Niklas Sule, Paket Komplit Seorang Bek Modern

Cerita

by Muhammad Firza Richsan

Muhammad Firza Richsan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Niklas Sule, Paket Komplit Seorang Bek Modern

Bursa transfer memang baru akan kembali dibuka kurang dari dua minggu ke depan. Namun, bukan berarti klub-klub besar Eropa berdiam diri dan tidak melakukan ancang-ancang. Nama-nama bidikan pun telah dipersiapkan untuk didatangkan. Karena menambah kekuatan untuk mengarungi putaran kedua liga adalah keharusan.

Beberapa nama besar saat ini santer diberitakan akan segera berpindah klub, dan salah satunya adalah bek muda potensial asal Jerman yang bernama Niklas Sule. Chelsea, Liverpool, dan Bayern Muenchen dikabarkan saling sikut mendapatkan tanda tangannya. Chelsea pun disebut-sebut sebagai yang terdepan untuk mengamankan jasa Sule, dan telah menyiapkan dana sebesar 30 juta paun guna memboyong dirinya ke Stamford Brigde.

Kemampuan Sule yang bisa memerankan role ball-playing defender mungkin menjadi alasan bagi Antonio Conte untuk menarik dirinya, belum lagi Sule cukup fasih memainkan skema tiga bek yang menjadi andalan Conte. Karena sama seperti Chelsea, Hoffenheim pun menggunakan strategi back three di Bundesliga musim ini.

Liverpool pun bukan tidak mungkin untuk mendaratkan dirinya. Apalagi hubungan kedua klub dalam saga transfer cukup baik setelah negosiasi kepindahan Roberto Firmino di musim lalu berjalan mulus. Kemudian faktor keberadaan Jurgen Klopp yang sama-sama berasal dari Jerman, yang mungkin juga akan menjadi bahan pertimbangan Sule untuk hijrah ke Anfield.

Niklas Sule lahir dan dibesarkan di kota Frankfurt, Jerman. Sejak kecil Sule memang memiliki ketertarikan terhadap sepakbola. Pada umur 6 tahun, sang ayah mendaftarkan Sule ke klub lokal yang bernama Rot-WeiƟ Walldorf.

Bersama Walldorf, Sule berkembang baik secara teknik dan secara fisik. Potensi yang dimilikinya pun tidak dapat ditandingi dan diimbangi oleh rekan-rekan sebayanya. Dirinya bahkan berhasil mencetak lebih dari 100 gol bagi Walldorf. Sang ayah pun menjadi khawatir andai Sule tidak memiliki persaingan yang dapat membentuk kualitas dan mental bertanding untuk dirinya.

Setelah lima tahun belajar sepakbola di Walldorf, sang ayah memutuskan untuk memasukan Sule ke akademi Eintracht Frankfurt pada tahun 2006. Bersama Frankfurt permainan Sule semakin menonjol. Akan tetapi, Sule hanya bermain selama tiga tahun bersama klub kota kelahirannya itu. Sule pun pindah ke SV Damrstadt 98 pada tahun 2009.

Baru bermain enam bulan bersama Darmstadt, bakat Sule mulai terendus klub-klub besar Jerman seperti Wolfsburg dan Werder Bremen. Namun, justru TSG 1899 Hoffenheim-lah yang berhasil membujuk Sule, yang ketika itu telah berusia 14 tahun, untuk kembali pindah. Akan tetapi, di awal kedatangannya, Hoffenheim U-15 sedang dilanda krisis pemain belakang. Sule yang memiliki postur tubuh tinggi pun akhirnya mau tidak mau mengalami pergesaran posisi, dari seorang penyerang menjadi seorang pemain belakang.

Tetapi Sule tidak mengeluh, dirinya pun yakin dapat memainkan peran barunya ini dengan sama baiknya. Keputusan Sule untuk tidak mengeluh nyatanya tepat. Belum genap satu tahun bermain sebagai seorang bek tengah untuk Die Kraichgauer, Sule langsung mendapatkan panggilan pertamanya dari timnas Jerman U-16.

Semenjak pemanggilan pertamanya oleh timnas junior Jerman, secara berkala, Sule selalu menjadi andalan dan langganan tim Jerman, mulai dari U-17 hingga U-21. Dirinya pun dipilih menjadi wakil kapten ketika Jerman berlaga di ajang Piala Eropa U-17 pada tahun 2012 silam. Sayang, Jerman harus puas menjadi runner-up karena di partai puncak dikalahkan oleh Belanda melalui babak adu penalti.

