Mengapa James Milner Layak Dianggap sebagai Berkah untuk Liverpool?

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Mengapa James Milner Layak Dianggap sebagai Berkah untuk Liverpool?

Liverpool sedang tancap gas. Setelah tiga musim tanpa gelar, Brendan Rodgers diberi keringanan untuk tetap menjabat sebagai manajer The Reds. Padahal, bisa jadi (entah karena alasannya apa) kalau bukan Rodgers, mungkin Liverpool sudah memiliki manajer baru sekarang.

Tujuh pemain sejauh ini (23 juli 2015) berhasil didatangkan, sesuai urutan kedatangannya: Joe Gomez dari Charlton Athletic, James Milner dari Manchester City, Danny Ings dari Burnley, Ádám Bogdán dari Bolton Wanderers, Roberto Firmino dari TSG 1899 Hoffenheim, Nathaniel Clyne dari Southampton, dan yang terbaru, Christian Benteke dari Aston Villa.

Dari ketujuh nama di atas, rasanya ada satu nama yang paling menjadi buah bibir untuk Rodgers. Ia adalah James Philip Milner.

Setelah kepergian Steven Gerrard ke Los Angeles Galaxy, Rodgers berhasil mendapatkan gelandang Inggris lainnya yang (dalam beberapa hal) lebih baik daripada Gerrard, secara gratis pula. Tidak percaya?

Perjalanan karir James Milner

Lahir di Wortley, Leeds, Milner adalah siswa yang cemerlang saat masih duduk di bangku sekolah. Kemampuan fisiknya sudah ia tunjukkan sejak kecil ketika ia bermain di tim kriket Yorkshire Schools, juara lari cross-country selama tiga tahun berturut-turut, dan juga juara sprint 100 meter tingkat daerah selama dua tahun berturut-turut.

Kesebelasan idola Milner adalah Leeds United, seperti bocah-bocah lokal di daerahnya. Ia pernah menjadi anak gawang (ball boy) untuk Leeds sebelum akhirnya pada usia 10 tahun ia bergabung dengan Leeds United Academy.

Pemain panutannya adalah Alan Smith (eks pemain Leeds, bukan Alan Smith yang eks pemain Arsenal dan sekarang menjadi komentator) dan ia melakukan debut untuk Leeds pada 10 November 2002 melawan West Ham United saat usianya masih 16 tahun dan 309 hari.

Pada Boxing Day 2002, ia menjadi pencetak gol termuda di Liga Primer Inggris saat ia mencetak gol ke gawang Sunderland (Leeds menang 2-1).

Selama di Leeds, ia sempat dipinjamkan ke Swindon Town. Ia bermain dalam 54 pertandingan dan mencetak 5 gol sebelum akhirnya ia dipaksa dijual ke Newcastle United dengan harga 3,6 juta poundsterling sebagai akibat dari krisis finansial Leeds. (Baca Selengkapnya: Teladan yang Buruk dari Leeds United)

Empat tahun di Newcastle, Milner bermain dalam 139 pertandingan dan berhasil mencetak 12 gol. Milner kemudian pindah ke Aston Villa pada 29 Agustus 2008 dengan harga yang dilaporkan mencapai 12 juta poundsterling, naik hampir empat kali lipat.

Kisah terbaik Milner bersama Aston Villa

Martin O'Neill, manajer Aston Villa pada saat itu, mendeskripsikan pemain bernomor punggung 8-nya saat itu adalah pemain yang komplit. Bersama dengan Gareth Barry, Stiliyan Petrov, Stewart Downing, Ashley Young, dan Nigel Reo-Coker, lini tengah Villa menjadi lini tengah yang menakutkan pada musim 2008/09.

Milner mengakui bahwa saat di Villa adalah saat terbaik baginya sebagai pemain sepakbola. Pada musim itu juga ia dipanggil ke kesebelasan negara Inggris untuk pertama kalinya oleh Fabio Capello.

Dengan dijualnya Barry ke City, pada musim 2009/10 Milner langsung diplot sebagai gelandang tengah The Villains. Permainan cemerlangnya mengantarkan Villa finis di peringkat ke-6 Liga Primer, sampai ke semi-final Piala FA Inggris, final Piala Liga, dan pada akhirnya membuat Milner diberi gelar PFA Young Player of the Year.

Di Liga Primer, ia berada di peringkat 10 di daftar top skorer, peringkat ke tiga soal asist, dan peringkat 12 dalam urusan tekel. Permainan ciamiknya ini akhirnya mengantarkannya pada kepindahan ke The Citizens dengan mahar mencapai 26 juta poundsterling, harganya lagi-lagi naik.

Kenapa semua orang suka Milner?

