Independiente del Valle yang Merusak Hikayat Copa Libertadores 2016

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Independiente del Valle yang Merusak Hikayat Copa Libertadores 2016

Pada 2012, eks pemain Barcelona, Deco, berkata bahwa ia rela dua gelar Liga Champions yang sudah ia dapatkan di FC Porto dan di Barcelona, ditukar dengan satu trofi yang menurutnya begitu istimewa: Copa Libertadores.

“Itu (Copa Libertadores) adalah kompetisi besar. Hal yang membuatnya besar adalah Anda memiliki kesempatan untuk bertemu pemain-pemain istimewa di Amerika Selatan. Selain itu, kompetisi ini juga memungkinkan Anda untuk bermain di stadion yang memiliki sejarah panjang di sepakbola, seperti La Bombanera (kandang Boca Juniors),” ucapnya saat itu.

Ucapan Deco membuktikan bahwa Copa Libertadores tidak bisa dianggap lebih rendah ketimbang Liga Champions. Ya, banyak pihak yang membandingkan kompetisi untuk negara-negara di Amerika Selatan ini dengan Liga Champions karena level keduanya sebagai kompetisi regional utama di masing-masing regional. Pernyataan Deco sudah cukup membuat Copa Libertadores jadi “lawan” seimbang untuk Liga Champions.

Pada 2016, Copa Libertadores memasuki edisi ke-57, dan beberapa hari lagi, kompetisi ini bakal menggelar partai puncak, yang dilakukan dalam format kandang dan tandang. Uniknya, partai final tahun ini mempertemukan dua kesebelasan yang menjungkalkan beberapa kesebelasan tenar sebelumnya, yakni Independiente del Valle dan Atletico Nacional.

Independiente yang merupakan wakil dari Ekuador, lolos ke babak final setelah mengalahkan jagoan Argentina, Boca Juniors, dengan agregat 5-3. Sementara itu, Atletico berhasil melaju ke partai puncak setelah mengalahkan kesebelasan paling sukses Brasil di level internasional, Sao Paulo.

Meski demikian, keberhasilan kedua kesebelasan lolos ke partai final melalui proses yang berbeda. Atletico berhasil lolos setelah mengubah skuat utamanya dengan mendatangkan 13 pemain untuk kompetisi ini, sementara Independiente lolos dengan hanya nama-nama yang hampir sama sejak 2013.

Tak heran, banyak yang bilang jika final Copa Libertadores musim ini menggambarkan hikayat “Sueño Libertador” dan bentuk perlawanannya. Sebelumnya, Copa Libertadores dikenal dengan pameo “Sueño Libertador yang jika di-Bahasa-Indonesia-kan bermakna akan melakukan segala upaya untuk mendapatkan gelar ini. Dan menariknya, hal tersebut terjadi di final tahun ini.

Frasa “Sueno Libertador” begitu terkenal dalam penyelenggaraan Copa America. Idiom tersebut digunakan untuk menjelaskan semua hal yang bakal dilakukan setiap kesebelasan untuk memenangi kompetisi ini. Mulai dari cara bersih, seperti mendatangkan pemain-pemain dengan harga mahal hingga cara kotor, seperti penyuapan. Meski demikian Tim Vickery dari ESPNFC menjelaskan, cara pertama lebih banyak digunakan oleh kesebelasan besar untuk mendapatkan gelar di Copa Libertadores.

Frasa tersebut mulai lekat dengan Copa Libertadores pada musim 1998. Berstatus juara Campeonato Brasileiro di musim 1997 setelah mengalahkan Palmeiras, Vasco da Gama langsung menargetkan juara Copa Libertadores di musim berikutnya. Target mereka pun diikuti dengan pengeluaran besar-besaran yang dilakukan oleh manajemen klub. Total sembilan juta ruro mereka keluarkan untuk memperbaiki skuatnya. Salah satu pembelian yang mengejutkan adalah mendatangkan Luizao dari raksasa Spanyol, Deportivo La Coruna. Keputusan ini pun membuahkan gelar Copa Libertadores di akhir musim.

Berbeda dengan Vasco da Gama, Independiente del Valle tidak melakukan pembelian besar-besaran untuk menyambut kompetisi ini. Independiente, yang berdiri pada 1958, bahkan tercatat tidak memiliki sejarah untuk mendatangkan pemain dengan harga mahal.

Untuk menyambut Copa Libertadores musim ini, Los Negriazules bahkan hanya mendatangkan satu pemain, yakni Jonathan Gonzalez. Meski demikian, Gonzalez tidak datang dengan biaya yang mahal karena ia didatangkan hanya dengan status peminjaman dari kesebelasan Meksiko, Club Leon FC.

Jangankan mendatangkan pemain, menambah kapasitas stadion Municipal Ruminahui miliknya untuk partai final saja, Independiente tidak bisa. Upaya Independiente untuk “merusak” hikayat Sueno Libertador semakin terlihat usai tiga kesebelasan yang pernah menjuarai Copa Libertadores mereka singkirkan. Oleh karena itu, tak mengherankan BBC menyebut mereka seperti Leicester City-nya Amerika Latin.

Meski demikian, Independiente enggan disebut sebagai Leicester City-nya Amerika Latin. Pelatih mereka, Pablo Repetto, mengakui bahwa kesebelasannya sudah memiliki rencana jangka panjang untuk mencapai target, yang ia sebut dengan “Future Champion of Ecuadorian Soccer” atau juara sepakbola Ekuador di masa depan, yang sudah dimulai pada 2006 oleh presiden kehormatan klub saat ini, Michel Deller.

Rencana tersebut dibuat oleh Deller dengan tujuan untuk menolak bahwa Copa Libertadores hanya merupakan kompetisi untuk kesebelasan yang bermodal besar. Seperti dikutip dari Elcomercio, Deller mengatakan bahwa sepakbola tetap merupakan bisnis. Meskipun demikian, Jose Teran (pendiri kesebelasan ini) berucap bahwa, "Uang tidak melulu harus dikeluarkan jika Anda ingin memenangi pertandingan.”

Langkah Deller untuk merusak hikayat “Sueno Libertador” tidak hanya ia buktikan dari belanja pemain. Di soal lain, yakni di kompetisi, ia membuktikan bahwa kesebelasan dengan banyak pemain bintang tidak selalu menjadi pemenang. Hasil laga melawan Colo Colo, River Plate, dan Boca Juniors, pun bisa menjadi contohnya.

Jika mereka nantinya berhasil menjuarai Copa Libertadores, tentu hal ini akan sangat istimewa karena dicapai lewat perjuangan panjang yang juga begitu berat. Jose Teran yang kini sudah tiada, juga mungkin akan tersenyum di surga jika melihat kesebelasan yang ia dirikan bersama kawan dan beberapa keluarganya berhasil membawa gelar yang terakhir kali pulang ke Ekuador pada 2008.

Komentar