Dua Warna Berbeda antara Tyne & Wear di Akhir Musim 2015/2016

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Dua Warna Berbeda antara Tyne & Wear di Akhir Musim 2015/2016

Dalam sebuah cerita, baik itu cerita pendek maupun sebuah novel, selalu ada dua sisi yang berbeda. Ada sisi hitam dan ada sisi putih. Ada yang baik dan jahat. Ada yang menang dan ada yang kalah. Entah kenapa selalu seperti itu, dan jika Anda melihat cerita-cerita untuk anak yang begitu sederhana, di dalamnya selalu ada pihak yang kalah dan menang.

Hal seperti itu pula yang terjadi di tanah Inggris pada akhir musim 2015/2016. Sebuah kisah yang melibatkan daerah Sunderland dengan daerah Newcastle upon Tyne, yang berada di distrik Tyne and Wear, sebelah utara negara Inggris, yang nasibnya bertolak belakang pada musim ini.

***

Sunderland memastikan diri lolos dari jerat degradasi setelah pada pertandingan Kamis (12/5) dini hari berhasil mengalahkan Everton dengan skor 3-0. Lamine Kone menjadi aktor kemenangan tim berjersey merah strip putih tersebut dengan memborong dua gol, ditambah dengan satu gol dari Patrick van Aanholt.

Hasil ini sudah cukup untuk membuat The Black Cats lolos dari ancaman jerat degradasi. Kebahagiaan pun menyeruak di seantero Stadium of Light. Para suporter berteriak begitu kencang. Mereka berjingkrak-jingkrak kegirangan, merayakan selamatnya tim mereka dari jurang degradasi pada akhir musim 2015/2016.

Nama manajer mereka, Sam Allardyce, diagungkan sebagai juru selamat, sekaligus malaikat bagi daerah Sunderland. Kesebelasan yang awalnya begitu terseok-seok pada awal sampai pertengahan musim, tiba-tiba saja begitu menanjak penampilannya, dan mampu meraih banyak kemenangan. Salah satunya adalah kemenangan dramatis atas Chelsea 3-2.

Namun, bukan itu saja yang membuat mereka bahagia. Ada lagi satu hal lain yang membuat para suporter Sunderland berbahagia, dan mungkin kebahagiaan ini lebih membuat mereka bahagia dibandingkan hanya sekedar lolos dari jerat degradasi; Newcastle United dipastikan terdegradasi musim depan.

Inilah hal lain yang membuat para suporter berbahagia. Soundtrack "Are you watching Newcastle?" menggema di Stadium of Lights. Mereka merayakan kejatuhan musuh bebuyutan mereka, The Toon Army, ke Divisi Championship musim depan, sama halnya ketika pendukung Celtic merayakan kebangkrutan Rangers pada 2012 di Skotlandia.

Saat sisi Sunderland berbahagia, sisi Newcastle upon Tyne memancarkan warna yang berbeda. Kabar-kabar tentang lolosnya Sunderland dari jurang degradasi membuat mereka bersedih. Malah mungkin, di antara para masyarakat Newcastle upon Tyne, ada yang tidak sanggup untuk menonton TV dan membaca koran pada 12 Mei 2016.

Ketika seantero Stadium of Light berbahagia, St. James Park memancarkan warna yang begitu hitam. Malah, warna hitam ini terlihat seperti menutupi strip putih yang ada di jersey Newcastle. Sisa satu pertandingan tidak cukup bagi mereka untuk mengejar Sunderland di atas mereka dengan beda empat poin.

"Malam ini kami begitu merasa sedih. Kami terdegradasi ke Divisi Championship musim depan. Meskipun begitu, kami ingin mengucapkan terima kasih atas dukungan suporter sepanjang musim ini, meski musim ini Newcastle tidak meraih prestasi yang membanggakan," ujar managing director Newcastle, Lee Charnley seperti dilansir Guardian.

"Ucapan terima kasih juga kami ucapkan kepada Rafa (Rafael Benitez). Meski mungkin hasil akhirnya tidak sesuai dengan harapan dari seorang Rafa. Sekarang, kami akan merencanakan sesuatu untuk masa depan, dan saya akan lebih sering lagi berkomunikasi dengan suporter mengenai keinginan mereka terhadap klub," tambahnya.

Untuk akhir musim 2015/2016, seperti halnya dalam serial FTV yang kerap kali berakhir bahagia, Sunderland menjadi pihak yang mendapatkan kebahagiaan karena tetap masih bisa berpacaran (a.k.a. berkompetisi) dengan Liga Primer Inggris. Sedangkan Newcastle, menjadi pesakitan dan harus rela Sunderland mereguk kebahagiaan. Newcastle mengalah.

Entah kenapa, langit Tyne and Wear memancarkan dua warna berbeda kala itu. Di daerah Sunderland, warnanya merah menyala. Sedangkan di bagian Newcastle upon Tyne, warnanya begitu hitam.

***

Cerita musim 2015/2016 pun berakhir. Sah-sah saja Sunderland menjadi pihak yang berbahagia, dan menjadi sebuah kewajaran bagi Newcastle menjadi pihak yang bersedih. Cerita memang begitu adanya, selalu ada dua sisi yang kontras, yang merasakan kebahagiaan dan merasakan kesedihan. Itulah yang terjadi di Tyne and Wear akhir musim 2015/2016.

Namun, Newcastle pun tak perlu berkecil hati. Toh, pada akhirnya, seperti yang Chelsea rasakan, dunia pasti akan berputar. Newcastle hanya perlu berbenah diri, sembari menanti gilirannya untuk berbahagia di lain waktu, entah kapan itu akan terjadi.

Komentar