Selama lima musim di Manchester, Milner bermain sebanyak 201 kali dan mencetak 18 gol. Milner berhasil bertransformasi dari "pemain yang sangat bagus" menjadi "pemain yang luar biasa" di City. Meskipun ia sering hanya tampil sebagai pemain pengganti, statusnya sebagai pemain serba-bisa dipatenkan di Manchester biru.

Pada musim lalu misalnya, Milner berhasil mencetak 5 gol dan 7 asist dalam 32 pertandingannya di Liga Primer. 14 di antaranya ia bermain sebagai pemain pengganti.

Pemain berusia 28 tahun ini juga berhasil mencetak 2,8 tekel dan 1,2 intersep, serta 2,7 operan kunci setiap 90 menit. Bandingkan dengan Philippe Coutinho yang mencetak 2 tekel, 0,5 intersep, dan 1,9 operan kunci setiap 90 menit. Milner jauh lebih efektif.

Perbandingan beberapa statistik Steven Gerrard, Jordan Henderson, Philippe Coutinho, dan James Milner di musim lalu.
Perbandingan beberapa statistik Steven Gerrard, Jordan Henderson, Philippe Coutinho, dan James Milner di musim lalu.

Kemampuannya bermain sebagai gelandang tengah, gelandang serang, gelandang bertahan, sayap kanan, sayap kiri, full-back, dan bahkan penyerang, membuatnya menjadi pemain favorit setiap manajer.

Tentunya ada banyak pemain yang lebih cepat, lebih kuat, lebih bertehnik, lebih handal menyundul bola, dan keunggulan lainnya daripada Milner. Tapi hanya ada satu pemain yang unggul secara rata-rata dari semua aspek di atas (all-round player), ia lah Milner.

Tidak heran, Manuel Pellegrini hampir selalu memainkan Milner dari bangku cadangan. Bayangkan, jika Anda menjadi manajer, memiliki satu pemain seperti Milner di bangku cadangan rasanya sudah cukup; karena siapa pun yang keluar untuk digantikan, kecuali kiper, Milner sangat kompeten menggantikannya.

Milner punya segala spesifikasi untuk sukses. Dua medali Liga Primer, satu Piala FA, satu Piala Liga, dan satu gelar Community Shield, adalah bukti dari dedikasinya.

Semua gelar di atas memang ia dapatkan saat ia berseragam nomor 7 di City, tapi kepindahannya ke Merseyside menegaskan satu hal: ia ingin bermain sebagai pemain utama dan bermain sebagai gelandang tengah; seperti masa kejayaannya dulu di Villa yang membuat City kepincut.

Berdasarkan WhoScored, ia hanya bermain sebanyak dua kali sebagai gelandang tengah sepanjang musim lalu bersama City.

Menggantikan Gerrard adalah hal yang relatif mudah untuk ia lakukan di The Reds. Sejauh ini dalam pra-musim juga ia selalu berperan sentral untuk kesebelasan barunya tersebut. Dengan usianya yang matang sebagai pemain sepakbola (akan berusia 29 tahun pada Januari nanti), si "nomor 7 Liverpool yang baru" ini menanti puncak karirnya.

Tidak seperti kebanyakan pemain Inggris yang over-priced, kepindahannya secara gratis adalah sebuah berkah bagi Rodgers: pemain berkualitas wahid, konsisten, serba-bisa, berpengalaman tinggi, dan sosok pemimpin yang rendah hati. Ya, James Milner adalah berkah Liverpool musim ini.

Jika melihat skuat Liverpool sekarang, ditambah hasil-hasil mereka di tur pra-musim: menang 4-0 melawan Thai Premier League XI, menang 2-1 melawan Brisbane Roar (Milner mencetak gol), dan menang 2-0 melawan Adelaide United (Milner mencetak gol); sepertinya PR utama untuk Rodgers bukanlah penyerang —karena Liverpool baru saja kedatangan Benteke— tapi gelandang bertahan di belakang Milner dan Jordan Henderson.

Baca selengkapnya:

Berbagai Peran yang Ditawarkan Milner Bagi Liverpool

Menambal Lubang-lubang Liverpool Musim Lalu


Liverpool sendiri masih memiliki jadwal pra-musim menghadapi Malaysia XI (24 Juli), HJK Helsinki (1 Agustus), dan Swindon Town (2 Agustus), sebelum 9 Agustus mendatang pada pembukaan Liga Primer melawan Stoke City di Britannia Stadium, Stoke-on-Trent.

Dengan bermain di Liverpool, sekarang bukan hanya semua orang menyukai Milner, tapi ia juga menyukai permainannya sendiri. Milner; ia yang mencintai Leeds, dewasa di Newcastle, luar biasa di Villa, dan juara di City, sekarang saatnya ia bahagia di Liverpool.

Sumber: WhoScored, Bleacher Report, The Guardian, Squawka, Empire of the Kop, Craven Herald, The Telegraph, The Independent

Komentar