Rencana Nani Memulai Masa Lalu Lagi di Valencia

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Rencana Nani Memulai Masa Lalu Lagi di Valencia

Seorang rekan saya yang akan mengikuti program SM3T, atau program mengajar di daerah terpencil di Indonesia yang dikhususkan untuk lulusan universitas berbasis pendidikan, pernah berkata bahwa selama satu tahun ke depan, ditempatkan di manapun nantinya, ia akan memulai sebuah masa lalu yang baru.

Saat itu, saya terdiam untuk sementara, merenungi maksud dari pernyataan teman saya, sampai akhirnya ia meneruskan perkataannya sebagai bentuk penjelasan:

"Tidak ada yang namanya masa depan. Kalau kita berpindah ke tempat yang baru, itu berarti kita sudah siap untuk memulai masa lalu kembali, bukan untuk menyongsong hal baru," ujarnya saat kami sedang ngobrol bersama di sebuah warung kopi di daerah Bandung.

Menarik sekali memerhatikan ucapan dari teman saya ini. Seketika, saya teringat kisah seorang pemain yang pernah bersinar bersama Manchester United, namun kemudian semua berubah dan akhirnya terdampar di sebuah klub Spanyol bernama Valencia. Pemain itu bernama lengkap Luis Carlos Almeida da Cunha. Dunia lebih mengenalnya sebagai: Luis Nani.

Di Atas, Kemudian Jatuh Sejatuh-Jatuhnya

Bergabung dengan Manchester United pada 2007, Luis Nani disebut-sebut sebagai salah satu wonderkid yang kelak akan menjadi pemain bintang. Bukan tanpa alasan orang-orang melabelinya dengan sebutan tersebut. Olah bolanya yang baik, disertai dengan kemampuan dribble yang mumpuni, membuatnya kerap disandingkan dengan rekannya dari Portugal yang juga berbakat: Cristiano Ronaldo.

Namun, lebih dari itu, ia juga adalah bagian dari skuat United yang begitu menguasai Inggris pada periode 2007 - 2013. Bukan hanya di daratan Inggris, ia juga adalah bagian penting skuat United yang mampu meraih gelar Liga Champions Eropa 2007/2008. Tercatat, dari kurun waktu 2007 sampai 2013, total empat gelar Liga Primer Inggris dan satu gelar trofi Liga Champions Eropa, adalah pencapaian seorang Luis Nani bersama The Red Devils.

"Saat itu mungkin saja akan menjadi saat-saat terbaik dalam karier sepakbola saya. Namun, tiba-tiba saja semua berubah menjadi buruk, begitu buruk," ujar Nani dalam wawancaranya dengan The Guardian.

Maksud dari Nani menjadi lebih buruk adalah, tepat pada 2013, Sir Alex Ferguson, orang yang menempa dan membesarkan Nani, memutuskan untuk pensiun. Bersamaan dengan itu, Nani pun menerima perpanjangan kontrak dan datanglah The Chosen One David Moyes. Tapi, alih-alih sering memainkan Nani sebagai pilihan utama, ia justru jarang menurunkan Nani.

"Ketika anda menandatangani kontrak baru, mungkin anda mengira orang-orang akan mendukung anda. Namun, yang terjadi kepada saya justru sebaliknya. Lalu, saya pun mulai stress, ditambah lagi dengan cedera yang datang. Hal itu membuat saya semakin jatuh," tambahnya.

Lalu, semua menjadi semakin buruk bagi Nani ketika Louis van Gaal datang ke United. Ia bahkan tidak mampu menjamin posisi pemain kelahiran Praia ini di skuat United, dengan mengatakan kepada Nani bahwa ia hanya menjadi pilihan kedua dalam skuat van Gaal.

"Ia memberitahu saya bahwa jika saya mau berjuang untuk mendapatkan posisi inti dalam klub, maka itu akan baik bagi saya. Tapi, ia juga tidak bisa menjamin posisi saya di dalam tim, karena ia berkata hanya akan menjadikan saya pilihan kedua. Maka, saya pun mengambil sikap, saya hanya ingin bermain dalam tim yang dapat menjadikan saya sebagai pemain inti. Saya pun pindah," ujar Nani.

Pemain timnas Portugal ini pun akhirnya mengakhiri kisahnya di Manchester United, setelah sempat mengalami masa peminjaman di Sporting Lisbon sejak 2014 sampai 2015, dan menyeberang ke daratan Turki, membela Fenerbahce. Ia pun meninggalkan masa lalu yang kelam bersama United, dan memulai masa lalu yang baru di Turki.

Dari Fenerbahce, Menjadi Juara Eropa

Satu musim di Fenerbahce adalah musim yang benar-benar menyenangkan bagi Nani. Di tanah Turki, ia seperti kembali menemukan kesenangan bermain. Tampil dalam 47 pertandingan bersama Fenerbahce, ia berhasil melesakkan 12 gol dan mencetak 13 asis. Sungguh jumlah yang cukup lumayan bagi ukuran pemain yang "dibuang secara halus" oleh Manchester United.

Namun, bukan itu saja yang menjadi pencapaian Nani yang luar biasa. Tercatat pada Juli 2016, ia menjadi bagian dari timnas Portugal yang menjadi juara Piala Eropa 2016. Yang lebih hebatnya lagi, pada saat babak final, ia harus menjadi kapten setelah kapten tim sekaligus bintang Portugal, Cristiano Ronaldo, mengalami cedera.

"Saya merasa aneh sekaligus kesal saat Cristiano dikeluarkan. Ia adalah kapten sekaligus pemain terbaik kami. Namun, saya pun sadar bahwa kami harus segera bangkit dan meneruskan pertandingan, menyemangati rekan-rekan saya agar mereka lebih percaya diri, karena sejatinya itulah yang kapten tim lakukan," kenangnya.

"Pada akhirnya, semua pun berubah menjadi indah buat kami. Kami menang dan itu menjadi sejarah bagi timnas Portugal. Kami adalah juara Eropa. Saya adalah juara Eropa. Ini adalah momen sekali seumur hidup, dan juga hal terbaik yang bisa saya persembahkan untuk negara," ujar Nani.

Statusnya sebagai juara Eropa ini pun membuatnya mencatatkan masa lalu yang indah. Bukan saja di Turki, tempat ia bangkit, tapi juga di Prancis. Kelak, jika ia kembali ke Prancis, ia akan mengenang tempat tersebut sebagai saksi bisu dirinya, yang pernah terbuang di Manchester, menjadi penguasa Eropa.

***

Sekarang, Nani sudah tidak lagi di Manchester, Turki, ataupun Prancis. Ia berada di Spanyol, tepatnya di Valencia. Per 5 Juli 2016, Kelelawar Hitam merekrutnya dengan mahar 8.5 juta euro. Ia akan bermain di La Liga, dengan kick-off yang akan dimulai pada Senin (22/8) malam untuk Valencia melawan Las Palmas.

Setelah mencatatkan masa lalu di Manchester, Turki, dan Prancis, sekarang, Nani siap untuk kembali menorehkan masa lalu di Spanyol. Dan, tentu saja Nani ingin mencatatkan masa lalu yang indah kembali, seperti halnya di Turki dan Prancis.

"Sepanjang hidup saya, saya adalah seorang petarung dengan masa kecil yang begitu menyedihkan. Itulah alasan kenapa saya di sini sekarang, bermain sepakbola, karena saya akan terus bertarung sampai akhir, dan mencatatkan sebuah kenangan manis," tutupnya.

foto: flickr.com

Komentar