliki oleh Al-Gharafa. Hal ini pun diungkapkan langsung oleh ayah Andri, Agus Sudarmanto. ÔÇťAndri cerita waktu latihan bersama Villarreal, pelatih-pelatih di sana bilang tertarik ajak dia gabung. Tapi, kan Andri punya sudah klub, dan prosesnya tidak mudah begitu saja pindah ke Eropa," ungkap Agus dalam wawancara kepada Liputan6.com.

Keinginan Villarreal untuk merekrut pemain kelahiran 29 Juni 1999 itu pun memang cukup wajar. Selain fasih bermain di berbagai posisi, seperti gelandang serang, sayap kanan/kiri, dan penyerang, Andri pun dikenal sebagai pemain yang memiliki insting mencetak gol yang begitu tinggi.

Selain sukses meraih gelar sebagai pencetak gol terbanyak selama tiga musim berturut-turut bersama Al-Gharafa dalam ajang Liga Qatar U-17, Andri juga berhasil meraih gelar yang sama pada 2013, 2014, dan 2015. Pada 2014, ia bahkan sukses menorehkan 51 gol dan 100 asis di sepanjang kompetisi. Sementara di musim 2015/20116 lalu, Andri didaulat sebagai kapten tim Al-Gharafa U-17 berkat kepiawannya dalam memimpin rekan-rekannya.

Debut di Liga Utama dengan Membawa Bendera Qatar, Bukan Indonesia

Dengan ditunjuknya Luis Milla oleh PSSI sebagai pelatih baru timnas Indonesia, masyarakat otomatis langsung berharap Milla dapat mengeluarkan potensi-potensi yang dimiliki oleh para pemain muda di tanah air. Pelatih asal Spanyol ini memang dikenal sebagai pelatih yang cukup piawai dalam mengorbitkan bibit-bibit muda ke permukaan.

Menjelmanya para pemain seperti David De Gea, Javi Martinez, Juan Mata, dan Cesar Azpilicueta pun tak lepas dari tangan dingin seorang Luis Milla.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Komentar