Generasi Emas itu Sekarang Tersemat di Wales

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Generasi Emas itu Sekarang Tersemat di Wales

Pada 2014, generasi emas bernama Belgia muncul. Dikatakan sebuah generasi emas karena negara ini berisikan bintang-bintang yang bertebaran membela klub-klub di kompetisi level atas Eropa. Ketika itu, sekumpulan bakat-bakat ini disatukan dalam sebuah timnas oleh Marc Wilmots, dan dibawa menuju putaran final Piala Dunia 2014 Brasil untuk bertarung di level internasional.

Meski tidak meraih hasil yang cukup memuaskan dalam ajang Piala Dunia (takluk pada babak delapan besar oleh Argentina yang kemudian menjadi finalis), namun generasi emas ini mendapat pengakuan dunia, sekaligus dianggap sebagai pahlawan bagi negara Belgia sendiri karena mereka berhasil mengantarkan Belgia melaju cukup jauh dalam Piala Dunia 2014.

Sekarang, generasi emas Belgia ini pun singgah dalam ajang Piala Eropa 2016. Namun, ternyata generasi emas itu bukan milik Belgia saja. Seperti kejadian di dalam komik Captain Tsubasa ataupun manga-manga sepakbola Jepang lainnya, yaitu ketika kapten timnas Jerman dalam manga Captain Tsubasa, Karl-Heinz Schneider, menjelaskan bahwa generasi emas itu tidak terpatok dalam satu negara saja, melainkan merata dan tersebar di seluruh dunia.

Pun dengan yang terjadi sekarang dalam ajang Piala Eropa 2016, di negara lain selain Belgia, ada juga generasi emas yang sekarang perlahan menunjukkan taringnya dalam kancah persepakbolaan Eropa. Siapakah negara itu?

Negara ini berjuluk The Dragons, dan dalam pertandingan terakhir grup B Piala Eropa 2016, baru saja meraih kemenangan yang cukup meyakinkan 3-0 atas tim Beruang Merah, Rusia. Negara itu bernama Wales, yang juga merupakan bagian dari Britania Raya bersama Inggris dan Skotlandia.

Usai pertandingan melawan Rusia yang mereka menangkan, sekaligus memastikan Wales lolos dari grup B sebagai juara grup, masyarakat Wales pun diliputi oleh kebahagiaan, pun dengan staf pelatih timnas Wales. Bagaimana tidak? Terakhir kali mereka mencicipi turnamen besar adalah sekitar 58 tahun lalu, dalam ajang Piala Dunia 1958.

“Ketika mengalahkan Rusia, kami sudah tidak merasa sebagai sebuah negara lagi, melainkan sebuah benua besar. Kami sangat bahagia,” ujar sang pelatih, Chris Coleman.

Selayak generasi pada Piala Dunia 1958 yang disebut-sebut sebagai generasi emas Wales, yang berhasil melaju ke babak perempat final sebelum dikalahkan oleh Brasil 1-0 lewat gol Pele (saat itu berusia 17 tahun), generasi Wales yang sekarang menghuni timnas pun patut mendapatkan sematan generasi emas. Nama-nama yang cukup besar menghuni tim asuhan Chris Coleman kali ini.

Salah satu dari generasi emas timnas Wales, Gareth Bale. (foto: commons.wikimedia.org)

Dari semua nama yang sekarang berada dalam skuat timnas Wales, beberapa nama di antaranya membela klub-klub besar Eropa. Ada nama Joe Allen yang membela Liverpool, Aaron Ramsey yang membela Arsenal, dan tentunya adalah seorang Gareth Bale, bintang Real Madrid, di sana. Meski memang tidak semerata generasi emas Belgia yang para pemainnya tersebar di kompetisi top Eropa, namun tetap saja generasi emas Wales kali ini berhasil menarik perhatian.

Berisikan pemain-pemain yang kebanyakan bermain di Inggris (Liga Primer Inggris dan Divisi Championship, kecuali Bale yang main di Real Madrid), maka Wales pun sedikitnya mengadopsi gaya bermain Inggris yang cepat, aliran bola yang terus mengalir dengan umpan-umpan pendek, dan mengandalkan kecepatan pemain.

Tipe permainan yang sama juga ditunjukkan oleh Republik Irlandia dan Irlandia Utara, yang para pemainnya juga banyak merumput di Inggris. Permainan cepat yang didominasi oleh umpan pendek dan pemain yang banyak berlari menjadi ciri khas mereka.

Namun, yang membedakan generasi emas Wales ini adalah, selain tentunya kehadiran Gareth Bale yang begitu mencolok, adalah kolektivitas yang cukup baik di antara mereka. Bale memang sangat diandalkan, dan hal ini tidak ditampik sama sekali oleh seorang Chris Coleman sendiri.

“Jika Anda memiliki seorang pemain dalam tim yang bermain untuk Real Madrid dan bermain gemilang di sana, apakah Anda akan keberatan kalau tim Anda disebut one-man team? Kalau saya, saya tidak akan keberatan,” ujarnya.

Bahkan, dalam pertandingan melawan Inggris, terlihat Wales mengalami kesulitan dalam menyerang ketika seorang Gareth Bale dimatikan. Namun, generasi emas Wales ini mampu belajar dari kekalahan Inggris tersebut dan bermain lebih kolektif ketika melawan Rusia.

Meski aliran bola memang banyak mengalir ke arah Bale, juga kepada Ramsey, namun dalam beberapa kesempatan Bale kerap menempatkan dirinya sebagai pemancing pemain bertahan lawan untuk membuat pemain lain bergerak bebas. Hal ini terlihat dalam kejadian gol pertama dan kedua Wales.

Gol pertama, Bale membiarkan perhatian pemain mengarah kepadanya. Saat semua pemain bertahan Rusia mengira bola dari Joe Allen akan mengalir kepada dirinya, ia membiarkan bola itu lewat dan Ramsey yang ada di sebelah kiri sudah siap menerima bola tersebut. Hasilnya? Gol.

Gol kedua, Bale membiarkan pemain Rusia mengerubungi dirinya. Ketika para pemain Rusia mendatanginya, ia langsung melepaskan bola ke sisi kiri, yang pada akhirnya bola tersebut diterima oleh Neil Taylor, untuk kemudian dikonversi menjadi gol kedua Wales.

Terlihat Coleman, dan juga para pemain Wales belajar bahwa ada manfaat lain yang bisa diambil dari kebintangan seorang Gareth Bale, yaitu dengan menjadikannya sebagai bait, pemancing, untuk menjadikan permainan Wales lebih kolektif dan tidak tergantung kepada satu pemain. Hal ini menjadikan Wales berhasil maju ke babak selanjutnya. Malah, mungkin di luar ekspektasi mereka, menjadi juara grup.

Sekarang, tantangan besar menanti di depan mereka. Fase knock out akan menyajikan ujian yang lebih menantang bagi generasi emas Wales 2016. Tim-tim dengan tradisi yang baik di Eropa pun sudah masuk ke babak ini. Apakah mereka akan menyamai prestasi Wales 1958 atau tidak, semua akan segera terjawab dalam beberapa hari ke depan.

foto: commons.wikimedia.org

ed: fva

Komentar