Berkat penampilan apik yang diperlihatkan di tim junior Hoffenheim dan timnas Jerman, dirinya pun dipromosikan ke tim utama Hoffenheim pada tahun 2013. Ketika itu Sule masih berusia 17 tahun, dan menjadikan dirinya sebagai pemain termuda yang pernah menembus skuad utama Hoffenheim sepanjang sejarah. Debutnya bersama tim senior terjadi pada tanggal 11 Mei 2013, ketika itu Hoffenheim kalah 4-1 melawan Hamburg SV.

Pada musim 2013/2014, Sule mematenkan posisi bek tengah inti Hoffenheim menjadi miliknya. Gol pertama Sule untuk Hoffenheim terjadi pada pekan ke-11 Bundesliga, dan gawang Manuel Neuer-lah yang menjadi korbannya. Sule pun diganjar kontrak baru oleh Hoffenheim hingga tahun 2017 berkat penampilan cemerlangnya.

Tahun 2016 mungkin menjadi tahun yang paling menggembirakan bagi Sule. Karena di tahun ini ia mendapatkan penampilan perdananya bersama timnas senior Jerman ketika Der Panzer menghadapi Finlandia pada bulan Agustus lalu. Hal ini pun menjadikan dirinya sebagai pemain pertama dari akademi Hoffenheim yang mampu bermain untuk tim senior Jerman.

Pemanggilan Sule ke timnas senior tidak terlepas dari penampilan apiknya yang diperlihatkan di ajang Olimpiade Rio 2016 bersama timnas U-23 Jerman. Bersama Max Meyer dan Bender bersaudara (Lars & Sven), Sule menjadi figur penting Jerman di selama turnamen berlangsung. Jerman pun berhasil dibawanya ke babak final. Namun sayang, harapan Sule untuk meraih medali emas bersama Jerman harus pupus di tangan Neymar yang berhasilkan mengantarkan Brasil menjadi juara.

Dengan postur tubuhnya yang menjulang tinggi besar, banyak yang menyebut jika Sule merupakan penerus Per Mertesacker dan Holger Badstuber. Namun, jika kita melihat dari gaya bermainnya, Sule sedikit lebih unggul dari keduanya. Walau bobot badannya mencapai 97 kilogram, tetapi Sule dibekali kecepatan yang cukup mumpuni untuk ukuran pemain belakang.

Tingginya yang mencapai 195cm pun sangat memudahkan dirinya untuk menjadi dominan di udara, baik dalam bertahan, maupun dalam skenario penyerangan. Belum lagi Sule cukup pandai dalam membaca permainan. Akan tetapi, Sule pun masih memiliki kekurangan. Sebagai pemain muda, Sule sering kali kesulitan untuk mengontrol diri, dan tak jarang dirinya melancarkan tekel-tekel keras di area pertahanan Hoffenheim.

Salah satunya di ajang DFB Pokal menghadapi Wolfsburg musim lalu, takel konyol dirinya berbuah penalti dan menghadirkan kekalahan bagi timnya. Tetapi Sule berjiwa besar, dalam wawancaranya dengan salah satu media Jerman, Jerman Bild, Sule mengakui kesalahannya itu. Sule pun mengungkapkan jika dirinya akan selalu belajar dari pengalaman, dan akan selalu meningkatkan kualitas timing dan takelnya agar tidak terjadi lagi kesalahan serupa.

Sule pun membuktikan ucapannya. Pada musim ini permainannya semakin dewasa, mentalnya pun semakin terasah, sehingga tiap kali bermain, Sule selalu menunjukan kepercayaan diri yang tinggi dalam meredam gempuran para penyerang lawan.

Pada akhirnya, akan menjadi sungguh beruntung bagi tim yang mampu mendatangkan Sule. Dengan postur tubuh tinggi besar, kecepatan yang mumpuni, kemampuan takel dan dribel yang ciamik, juga kepandaian dalam membaca permainan, adalah paket komplit bek modern yang selalu menjadi idaman para pelatih tim mana pun. Belum lagi mental bertanding di level tinggi yang telah terbentuk sejak umur 17 tahun, yang dapat memastikan jika dirinya tidak perlu berlama-lama untuk beradaptasi bersama tim barunya nanti.

Komentar