Ben Arfa, Si Buncit yang Kini Banyak Dilirik

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Ben Arfa, Si Buncit yang Kini Banyak Dilirik

Banyak pria yang menginginkan tubuhnya rata dan dihiasi oleh tonjolan-tonjolan otot yang memesona. Namun, konon katanya, pria gemuk lebih disukai perempuan karena selain menggemaskan dan enak dipeluk, juga tak pernah rewel soal makanan.

Menjadi seseorang yang gemuk tentu penuh tantangan. Malah, kelebihan berat bisa memupus karier seorang atlet—kecuali atlet sumo tentunya. Hal ini yang dirasakan oleh Hatem Ben Arfa dua tahun silam. Perutnya yang maju sekian sentimeter diprotes manajer klub, Alan Pardew. Manajer yang kini membesut Crystal Palace tersebut merasa kalah Ben Arfa tak disiplin dalam menjaga bentuk tubuhnya.

Baca juga: Hikayat Ben Arfa

Hubungan yang kurang bagus antara Pardew dengan Ben Arfa berlanjut dengan tidak diturutkannya sang pemain dalam tur Newcastle ke Selandia Baru. Newcastle pun menjatuhi denda 1580 pounds kepadanya.

Soal ini, agaknya berat badan-lah yang memang jadi persoalan. Pasalnya, Ben Arfa sudah ada di Newcastle sejak 27 Agustus 2010, termasuk saat Pardew pindah ke St James Park pada 6 Desember 2010. Sejak itu pula, Ben Arfa selalu masuk tim utama. Bahkan, pada masa Pardew pula ia dipermanenkan dari status pinjamannya dari Marseille.

Karena perut yang buncit ditambah dengan persoalan pribadi, Pardew pun menyingkirkan Ben Arfa dari tim. Keputusan tersebut menjadi sorotan karena bisa merugikan Newcastle hampir tujuh juta pounds: lima juta pounds dari nilai transfer dan dua juta pounds dari gaji yang telah dibayarkan.

Ben Arfa kemudian dipinjamkan ke Hull City. Ia pun terdengar meledak-ledak dalam emosi saat mengetahui sejumlah penggemar Hull menyambutnya di bandara meski saat itu tengah malam.

“Sambutannya sungguh hebat. Aku hampir menangis. Aku terkejut karena banyak orang di sana pada tengah malam yang menungguku. Itu sangat hebat dan aku berterima kasih pada mereka,” ucap Ben Arfa pada Mirror 2 September 2014.

Anehnya, pada Desember 2014, Ben Arfa justru meninggalkan Inggris. Pelatih Hull, Steve Bruce, bahkan tak mengetahui ke mana Ben Arfa sesungguhnya. Kariernya bersama Hull pun usai dengan catatan delapan pertandingan.

Ben Arfa ternyata kembali ke Prancis dan memperkuat Nice. Ia merasa Prancis adalah rumah yang tepat karena banyak orang yang memercayainya, juga tidak ada media yang menyudutkan dirinya.

Jauh dari hiruk pikuk media, Ben Arfa seperti terlahir kembali di Nice. Nice memang nice (baik).

Saat ini, Nice berada diperingkat keempat dan bisa saja mengamankan pos di Europa League musim depan. Nice bahkan berpeluang melaju ke Liga Champions andai Monaco kalah di pertandingan terakhir. Capaian tersebut sulit terwujud tanpa agresivitas Ben Arfa. Pemain kelahiran 7 Maret 1987 tersebut telah mencetak 17 gol atau berkontribusi 33 persen dari total gol yang disarangkan Nice.

Ke Spanyol

Atas capaian tersebut, Ben Arfa seolah menjadi komoditas panas di bursa transfer mendatang. Siapa yang tak ingin bermain di tim terbaik? Atas dasar ini pula, Ben Arfa terbang ke Barcelona setidaknya dua kali dalam bulan ini.

Pada 1 Mei silam, Ben Arfa membantah membicarakan soal kontrak dengan El Barca. Senin (9/5) kemarin ia dijadwalkan untuk kembali terbang ke Barcelona, tetapi ditunda menjadi pekan depan. Hal ini seolah menjadikan ucapan “semuanya mungkin di bursa transfer” akan segera terwujud. Di sinilah semuanya menjadi menarik.

Jurnalis Spanyol, Guillem Balague, berpendapat kalau Ben Arfa bukanlah opsi yang tepat buat Barcelona. “Ben Arfa dipertimbangkan hanya karena dia gratis, tapi Barcelona mengatakan ‘tidak’ pada kemungkinan tersebut,” tutur Balague dikutip Sky Sports.

Secara permainan pun agak sulit membayangkan Ben Arfa bermain di lini serang Barcelona. Ben Arfa bukan penyerang dengan kecepatan dan mengandalkan segala peluang di lini serang macam Sergio Aguero, misalnya. Tentu, tidak ada yang tidak mustahil di sepakbola, termasuk menyaksikan Ben Arfa bermain di belakang Suarez dan ditopang Lionel Messi dan Neymar.

***

Kalau Ben Arfa benar-benar pindah ke Barcelona, ia mesti mengawasi gerak-gerik sang pemain agar tak terlalu sering berkunjung ke satu tempat: La Rambla.

La Rambla merupakan kawasan perbelanjaan terkenal di Barcelona yang jualan utamanya adalah makanan. Kawasan pedestrian sepanjang 1,2 kilometer ini dikenal sebagai kawasan “paling hidup” di Spanyol. Selain restoran mewah, tempat makan murah pun banyak ditemui di area ini.

Mengizinkan Ben Arfa setiap waktu berkunjung ke La Rambla adalah sebuah kesalahan. Karena seperti orang gemuk lainnya, mereka tak rewel dalam urusan makanan.

Camkan itu, Enrique!

Komentar