Dikolongi Messi dalam Ingatan Para Pemain Getafe

Cerita

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Dikolongi Messi dalam Ingatan Para Pemain Getafe

Tak ada nama Lionel Messi di daftar pemain yang dibawa ke Coloseum Alfonso Perez, markas kesebelasan Getafe untuk malam nanti. Ini sangat dimengerti karena memang kondisi Messi sendiri belum pulih dari cedera panjang yang menimpanya sejak beberapa pekan lalu. Namun, selalu ada memori yang terselip bagi Messi dan pendukungnya ketika melawan kesebelasan Getafe.

Lionel Messi, bagaimanapun, banyak yang menyejajarkan dirinya dengan sang maestro sepakbola Argentina; Diego Armando Maradona. Meski banyak juga pemain-pemain Argentina lain yang menyandang julukan “the next” Maradona, namun setidaknya sampai saat ini, Lionel Messi mendekati keagungan sang pemain bertubuh gempal tersebut.

Komparasi Messi – Maradona itu semakin menjadi ketika hal ajaib pada 18 April 2007 lalu, ia melakukan gol fantastis ke gawang Getafe. Aksi solo run Maradona ke gawang Inggris pada Piala Dunia 1986 lalu ia tiru. Messi yang umurnya belum genap 20 tahun, menjadi buah bibir media massa di dunia.

Bermula dari Xavi Hernandez yang mengirimkan umpan pendek di sisi kanan dekat garis tengah lapangan, Messi menerima umpan tersebut dengan dua sentuhan yang sempurna. Javier Paredes yang saat itu bermain sebagai bek kiri langung bereaksi akan tetapi tak mampu berbuat banyak.

Baca juga: Kekuatan-kekuatan di Balik Dribbling Bola Messi

“Aku mungkin saja melanggar Messi saat itu, namun aku tidak berpikiran demikian karena hal itu bukan opsi yang bagus dan akan mendatangkan kartu kuning untukku,” ungkap Paredes kepada Goal. “Aku sendiri tak pernah terpikirkan ia (Messi) akan melakukan hal yang sedemikian rupa.”

Lain Paredes, lain juga dengan Nacho Perez, rekan setimnya di Getafe yang saat itu sama-sama terkena tipu muslihat Messi. Ia yang bermain sebagai sayap kiri mengaku langsung membantu Paredes dengan melakukan tracking-back untuk menutup jalur dari dribble Messi.

“Aku kembali ke posisiku dengan cepat namun Messi me-nutmeg-ku dengan trik darinya,” kenang Nacho.  “Aku sebenarnya mampu meraih dirinya saat berlari dan tanganku mampu menghalangi gerakannya. Bahkan aku mampu menutup geraknya ke kanan ketika sampai di garis tepi kotak penalti. Namun Messi mampu menemukan celah di sebelah kiriku.”

Terlepas dari cengkraman Nacho dan Paredes, Messi ditunggu oleh Alexis Ruano dan David Belenguer. Namun, David Belenguer sendiri berharap kepada dua orang rekannya (Paredes dan Nacho) untuk mampu menghentikan Messi sedari awal bagaimanapun caranya. Belenguer tak peduli karena ia tahu jika Messi semakin mendekati kotak penalti, maka peluang mereka masuk ke final akan sedikit demi sedikit akan pupus. Ini juga meminimalisasi rekannya yang lain, Alexis untuk menjegal Messi yang berakibat kartu kuning kedua di pertandingan tersebut.

Baca juga: (Bukan) Pledoi untuk Messi

“Aku mencoba memantulkan bola tersebut, namun itu terlalu pelan dan itu tak cukup untuk menghentikan dribble Messi. Kegagalan membendung Messi membuat peluang Messi mencetak gol lebih terbuka dan para pendukung seisi Camp Nou mulai terperanjat dengan aksi bocah asal Argentina ini," tambah Belenguer.

Saat itu, yang tersisa hanya kiper yang mencoba keluar dari sarangnya. Luis Garcia yang mengawal gawang Getafe saat itu mencoba apa yang sudah dicoba oleh rekan-rekannya yang lain yaitu; menutup jalur dribble dari Messi dan kita tahu juga hasilnya yaitu; gagal. Ketik Messi tinggal berhadapan dengan gawang, David Cortes selaku bek dari Getafe sebetulnya punya kesempatan untuk memblok tendangan Messi yang meluncur dari sisi kiri gawang Getafe saat itu, namun bola yang meluncur dengan posisi lebih tinggi daripada tekel Cortes membuat usahanya berakhir sia-sia. Messi mampu mengkonversi aksi briliannya menjadi gol. 2-0 untuk kesebelasan yang berjuluk Blaugrana itu.

Getafe bukannya tanpa aksi. Mereka mampu mencuri dua gol tandang di Camp Nou lewat dani Guiza dan Nacho untuk memaksa pertandingan berakhir dengan skor 5-2 di leg pertama. Namun secara mengejutkan, Getafe mampu membalikkan prediksi para pengamat yang menjagokan Barcelona lolos ke final dengan membukukan skor 4-0 tanpa balas dan menjadikan skor aggregate menjadi 6-5 untuk Getafe.

Meski Getafe mampu melenggang ke Final untuk menghadapi Sevilla, mereka harus takluk dari kesebelasan asal Andalusia tersebut dengan skor 1-0 lewat gol Frederic Kanoute dan memupuskan harapan mereka untuk memboyong trofi tersebut ke markas mereka.

Baca juga: Cedera Messi dan Dampak Pada Skema Bermain Barcelona



Disadur dengan perubahan seperlunya dari Goal

Sumber gambar: Barcacentral

Komentar