Belajar Kerendahan Hati dari Dennis Rommedahl

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Belajar Kerendahan Hati dari Dennis Rommedahl

Peter Schmeichel menempati urutan pertama dalam daftar pemain dengan jumlah penampilan terbanyak untuk Tim Nasional Denmark. Tidak mengherankan mengingat ia adalah seorang penjaga gawang – dan bukan seorang penjaga gawang biasa. Tepat di belakang Schmeichel yang bermain sebanyak 129 kali, di peringkat kedua, ada Dennis Rommedahl yang hanya tertinggal tiga pertandingan dari Schmeichel.

Bukan megabintang Michael Laudrup atau pencetak gol terbanyak Jon Dahl Tomasson (52 gol, sama banyak dengan Poul Nielsen); tapi Dennis Rommedahl yang tidak pernah bercita-cita menjadi seorang pemain sepakbola dan kisah hidupnya lebih banyak mengajari kita tentang rendah hati, kerja keras, dan cinta keluarga ketimbang bagaimana cara meraih kesuksesan dengan cara memaksimalkan serangkaian gerakan indah untuk mengelabui lawan atau mencetak banyak gol.

Hingga berusia 17 tahun, Rommedahl hanya bermain sepakbola untuk kesenangan semata. Hingga akhirnya seorang kawan di sekolah bisnis di Lyngby – sebuah wilayah yang terletak tidak lebih dari 15 km ke sebelah utara Kopenhagen – mengajak Rommedahl ikut bersamanya ke latihan kesebelasan muda setempat.

“Suatu hari pelatih kesebelasan utama berkata saya dapat berlatih bersama mereka,” ujar Rommedahl berkisah sebagaimana diwartakan oleh Stuart James dari The Guardian. “Saya bermain baik dan karenanya pelatih berkata: ‘Kamu boleh kembali lagi besok dan berlatih lagi.’ Setelah itu saya menandatangani kontrak muda pertama saya dan sembilan bulan kemudian PSV datang. Di Denmark orang-orang menyebut ini dongeng – dari bukan siapa-siapa menjadi bakat terhebat dalam sembilan bulan.”

Dalam tulisannya mengenai Rommedahl, James menekankan bahwa kehebohan yang terjadi di Denmark karena kepindahan Rommedahl tidak lebih besar dari efek yang sama yang terjadi di Belanda. Patut dicatat bahwa sepakbola Belanda tidak mengenal bakat. Sepakbola Belanda lebih mengenal kerja keras sehingga kisah seorang pemuda yang belajar bisnis untuk menjadi seorang pengusaha namun menjadi pemain sepakbola profesional di Belanda dalam waktu sembilan bulan adalah sesuatu yang mengejutkan.

Di Belanda, setiap pemain profesional di masa mudanya pasti menyentuh bola lebih dari sepuluh ribu kali. Rommedahl tidak menjalani latihan yang sama melelahkan namun ia datang dan bermain di Eredivisie sebagai seorang profesional. Seperti kecepatan sprint yang menjadi andalannya (Rommedahl disebut-sebut mampu menempuh jarak 100 meter dalam 10,2 detik, namun dengan rendah hati ia menjawab: “Itu tidak benar karena seingat saya rekor Denmark untuk lari 100 meter adalah 10,36 detik. Jadi jika saya bisa menempuh jarak 100 meter dalam waktu 10,2 detik, saya pasti sudah di Athena”) karir Rommedahl muda melesat cepat.

Rommedahl hanya menghabiskan 90 menit dari dua penampilan di Eredivisie musim 1996/97. Musim berikutnya PSV meminjamkan Rommedahl ke RKC Waalwijk dan di sana ia menjalani 34 pertandingan semusim. Per musim 1998/99 Rommedahl kembali ke PSV dan menjadi pemain andalan hingga akhirnya pergi meninggalkan Belanda pada 2004. Selama membela PSV, Rommedahl mempersembahkan empat gelar juara Eredivisie dan Johan Cruijff Schaal (setingkat Community Shield-nya Inggris) dalam jumlah yang sama.

Dari PSV, Rommedahl pindah ke Charlton Athletic yang menurutnya adalah Denmark-nya Premier League. Sebenarnya Rommedahl bisa saja pindah ke Newcastle United pada 2003; bergabung dengan eks pelatih kepalanya semasa di PSV, Sir Bobby Robson. Namun Rommedahl memilih bertahan di PSV karena merasa masih harus belajar.

“Saya merasa masih harus belajar di PSV,” ujarnya. “Dan karena saya merasa sudah selesai mempelajari sesuatu, saya merasa harus belajar lebih banyak lagi.”

