Kehidupan Kedua untuk ?enol Güne?

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Kehidupan Kedua untuk Şenol Güneş

Wasit Saad Mane asal Kuwait meniupkan peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Seluruh pendukung kesebelasan negara Korea Selatan terdiam padahal di awal pertandingan mereka begitu bergemuruh memberikan dukungan dan sorakan. Hasil pertandingan perebutan tempat ketiga di Piala Dunia yang digelar di rumah mereka sendiri tidak pernah diduga sebelumnya.

Bertempat di Daegu World Cup Stadium, Korea Selatan yang kala itu ditangani oleh Guus Hiddink harus menyerah dan mengakui ketangguhan Turki. Tentu masih segar dalam ingatan bagaimana kala itu penyerang Turki, Hakan Sukur, mencetak gol cepat ke gawang Korea Selatan yang dikawal Lee Woon-Jae. Ilhan Mansiz kemudian menjadi pahlawan dengan dua gol yang ia lesakkan. Korea Selatan hanya mampu membalas dua gol melalui Lee Eul-Young dan Song Chong-Gug. Turki mengakhiri pertandingan dengan skor 3-2.

Kubu Turki menjadi pihak yang bersorak sorai setelah pertandingan berakhir. Meraih medali perunggu di turnamen sepakbola terbesar di planet bumi tersebut adalah pencapaian terbaik bagi Turki. Apalagi, itu adalah kali pertama Turki bermain di Piala Dunia setelah terakhir kali bermain pada 1954.

Pencapaian ini menjadi sangat manis karena perjalanan berat yang mereka arungi sepanjang turnamen. Bahkan untuk lolos ke Piala Dunia kali ini saja mereka harus melalui fase play-off; sebuah pencapaian yang sangat luar biasa. Tak ayal pemerintah negara tersebut langsung mengganjar seluruh elemen skuat Turki di Piala Dunia 2002 dengan medali penghargaan Devlet Üstün Hizmet Madalyası yang biasanya diberikan kepada mereka yang memiliki sumbangsih besar kepada negara.

Senol Gunes Dilempar ke udara oleh para pemainnya pasca kesuksesan di Piala Dunia 2002

Kesuksesan tersebut juga milik pelatih timnas Turki kala itu, Senol Gunes. Ia yang 18 bulan sebelumnya baru ditunjuk sebagai pelatih Ay-Yidizlilar, julukan Timnas Turki, membuktikan sekaligus membungkam para pengkritiknya bahwa keputusan federasi sepakbola Turki menunjuk dirinya sebagai pelatih timnas bukanlah sesuatu yang salah. Sebelumnya, banyak pihak yang menganggap bahwa Gunes bukanlah orang yang tepat untuk menangani Turki. Banyak pihak yang menganggap bahwa Etugrul Saglam atau pelatih gaek, Fatih Terim, adalah sosok yang lebih sesuai.

Semua terasa indah karena di pengujung tahun Gunes kemudian dianugerahi gelar pelatih terbaik Eropa oleh UEFA. Dengan raihan mentereng sepanjang tahun, Gunes kemudian mendapatkan tawaran melatih di berbagai klub besar dari Spanyol, Yunani, dan Brasil. Namun semua tawaran tersebut ia tolak dan memilih untuk bertahan sebagai pelatih Timnas Turki. Karena itu publik negara bekas Imperium Usmani tersebut semakin mencintai Gunes.

Pahlawan Negara Ditendang Dari Tim Nasional

Sebelum terkenal sebagai pelatih, Gunes merupakan sosok populer ketika masih aktif bermain. Ia adalah anggota Trabzonspor Esfanesi atau generasi emas klub Trabzonspor yang menjadi kekuatan superior di sepakbola Turki pada 1980-an. Ia juga sempat menjadi kapten timnas Turki dengan catatan 31 pertandingan.

