Ada Kebahagiaan dan Kesedihan pada Setiap Gol Gignac Bersama Marseille

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Ada Kebahagiaan dan Kesedihan  pada Setiap Gol Gignac Bersama Marseille

Di akhir musim 2008/09, penyerang Andre-Pierre Gignac tersenyum puas. Kala itu ia tak hanya berhasil mengantarkan Toulouse duduk manis di zona Liga Champions, namun juga mampu meraih penghargaan pribadi yang cukup prestisius, yakni topskor Ligue 1 dengan mencetak 24 gol.

Popularitas Gignac meroket. Banyak klub, termasuk klub-klub dari Liga Primer Inggris, meminati jasanya. Namun ia lebih memilih untuk bertahan bersama Toulouse selama satu musim lagi. Pada musim 2010/11, ia akhirnya meninggalkan Toulouese dan berlabuh ke Olympique de Marseille.

Sebuah langkah yang berani. Bagaimanapun, Marseille adalah klub besar. Sejarah mereka panjang. Dalam daftar peraih gelar juara terbanyak Liga Perancis, hanya ada satu nama di depan Marseille: AS Saint-Etienne. Marseille bahkan hingga detik ini masih menjadi satu-satunya klub Perancis yang mampu menjadi juara Liga Champions.

Namun bersama klub berjuluk Les Olympiens tersebut, Gignac tak pernah setajam kala berkarir bersama Toulouse. Di musim pertamanya bersama Marseille, Gignac hanya mampu mencetak delapan buah gol. Sepanjang musim 2011/12, ia malah hanya berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan sebanyak satu kali saja.

Catatan membaik di musim berikutnya. Torehan gol Gignac mencapai dua digit. Sepanjang musim 2012/13, 13 kali ia berhasil mencetak gol untuk Marseille. Tren positif berlanjut di musim lalu. Jumlah gol yang berhasil ia ciptakan di musim 2013/14, di liga saja, adalah 16 buah.

Musim 2013/14 menjadi masa-masa paling subur yang pernah dijalani oleh Gignac di Marseille. Dengan tambahan enam gol di kejuaraan-kejuaraan lain, Gignac hanya berjarak tiga buah gol saja dari kesuksesan musim 2008/09 (secara keseluruhan, musim itu ia berhasil mencetak 25 gol di semua ajang yang ia jalani bersama Toulouse).

Catatan terbaik itu bukan tak mungkin akan ia lewati di akhir musim ini. Kedatangan Marcelo Bielsa tak hanya mampu membuat Marseille tampil menggila. Taktik yang diterapkan oleh Si Gila dari Argentina juga ternyata sukses membuat Gignac tampil kesetanan.

Musim ini, Gignac telah bermain di sembilan pertandingan Ligue 1. Jumlah waktu yang ia habiskan di lapangan, secara keseluruhan, adalah 776 menit. Selama itu ia telah mencetak sembilan gol. Jika dirata-ratakan, Gignac mampu mencetak satu gol setiap 86 menit.

Penampilan gemilang yang ditunjukkan oleh Gignac bersama Marseille bahkan membuat dirinya kembali dipanggil ke tim nasional Perancis. Manis.

Di akhir musim nanti, bukan tak mungkin Gignac kembali tersenyum karena alasan yang sama dengan alasan yang membuatnya bahagia di pertengahan tahun 2009. Jika melihat apa yang mampu ia tunjukkan di sembilan pertandingan pertama musim ini, tak ada salahnya berpikir bahwa Gignac mampu kembali menjadi top skorer Ligue 1.

Namun senyuman Gignac bisa jadi diiringi oleh tangisan banyak pendukung Marseille. Bisa jadi, musim ini adalah musim terakhir Gignac di Stade Velodrome. Kontrak Gignac di Marseille akan berakhir seiring dengan berakhirnya bulan Juni tahun 2015. Sang pemain belum mau memperbaharui kontraknya.

Dan Marseille terus kehabisan waktu. Sesuai aturan Bosman, Gignac sudah boleh menjalin kesepakatan dengan klub lain per hari pertama di tahun 2015. Setiap gol yang dicetak oleh Gignac, karenanya, membawa kebahagiaan dan kekhawatiran tersendiri.

Komentar