Semusim kemudian, toh, Rommedahl akhirnya meninggalkan PSV karena merasa butuh tantangan baru. Lain hal, kontraknya berakhir pada 2005 sehingga 2004 adalah saat yang paling tepat baginya untuk meninggalkan kesebelasan yang membesarkan namanya. Ia tidak ingin PSV, tempatnya belajar banyak hal, tidak meraup keuntungan finansial dari kepergiannya. PSV mendapat 2 juta pound sterling dari hasil penjualan Rommedahl.

Di musim panas yang sama dengan kepergian Rommedahl ke Charlton, Arjen Robben dan Mateja Kežman meninggalkan PSV untuk bergabung dengan Chelsea. Kežman kemudian bercerita mengenai tur pramusim yang dijalaninya bersama Chelsea di Amerika Serikat. Sedikit pun Rommedahl tidak merasa iri.

“Jika saya pindah ke kesebelasan tiga besar (Premier League) mungkin saya tidak akan bermain,” ujar Rommedahl. “Saya sudah berusia 26 tahun dan tidak lagi membutuhkan hal seperti itu. Saya dapat melakukan hal itu jika saya berusia 20 tahun seperti Robben saat ini. Jika ia tidak menjadi pemain inti di tahun pertamanya ia dapat mengembangkan permainan dan mungkin musim berikutnya ia akan menjadi pemain utama. Saya berada di usia di mana saya hanya perlu bermain rutin setiap pekan.”

Lagipula Rommedahl memang tidak suka terlalu banyak bepergian setelah meninggalkan Belanda. Kesebelasan favoritnya adalah FC Barcelona sehingga Rommedahl bisa saja memilih Spanyol sebagai negara tujuan. Namun istrinya akan sering merasa kesepian jika Rommedahl berkarir di Spanyol sehingga ia memilih Inggris.

Istri Rommedahl, Wendy, adalah warga negara Belanda sehingga dengan meninggalkan Eindhoven, Rommedahl menjadi satu-satunya keluarga yang Wendy miliki. Karena alasan itulah Rommedahl tidak ingin terlalu sering meninggalkan rumah.

“Saya tahu jika saya pindah ke Italia atau Spanyol, saya akan menghabiskan dua hari sebelum pertandingan di hotel (bersama kesebelasan),” ujar Rommedahl. “Saya tidak suka jauh dari rumah seperti itu dan saya tahu di Inggris tidak seperti itu.”

Inggris menjadi tempat yang menyenangkan bagi Rommedahl karena selain menemukan negara yang cocok untuk istrinya, Rommedahl menemukan liga yang cocok dengan gaya bermainnya. Kecepatannya di sayap kanan tidak sia-sia di Inggris.

“Di Belanda, permainan sepakbola jauh lebih sabar,” ujar Rommedahl. “Di Inggris menendang bola jauh ke depan dan mengarahkannya langsung ke penyerang adalah hal yang wajar. Jika kita melakukan itu di Belanda, pelatih pasti mengomel: ‘ayolah, main sepakbola dong.’”

Menemukan budaya dan gaya bermain yang berbeda, toh, tidak mengubah Rommedahl. Ia tetap pekerja keras yang sama seperti ketika dirinya masih bermain di Belanda. Rommedahl seringkali masih berada di tempat latihan ketika rekan-rekannya sudah meninggalkan lapangan; melatih kemampuannya melepas umpan silang.

“Hanya dibutuhkan waktu sepuluh menit untuk melatih lima puluh umpan silang,” ujar Rommedahl. “Jika kita melakukannya setiap hari, maka dalam satu atau dua tahun kita pasti akan menjadi lebih baik.”

Maka tak mengherankan jika kemudian dai akhir karirnya bersama Lyngby, Waalwijk, PSV, Charlton, Ajax, Nijmegen Eendracht Combinatie, dan Brøndby IF, jumlah assist Rommedahl lebih banyak dari jumlah gol yang sudah dicetaknya. Bukan semata karena ia memiliki kecepatan dan kemampuan melepas umpan yang baik, namun karena ia bermain sebagai bagian dari kesebelasan; pemain yang mau membantu pemain lain ketimbang mencari kejayaan pribadi.

Rommedahl pernah berkata bahwa ia lebih Belanda ketimbang Denmark. Apa yang ia tunjukkan dalam kesehariannya berkata sebaliknya. Rommedahl tetap seorang Denmark yang, seperti orang-orang Skandinavia pada umumnya, memegang teguh falsafah Janteloven yang komandemen pertamanya adalah du skal ikke tro at du er noget atau, jika diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia, berarti “jangan pernah merasa lebih tinggi dari orang lain”.

Karena semakin tinggi kera memanjat – ini juga kearifan lokal Skandinavia – semakin jelas bokongnya terlihat.

Komentar