Setelah pencapaian luar biasa pada 2002, dan Gunes yang kemudian memilih tetap bertahan untuk menangani Turki, semua terasa berjalan sangat indah. Satu tahun kemudian Gunes berhasil membawa Turki meraih medali perunggu di Piala Konfederasi 2003 yang diadakan di Prancis.

Petaka kemudian datang di kualifikasi Piala Eropa 2004. Turki sebenarnya mengawali perjalanan dengan baik mereka berhasil menang atas Slovakia di pertandingan pertama. Namun hasil imbang di pertandingan terakhir melawan Inggris membuat mereka terpaksa menentukan nasib mereka melalui babak play-off.

Celakanya, digadang-gadang akan melaju dengan mulus karena lawan yang mereka hadapi adalah Latvia, Turki justru tersingkir dari negara pecahan Uni Soviet tersebut. Mereka harus mengakui keunggulan Latvia dengan kekalahan agregat 2-3. Karena kegagalan membawa Turki untuk lolos ke Piala Eropa pada edisi tersebut, Gunes kemudian dipecat oleh federasi sepakbola Turki. Sebuah akhir yang tragis bagi seseorang yang membawa Turki meraih kesuksesan bahkan sampai mendapatkan penghargaan dari pemerintah.

Kesempatan Kedua Bersama Besiktas

Setelah kegagalan membawa Turki ke Piala Eropa, karier Gunes memang bisa dibilang menurun drastis. Ia sempat tidak menangani satu tim pun selama dua tahun lebih hingga akhirnya mendapatkan pekerjaan menangani tim asal Korea Selatan, FC Seoul. Setelahnya ia beberapa kali berganti tempat pekerjaan, termasuk tim yang ia bela ketika masih aktif bermain, Trabzonspor.

Semua berubah ketika ia menangani Bursaspor. Ia berhasil membawa kesebelasan tersebut mengakhiri Liga Turki di peringkat keenam. Terlebih Gunes juga sukses membawa Bursaspor ke partai final Piala Turki, namun kemudian skuat asuhan Gunes harus takluk dari Galatasaray yang kemudian keluar sebagai kampiun.

Gunes kemudian mendapatkan tawaran menangani Besiktas yang ditinggal oleh Slaven Bilic. Gunes kemudian melakukan perombakan besar-besaran di kubu kesebelasan berjuluk Black Eagles tersebut. Ia melepas para pemain asing yang sebelumnya bermain di era Bilic. Hanya Atiba Hutchinson Jose Sosa yang kemudian dipertahankan oleh Gunes.

Gunes kemudian mendatangkan beberapa pemain asing baru, mulai dari Dusko Tosic hingga Andreas Beck untuk memperkuat lini belakang. Gunes juga memulangkan Ricardo Quaresma ke Besiktas. Ia meminjam Mario Gomez dari Fiorentina, yang kemudian penyerang asal Jerman ini menjadi transfer terbaik Gunes ketika menangani Besiktas. Gomez yang kesulitan beradaptasi di Italia, dan karier nya seakan menemui jalan buntu justru tampil luar biasa di bawah arahan Gunes. Ia mengakhiri musim sebagai pencetak gol terbanyak Liga Turki dengan 26 gol.

Gunes ketika merayakan keberhasilan menjuarai Liga Turki bersama Besiktas.

Selain membangkitkan kembali insting mencetak gol Mario Gomez, Gunes juga mengembangkan kualitas para pemain muda. Oguzhan Oyzakup semakin berkembang di tangan Gunes. Ia juga membuat penyerang muda Cenk Tosun bisa bersaing diantara para penyerang asing klub-klub lain.

Gelar juara di pengujung kompetisi menjadi hasil manis yang ditorehkan oleh Gunes, padahal ia baru saja ditunjuk sebagai pelatih. Sepakbola kembali mengajarkan kita bahwa selalu ada kesempatan selanjutnya. Dari pelatih yang membawa kesuksesan untuk Tim nasional, kemudian dipecat dan bahkan sempat menganggur selama dua tahun. Kini justru menjadi pelatih tim juara Liga Turki.

ed: fva

Komentar