Mempersoalkan Cedera Claudio Marchisio untuk Timnas Italia dan Juventus

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Mempersoalkan Cedera Claudio Marchisio untuk Timnas Italia dan Juventus

Kemenangan Juventus atas Palermo 4-0 dalam laga pada giornata ke 33, Minggu (17/4) malam WIB, harus dibayar dengan cederanya Claudio Marchisio. Pemain binaan akademi Juventus ini harus ditarik keluar pada menit ke-16, setelah mengalami masalah pada kaki kirinya saat berusaha merebut bola dari Franco Vázquez.

Juventus langsung melakukan pemeriksaan pada kondisi Marchisio seusai laga. Setelah diperiksa, diketahui bahwa ia menderita cedera ACL, yang terbilang cukup parah.

Marchisio pun dipastikan bakal melewatkan semua laga sisa Juventus di musim ini. Apesnya, Marchisio dipastikan tidak akan tampil bersama Timnas Italia yang akan berjuang di Euro 2016 Juni-Juli nanti.

Usai melakukan pemeriksaan, Marchisio pun berkomentar, “Baru saja kembali ke rumah. Hasil dari pemeriksaan cukup menyakitkan. Meskipun begitu, ini adalah risiko pekerjaan saya. Yang pasti, saya harus kuat agar dapat kembali sehat secepatnya.”

Kepergian Marchisio akibat cedera di akhir musim ini memang tidak terlalu menyedihkan, mengingat kompetisi tengah memasuki akhir. Tapi, jika melihat peran Marchisio musim ini, tentu ini hal sangat disesali oleh Juventus dan Timnas Italia.

CEO Juventus, Beppe Marotta, mengatakan bahwa absennya Marchisio di sisa musim ini bakal menyulitkan timnya. “Sayangnya hasil diagnosis telah dikonfirmasi. Dan ia mengalami cedera yang sering dialami pesepakbola profesional.”

“Tidak hanya cedera yang akan memakan waktu lama, tapi juga masa penyembuhannya. Hal ini tentu sangat kami sesalkan. Meski ini adalah bagian dari sepakbola, tapi saya berharap dia akan kembali ke lapangan secepatnya.”

Cedera ACL merupakan salah satu cedera yang sangat ditakuti para atlet. Masa pemulihan ACL pun memakan waktu yang cukup lama, yakni selama delapan hingga 12 bulan. Tapi, jika proses pemulihan berjalan lebih baik, kemungkinan hanya akan absen selama enam bulan.

Namun tak semua operasi ACL berjalan sesuai skenario. Di samping bisa sembuh lebih cepat, risiko cedera biasanya kembali menghantui. Lebih buruknya, seorang pemain bisa lebih cepat mengakhiri karirnya jika ternyata cedera ACL-nya sangat parah.

Beberapa pemain seperti, Michael Owen dan Michael Essien, bahkan tak mampu kembali menemui peak performance-nya usia mengalami ACL.

Imbas dari cedera ini, pelatih dua tim yang saat ini tengah dibela Marchisio, Juventus dan Timnas Italia, harus tanggap. Pos yang diisi Marchisio harus segera dicari jalan keluarnya. Beberapa opsi pun muncul seiring cederanya Marchisio.

Juventus: Stefano Sturaro dan Mario Lemina

Imbas cedera Marchisio, dua nama ini digadang-gadang akan menjadi penggantinya. Kedua nama pun menjadi andalan jika Marchisio absen, selain Hernanes yang kerap dipasang sebagai gelandang bertahan.

Keduanya memiliki posisi asli sebagai gelandang bertahan. Keduanya juga pemain yang cukup versatile. Keduanya juga memiliki catatan bertahan apik kala diberi kepercayaan tampil oleh Allegri.

Tapi, Massimiliano Allegri jelas tak bakal menggunakan dua gelandang sekaligus. Sami Khedira yang memiliki posisi asli gelandang bertahan pun diberi tugas sebagai gelandang box-to-box. Menariknya, siapa yang bakal dipilih oleh Allegri?

Jika melihat catatan statistik yang didasari dari aspek unggul Marchisio, Lemina jelas lebih baik. Pemain 22 tahun ini memiliki catatan statistik apik dalam hal intersep dan memberi umpan, dua hal yang menjadi kelebihan Marchisio.

Dalam hal intersep, Lemina mampu membuat 1,25 intersep per laga, unggul dari Sturaro yang hanya mampu membuat 0,87. Sedangkan dari catatan umpan, Lemina menghasilkan 44,12 umpan dengan akurasi 90% per laga. Sementara Sturaro hanya menghasilkan 26,8 umpan dengan akurasi 76% per laganya.

Menariknya, Lemina hanya berstatus pemain pinjaman dari Olympique Marseille. Apakah ia akan mendapatkan kontrak dengan status pembelian di musim depan? Menarik ditunggu.

Timnas Italia: Jorginho dan Marco Parolo

Meski kedua pemain sama-sama mampu memainkan peran sebagai gelandang bertahan dengan baik, tapi keduanya berbeda tipikal. Jorginho yang masih berusia 24 tahun bertipikal cepat, sementara Parolo adalah gelandang yang lebih suka mendistribusi bola lebih lambat. Yang jadi pertanyaan, siapa yang akan dipilih Antonio Conte untuk Timnas Italia?

Jika melihat skema permainan lambat ala Timnas Italia, Parolo jelas akan menggantikan Marchisio. Selain itu, kemampuan bertahan Parolo juga bisa dikatakan lebih baik dibanding Jorginho. Selain memiliki tubuh kokoh, Parolo juga pandai dalam melepas tekel dan melakukan duel. Parolo pun memiliki rerata 2,36 intersep bola per pertandingan.

Sementara Jorginho, lebih baik dalam aspek melakukan umpan. Whoscored bahkan mencatat rerata umpan per laga Jorginho mencapai 103. Akurasi umpannya pun terbilang tinggi untuk pemain ukuran pemain inti di Italia, yakni 90,8%.

Melihat perbedaan gaya kedua pemain ini, harusnya Conte dapat memaksimalkannya. Tinggal menunggu bagaimana taktik Conte dijalankan dengan baik oleh kedua pemain ini.

Komentar