Dari Tenda Pengungsian, Menuju Manchester United

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Dari Tenda Pengungsian, Menuju Manchester United

Usianya masih 19 tahun. Karir sepakbolanya pun belum terlalu mentereng. Jauh dari kota kelahirannya di sebuah kota bernama Kakuma (Kenya), ia baru dua musim meniti karir sebagai pesepakbola profesional di A-League, kompetisi tertinggi liga Australia. Ia adalah Awer Bul Mabil.

Bagi yang mengikuti sepakbola Australia, namanya bukanlah nama baru. Dengan kemampuannya melewati lawan dan juga kecepatannya saat menggiring bola, Mabil langsung menjadi andalan Adelaide United sejak 2013. Meski masih muda, ia tampil secara reguler di mana kemudian mengantarkan Adelaide United juara A-League 2014 dan menjadi pemain muda terbaik FFA 2014.

Kehebatannya dalam mengolah si kulit bundar sendiri membuatnya terpilih menjadi bagian dari skuat timnas Australia U20. Meski lahir di Kenya, sudah delapan tahun Mabil menetap di Australia. Saat usianya mencapai 17 tahun, ia pun tak ragu untuk memilih Australia sebagai kewarganegaraannya.

Meskipun begitu, bukan berarti Mabil melupakan tanah kelahirannya. Ia masih suka mengunjungi kampung halamannya saat libur kompetisi.

Pada akhir kompetisi musim lalu, ia pun melakukan sebuah aksi nyata sebagai bentuk pertolongan pada kota kelahirannya. Ia meminta bantuan kepada pemerintah Australia, untuk menyampaikan kepada seluruh penduduk Australia yang ingin menyumbangkan sepatu, bola, dan peralatan sepakbola lainnya. Barang-barang tersebut akan dibawanya ke Kenya untuk diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dan pemerintah Australia bersedia membantu tujuan mulia Mabil tersebut.

"Pemerintah Australia sangat senang membantu inisiatif ini. Ini bisa membangun persahabatan antar negara sekaligus perkembangan olahraga itu sendiri," ujar Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop. "Saling membantu dalam bidang olahraga seperti ini bisa meningkatkan rasa tolong menolong, kerja sama, dan saling menghargai," tambahnya.

Kota Kakuma yang menjadi tempat tinggal Mabil di Kenya, merupakan kota dengan tenda pengungsian terbesar kedua di Kenya. Saat ini, di sekitar area tersebut, sering terjadi peperangan dengan negara tetangga dan kekerasan-kekerasan lainnya. Tak hanya dari Kenya, pengungsian ini pun dihuni oleh pengungsi negara lain seperti Sudan, Sudan Selatan, Somalia, Ethiopia, Congo, Burundi, Rwanda, Uganda, dan Eritrea. Dikabarkan penghuni pengungsian ini mencapai 180 ribu jiwa.

Pengungsian Kakuma, tenda pengungsian kedua terbesar di Kenya (via:australiaswans.com.au) PengungsianKakuma, tenda pengungsian kedua terbesar di Kenya (via:australiaswans.com.au)

ï"Saya dan kakak saya tinggal di Kakuma untuk beberapa tahun. Kami kemudian kembali pada 2014 dengan membawa sejumlah pakaian. Di situ kami sadar bahwa kami bisa berbuat lebih untuk membantu mereka jika kami menciptakan program yang baik," ujar Mabil, dikutip dari footballaustralia.com.

"Bersama teman kami, dan juga mendapat dukungan dari Qantas, pemerintah, dan orang-orang luar biasa dari FFA, UNHCR, serta UNICEF Australia, kami kembali ke Kenya tahun ini dan membawa ratusan pasang sepatu dan seragam sepakbola ke sana," tambahnya.

Kampanye pun dilakukan Mabil lewat sebuah video yang mengajak warga Australia untuk menolong saudara-saudaranya di Kenya. Dengan apa yang ia dapatkan dan bisa ia berikan pada Kenya, ini menjadi bukti bahwa Mabil tetap tak melupakan tanah kelahirannya, Kenya, meski kini telah menjadi warga Australia.

Impian Membela Manchester United

Menjadi pesepakbola profesional sendiri sebelumnya tak pernah ada dalam benak Mabil kecil. Saat masih di Kenya, ia bermain sepakbola hanya bermodalkan kesenangan. Tak ada lapangan hijau, tanah merah berkerikil pun dijadikan arena pertempuran ia bersama rekan-rekannya di tenda pengungsian untuk memainkan si kulit bundar. Dengan telanjang kaki tentunya.

via: flickr.com via:flickr.com

Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Australia memang terus memberikan pertolongan berupa makanan, obat-obatan, dan keperluan lain bagi para pengungsi di Kakuma secara berkala. Dan harapan muncul bagi pengungsi di sana ketika pemerintah Australia memungkinkan sejumlah keluarga dipindahkan ke Australia dengan syarat-syarat tertentu.

Semua keluarga di Kakuma tentunya menginginkan untuk mendapatkan kesempatan tersebut, tak terkecuali bagi keluarga Mabil. Dan setelah menunggu beberapa tahun, akhirnya pemerintah Australia mengabulkan permohonan menetap di Australia dari keluarga Mabil pada 2006.

Keluarga Mabil kemudian ditempatkan di utara kota Adelaide. Hal pertama yang dilakukan orang tua Mabil adalah menyekolahkannya. Pada tahun yang sama, Mabil melihat iklan-iklan tentang Piala Dunia 2006 yang diselenggarakan di Jerman. Sejak saat itu, ia bertekad untuk menjadi pesepakbola profesional dan bercita-cita tampil di Piala Dunia suatu hari nanti.

