Miracle in Italy No. 2006

Cerita

by Redaksi 46

Redaksi 46

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Miracle in Italy No. 2006

Yong Goo memang memiliki keterbelakangan mental. Namun, hal tersebut tak membuat hakim mengurangi vonis untuknya. Hakim tetap memberi vonis hukuman mati karena Yong Goo didakwa melakukan penculikan, kekerasan seksual, dan pembunuhan pada seorang anak komisaris polisi.

Sebelum ditangkap dan dijebloskan ke penjara, Yong Goo hidup sebatang kara. Ia tinggal berdua bersama anak perempuannya, Ye Sung, yang kala itu masih berusia enam tahun. Yong Goo amat mencintai Ye Sung. Salah satunya adalah ia berusaha keras untuk membeli “tas Sailormoon” kuning yang dipajang di etalase sebuah toko. Yong Goo sadar kalau anaknya kerap mendapat ejekan gara-gara tas lusuh yang ia kenakan ke sekolah.

Pada suatu hari, tas satu-satunya tersebut dibeli oleh anak komisaris polisi. Yong Goo dan Ye Sung kecewa karena tas tersebut sudah lama mereka impikan. Saat Yong Goo pulang bekerja, ia bertemu dengan anak komisaris polisi yang seusia dengan Ye Sung tersebut, lengkap dengan tas Sailormoon kuning yang baru kemarin ia beli.

Anak perempuan tersebut menuntun Yong Goo membeli tas Sailormoon di toko yang lain. Nahas, karena lantai yang licin, anak perempuan tersebut terjatuh dan kepalanya terbentur lantai. Yong Goo pun mencoba membantu anak tersebut dengan memberi nafas buatan. Sayang, seorang saksi melihatnya sebagai sebuah bentuk pelecehan.

Yong Goo pun dijebloskan ke penjara, tepatnya ke sel nomor tujuh. Di dalam sel, ia bertemu dengan orang-orang yang dihukum karena sejumlah kejahatan, seperti penipuan, penyelundupan, dan aksi kekerasan. Dengan sejumlah pasal yang ia langgar, Yong Goo pun divonis hukuman mati.

Perlahan rekan-rekannya di sel mulai menemukan kebenaran kalau Yong Goo, yang berkebutuhan khusus, tidak memiliki motif pasti untuk melakukan apa yang dituduhkan padanya. Namun, hukuman sudah diputuskan dan Yong Goo mesti menjalani hukuman mati. Yong Goo pun memiliki satu keinginan: bertemu dengan putrinya untuk terakhir kali.

Tak berselang lama setelah pertemuan tersebut, Yong Goo dieksekusi. Sementara itu, Ye Sung tinggal bersama kepala sipir.

Ye Sung pun tumbuh menjadi anak yang cerdas. Ia belajar hukum di universitas. Untuk mengembalikan nama baik ayahnya, sidang pun kembali digelar. Ye Sung dengan segala pembelaan terutama dari saksi yang tak lain adalah rekan-rekan satu sel Yong Hoo, berhasil meyakinkan hakim kalau ayahnya tak bersalah. Hakim pun berpikir sejenak. Ia lalu mengetuk palu dan memutuskan bahwa Yong Goo sama sekali tidak terbukti melakukan apa yang dituduhkan.

Cerita dalam film “Miracle in Cell No. 7” tersebut mirip dengan apa yang terjadi pada sidang “Calciopoli 2006” yang digelar oleh Pengadilan Tinggi Italia pada Senin (23/3) lalu. Salah satu keputusan dalam sidang tersebut memutuskan mantan Direktur Umum Juventus, Luciano Moggi, bebas dari dua tuduhan.

Lima kejahatan ekonomi di sepakbola di mana pelaku kejahatan dapat beradaptasi dan akan terus menerus menemukan metode baru untuk menumpuk uang hasil kejahatan dalam jumlah yang besar. Baca di sini.

Sebelumnya, Moggi dianggap sebagai dalang “Calciopoli” yang mengatur sejumlah hasil laga di Serie-A. Moggi pun dihukum tidak boleh terlibat dalam kegiatan sepakbola di Italia. Ia juga divonis penjara dua tahun empat bulan.

CNN Indonesia menyebut keputusan tersebut sebagai “antiklimaks”. Pasalnya, dua gelar Juventus pada musim 2004/2005 dan 2005/2006 dicopot. Jaksa Federal pun menuntut Si Nyonya Tua terdegradasi ke Serie B. Atas hal ini, Juventus meminta kompensasi sebesar 443 juta euro atau sekitar 6,3 triliun rupiah dari Federasi Sepakbola Italia, FIGC, atas kerugian yang mereka alami selama ini.

Meskipun demikian, Juventus tidak tinggal lama di Serie B. Dengan kekuatan pemain yang mereka miliki, hanya butuh dua musim bagi mereka untuk bisa bermain kembali di Liga Champions. Padahal, sejumlah pemain seperti Zlatan Ibrahimovic dan Patrick Vieira hijrah karena enggan main di Serie B. Juventus beruntung karena nama besar mereka, sejumlah pemain seperti Gianluiggi Buffon menyatakan kesetiaannya.

Moggi beruntung karena penahanannya ditangguhkan. Bayangkan jika, misalnya, ia dijebloskan ke penjara, lalu keputusan pengadilan tinggi menyatakan bahwa Moggi tak bersalah.

Kami menulis editorial khusus tentang Calciopoli dan Juventus di sini.

Memuaskan atau tidak, klimaks ataupun antiklimaks, yang jelas keputusan dari pengadilan mestilah dihormati. Segala hal yang sifatnya dugaan harus disingkirkan. Semua hal harus memiliki dasar yang jelas dan bukti yang nyata.

Keputusan pengadilan sudah jelas kalau Moggi tidak terbukti dalam dua tuduhan. Pengadilan membersihkan Moggi dari tuduhan penipuan olahraga dan konspirasi melakukan kejahatan bersama. Meskipun begitu, Juventus tetaplah pernah terdegradasi ke Serie-B dan hal tersebut sudah tak mungkin terulang. Bagi kesebelasan besar penuh dengan sejarah, terdegradasi adalah peristiwa yang tak pernah ingin diingat. Selain itu, Juventus pun akan lekat dengan label “Calciopoli” yang sudah terlanjur beredar di masyarakat.

Saat ada keputusan yang mengoreksi keputusan terdahulu, lalu siapa yang salah? Hukum? Atau kita yang macam-macam? Lewat sidang ini, mungkinkah sepakbola Italia kembali bangkit?

 p.s. tulisan di atas mengandung spoiler, dan jangan sekali-kali menyaksikan film tersebut di kantor.

Sumber gambar: prisonmovies.net

Komentar