Cruyff Sang Filsuf

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Cruyff Sang Filsuf

"Pemain yang men-juggle bola di udara dalam sebuah pertandingan, dan karenanya membuat empat pemain belakang tim lawan memiliki waktu untuk kembali ke pertahanan, adalah pemain yang hebat menurut orang-orang," ujar Johan Cruyff. "Menurutku ia harusnya bekerja di sirkus."

Sepanjang hidupnya, Cruyff tak hanya dikenal hebat sebagai pemain dan jenius sebagai pelatih. Ia juga seorang filsuf. Berikut beberapa kutipan Cruyff semasa hidupnya:

"Jika aku ingin kamu mengerti, aku pasti sudah menjelaskan dengan lebih baik."

"Bermain sepakbola sangat sederhana, namun memainkan sepakbola sederhana adalah hal tersulit yang pernah ada."

"Aku baru memutuskan untuk menjadi manajer ketika ada yang bilang aku tak bisa menjadi manajer."

"Kenapa kita tak bisa mengalahkan tim yang lebih kaya? Aku tak pernah melihat sekantung uang mencetak gol."

"Aku rasa sangat parah jika bakat ditolak karena alasan statistik komputer. Berdasarkan kriteria Ajax saat ini aku pasti sudah ditolak. Ketika aku berusia 15 tahun, aku tidak mampu menendang bola sejauh 15 meter dengan kaki kiriku dan mungkin hanya 20 meter dengan kaki kananku. Kualitasku, teknik dan visi, tidak terdeteksi komputer."

"Kami membuktikan pada dunia bahwa pemain sepakbola bisa menikmati hidupnya; bisa tertawa dan menikmati masa-masa yang indah. Aku mewakili masa yang membuktikan bahwa sepakbola atraktif dapat dinikmati dan sukses, dan nyaman dimainkan juga."

"Kita bermain sepakbola dengan kepala, kaki kita hanya membantu."

"Italia tak bisa menang melawan kita, namun kita bisa kalah melawan Italia."

"Memiliki teknik bukanlah mampu men-juggle bola 100 kali. Semua orang bisa melakukannya dengan latihan. Setelahnya bekerjalah di sirkus. Teknik adalah mengumpan bola dengan satu sentuhan, dengan kecepatan yang tepat, ke kaki yang tepat dari rekan kita."

"Pilihlah pemain terbaik untuk setiap posisi, dan kita tak akan memiliki satu kesebelasan yang kuat, namun sebelas pemain yang kuat sendiri-sendiri."

"Dalam timku, penjaga gawang adalah penyerang pertama, dan penyerang adalah pemain bertahan pertama."

"Aku selalu mengambil lemparan kedalam, karena ketika aku menerima bola kembali, aku satu-satunya pemain yang tak terkawal."

"Aku mantan pemain, mantan direktur teknik, mantan pelatih, mantan manajer, mantan presiden kehormatan. Sebuah daftar indah yang sekali lagi membuktikan bahwa semua ada akhirnya."

"Pemain yang bukan pemimpin namun berusaha menjadi pemimpin, selalu menyalahkan pemain lain setelah terjadinya kesalahan. Pemimpin sejati selalu sejak awal berasumsi bahwa pemain lain akan melakukan kesalahan."

"Apakah kecepatan itu? Media sepakbola seringkali menyalahartikan kecepatan dengan pemahaman. Begini, jika aku berlari sedikit lebih cepat dari pemain lain, aku tampak lebih cepat."

"Hanya ada satu momen di mana kita bisa tiba tepat waktu. Jika kita tidak di sana, kita entah terlalu cepat atau terlalu lambat."

"Sebelum aku melakukan kesalahan, aku belum pernah melakukan kesalahan itu."

"Ketika kita bertanding, secara statistik sudah terbukti bahwa pemain hanya menguasai bola selama, rata-rata, tiga menit. Jadi hal yang paling penting adalah: apa yang kita lakukan selama 87 menit tidak menguasai bola. Itulah yang menentukan apakah kita pemain yang bagus atau bukan."

"Setelah kita memenangi sesuatu, kita tidak lagi 100 persen namun 90 persen. Seperti botol minuman berkarbonasi setelah tutupnya dibuka beberapa saat. Setelahnya jumlah gas yang terdapat di dalam botol sedikit berkurang."

"Hanya ada satu bola, jadi kita harus memilikinya."

"Aku tidak agamis. Di Spanyol, semua dari 22 pemain membentuk tanda salib sebelum mereka memasuki lapangan. Jika itu berguna maka semua pertandingan akan berakhir imbang."

"Jika kita menguasai bola kita harus membuat lapangan selebar mungkin, dan jika tidak kita harus membuatnya sesempit mungkin."

"Setiap pemain golf profesional memiliki pelatih berbeda untuk gerakan, untuk pendekatan, untuk penempatan. Dalam sepakbola kita memiliki satu pelatih untuk 15 pemain. Ini konyol."

"Para pemain sekarang hanya bisa menembak dengan punggung kaki mereka. Aku bisa menembak dengan kaki bagian dalam, punggung kaki, kaki bagian luar. Dengan kata lain, aku enam kali lebih baik dari pemain-pemain saat ini."

"Kualitas tanpa hasil tidak ada artinya. Hasil tanpa kualitas membosankan."

"Hanya sedikit pemain yang tahu apa yang harus dilakukan ketika mereka tidak dikawal. Jadi kadang kita bisa mengatakan ini kepada pemain: penyerang itu sangat bagus, tapi jangan kawal dia."

Komentar