"Di sana [Kenya] juga ada TV. Tapi anda harus berjalan sekitar satu atau dua jam untuk sampai ke sana," kenang Mabil, dikutip dari Guardian. "Ada sebuah ruangan besar. Namun untuk menyaksikannya, anda harus membayar."

Orang tuanya pun akhirnya mencarikan akademi sepakbola untuk Mabil. Namun akademi terdekat, St. Augustine, sudah memiliki terlalu banyak pemain sehingga tak bisa menerima Mabil. Salisbury East Soccer Club pun dipilih setelah orang tuanya melihat selembaran di sekolah Mabil.

Setelah beberapa hari berlatih, Mabil kemudian mengikuti seleksi masuk akademi kesebelasan Playford City Patriots yang berlaga di divisi tiga Australia. Dan kemampuannya ternyata mampu mengikat para pelatih Playford. Lantas ia pun selama tiga tahun bermain untuk akademi Playford.

Pada tahun 2011, pemerintah daerah Australia Selatan membuat program baru bernama Australian Institute of Sport. Untuk sepakbola, pemerintah mengadakan seleksi kategori pemain U17 yang nantinya akan direkomendasikan menjadi pemain tim nasional U17 Australia.

Mabil mengikuti seleksi dan tampil mengesankan. Terpilih dalam program yang diperuntukkan pemain berusia 15 sampai 17 tahun ini membuat Mabil mendapatkan beasiswa untuk sekolahnya. Berkat kegigihannya pun ia dinobatkan sebagai pemain terbaik.

Campbelltown City pun menjadi kesebelasan berikutnya yang menggunakan jasa Mabil karena trpikat oleh kemampuannya. Bermain di divisi dua, ia yang saat itu masih berusia 16 tahun tampil sebanyak 16 kali dan mencetak satu gol. Penampilannya itulah yang membuatnya direkrut Adelaide United.

Awel Mabir (30) saat berlatih bersama rekan-rekannya di Adelaide United. (via: adelaidesnow)Awel Mabir (30) saat berlatih bersama rekan-rekannya di Adelaide United. (via:adelaidesnow)

Bersama Adelaide United Mabil kian bersinar. Berposisi di sayap kanan, permainannya pun disebut-sebut mirip bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo. Hal ini dikarenakan Mabil sering menirukan gaya Ronaldo saat menggiring bola seperti contohnya dalam melakukan step over.

"Saya selalu mendukung Manchester United. Saat itulah saya melihatnya [Ronaldo], di mana ia masih muda, sekitar 18 tahun. Ia memiliki kemampuan mengolah bola yang saya sukai. Saya ingin menjadi seperti dirinya," ujar Mabil.

Pelatih Adelaide United saat ini, Joseph Gombau, semakin menginspirasi Mabil untuk menjadi pemain hebat. Ditambah lagi Gombau sering menceritakan pengalamannya saat melatih akademi Barcelona di mana Lionel Messi merupakan salah satu anak asuhnya.

"Ia adalah pelatih yang luar biasa. Sebelumnya saya belum pernah memiliki pelatih seperti dia. Ia mengajarkan saya bagaimana caranya bermain dengan benar. Ia ingin saya mengekspresikan kemampuan saya, namun berusaha merebut bola kembali ketika kehilangan bola. Namun yang paling terpenting adalah, apa yang harus dilakukan saat tak menguasai bola, bagaimana cara membaca pertandingan," papar Mabil bercerita tentang sosok Gombau.

Penampilan cemerlang Mabil selama dua musim di A-League membuat Adelaide United memperpanjang kontraknya hingga 2017. Dan atas penampilannya tersebut, sejumlah kesebelasan Eropa mulai tertarik. Setelah gagal memikat para pemandu bakat Ajax Amsterdam, giliran Leeds United yang tengah memantau perkembangan pemain kelahiran 15 September 1995 ini. Meskipun begitu, ia tetap memimpikan untuk bermain di kesebelasan favoritnya, Manchester United.

"Bermain di luar Australia merupakan cita-cita saya. Dalam empat atau lima tahun ke depan, saya ingin bermain untuk Manchester United. Tak akan mudah. Tapi saya akan terus berusaha semaksimal mungkin. Jika saya tampil hebat di sini, kita tak akan pernah tahu. Gombau memiliki koneksinya [seperti Barcelona. Maka tak ada yang tidak mungkin. Saya hanya perlu meningkatkan level permainan lebih tinggi lagi," harap Mabil.

***

Apa yang terjadi dengan Mabil kembali menjadi contoh lain bahwa masa depan seseorang tak ada yang bisa mengira. Mabil yang sebelumnya bermain sepakbola di lapangan merah tanpa beralas kaki, kini memamerkan aksinya di rumput hijau stadion Australia.

Impiannya pun terus membesar, bahkan ia tak ragu untuk menggantungkan mimpi yang lebih besar lagi. Bisa atau tidaknya Mabil bermain untuk MU tergantung dirinya sendiri. Jika ia bisa terus meningkatkan performanya, impian itu pastinya bukan lagi hanya sekadar angan-angan semata. Karena impian akan bisa menjadi kenyataan jika kita memiliki kebulatan tekad dan keberanian dalam mengejarnya.

*Catatan redaksi: per musim 2015/2016 Mabil hijrah ke kesebelasan asal Denmark, FC Midtjylland.

foto: australianfootball.co.au

Komentar