Ketika Budaya Korupsi Menghancurkan Sepakbola

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Ketika Budaya Korupsi Menghancurkan Sepakbola

Krisis keuangan yang melanda Eropa pada 2008, mengguncang perekonomian Yunani. Ini merupakan akumulasi dari krisis yang menimpa negeri para dewa itu sejak awal 2000-an. Krisis keuangan mencapai puncaknya pada 2010 ketika Bank Sentral memberikan dana talangan bagi Yunani.

Sektor pemerintahan pun kolaps,tapi tidak dengan prestasi tim sepakbolanya. Mereka malah berhasil menembus Piala Dunia 2010, Piala Eropa 2012, dan Piala Dunia 2014.

Saat krisis melanda, semua klub peserta Liga Super Yunani mulai memangkas pengeluaran.Mereka terpaksa memotong nilai kontrak sejumlah pemain, termasuk pemain berlabel bintang.Dampaknya, para pemain top ini emoh bermain di liga yang menawarkan nilai kontrak yang kecil. Mereka akhirnya melakukan eksodus ke liga lain di Eropa. Liga Yunani kehilangan pamornya.

Pada batas tertentu, krisis ini menghasilkan perubahan.Beberapa klub mau tidak mau menggunakan jasa pemain lokal untuk berhemat. Regenerasi di tubuh skuat Yunani pun dimulai.

Kompleksitas masalah di Yunani berakar dari pemerintahan yang korup.Perkara suap menyuap telah menjadi budaya di sana. Berdasarkan data dari Koalisi Internasional Anti Korupsi, Transparency International, pada 2013, Yunani menempati peringkat 80 dari 177 negara dalam indeks persepsi korupsi.

Peringkat ini menempatkan Yunani di bawah kebanyakan negara-negara Eropa, yang mayoritas menempati peringkat 50 ke atas.Peringkat indeks persepsi korupsi ini menunjukkan kegagalan Yunani dalam mereformasi birokrasi di segala lini pemerintahan mereka.

Masalah di Yunani bersumber dari fakelaki atau amplop kecil dalam Bahasa Ellenika. Masyarakat Yunani kerap menggunakan fakelaki sebagai jargon bagi kegiatan suap menyuap. Di Yunani, merupakan hal yang lazim bagi masyarakat untuk menyisihkan beberapa Euro jika ingin urusan mereka lancar dan cepat diselesaikan.

Korupsi yang merajalela membuat pemasukan dari sektor pajak menjadi mimin.Ketidakmampuan Yunani melunasi utang-utangnya membuat krisis ini bertambah buruk.

Utang Yunani bermula ketika sistem pemerintahan mereka berganti dari junta militer menjadi sosialis pada 1975. Mereka memerlukan banyak dana untuk membangun gedung-gedung pemerintahan serta alokasi yang tersedot untuk gaji dan biaya PNS. Utang ini bertambah besar ketika Yunani menyelenggarakan Olimpiade pada 2004. Ongkos membangun venue olahraga memerlukan biaya besar. Kemegahan dan pujian terhadap pelaksanaan Olimpiade malah melahirkan utang.

Krisis bertambah parah setelah Yunani selalu mengalami defisit nilai perdagangan internasional. Nilai impor yang jauh lebih besar daripada jumlah ekspor, berimplikasi pada berkurangnya cadangan devisa.

Bank Sentral Eropa enggan memberikan dana talangan kepada Yunani. Mereka, terutama perwakilan dari Jerman, menganggap pemberian dana talangan tidak akan mengubah krisis secara masif. Mereka khawatir dana talangan malah turut dikorupsi.

Ini merupakan krisis terparah yang dialami Yunani pada abad ke-21.Ironis memang melihat di sinilah para filsuf terlahir. Ajaran tentang etika dan moral tumbuh subur di negeri ini, dulu. Agaknya, masyarakat Yunani perlu meminta pada dewa agar kembali menghidupkan Plato, Epikuros, Aristoteles, dan rekan-rekannya untuk mengajari para birokrat caranya berperilaku bijak.

Akibat krisis ekonomi yang kian memburuk, sejumlah klub di Liga Super Yunani terpaksa memotong nilai kontrak. Akibatnya, banyak pemain berlabel bintang semacam Gilberto Silva, Enzo Meresca, hingga Kevin Miralas, hijrah ke liga lain. Alasan mereka pindah tentu bermacam-macam. Suasana di negeri itu masih belum kondusif. Demonstrasi yang bisa memancing kerusuhan masih merebak di mana-mana.

Tapi, baik Silva, Meresca, maupun Miralas mereka memiliki kesamaan waktu kala mereka pindah: mereka pindah pada periode 2010 hingga 2012. Masa di mana Yunani tengah memasuki masa genting dalam sejarah perekonomian mereka.

Gaji pemain turut menjadi sasaran pemotongan. Pemain berlabel timnas satu persatu meninggalkan Yunani. Dari 23 pemain tim nasional yang dipanggil Fernando Santos untuk Piala Dunia, 14 di antaranya bermain di luar Liga Yunani.

Perpindahan pemain mulai ramai sejak 2010. Pelaku utamanya adalah Panathinaikos yang tengah berjuang menstabilkan neraca keuangan mereka. Dari skuat Piala Dunia saat ini, terdapat lima pemain yang pernah merumput bersama Panathinaikos hingga 2010.

Awalnya, mereka menjual Alexandros Tziolis ke AC Siena dengan nilai 1,4 juta Euro pada 2010. Lantaran krisis yang kian parah, pada 2012 mereka melepas ikon mereka Giorgos Karagounis yang pindah ke Fulham dengan status bebas transfer.

Setahun berselang, Panathinaikos cuci gudang setelah melepas tiga pemainnya pada 2013. Orestis Karnezis, Loukas Vyntra, dan Lazaros Christodoulopoulos adalah tiga nama tersebut. Penjualan pemain ini tidak lepas dari mundur massal manajemen klub sehingga selama dua bulan, tidak ada yang memegang kendali.

Pemain dengan label tim nasional biasanya memiliki rataan gaji yang lebih tinggi ketimbang pemain lokallain.Panathinaikos selalu menyumbang pemain untuk tim nasional Yunani. Kualitas mereka dibuktikan dengam raihan juara Liga Yunani sebanyak 20 kali, atau kedua terbanyak setelah Olympiacos.

Ini yang kemudian menjadi masalah. Selain klub sepakbola, Panathinaikos juga terkenal dengan klub basketnya.Mereka sama-sama berada di bawah naungan Panathinaikos Athlitikos Omilos, sebuah departemen yang membawahi multicabang olahraga. Akan sangat sulit bagi mereka untuk menggaji dua klub (basket dan sepakbola) yang mayoritas berisi pemain timnas.

Olympiacos turut melakukan hal yang sama. Dari 14 skuat Yunani yang bermain di luar negeri, empat di antaranya adalah pemain bekas Olympiacos. Mereka adalah Vasilios Torosidis, Giannis Fetfatzidis, Kostas Mitroglou dan Kontastinos Manolas. Dua nama pertama pindah pada 2013 sementara Mitroglou pada Januari 2014 dan Manolas hijrah ke AS Roma bulan Agustus lalu.

Penjualan dan pelepasan pemain ini banyak terjadi di Liga Yunani. Mereka harus berpacu dengan tuntutan prestasi dari suporter, tapi harus tetap berjuang untuk dapat menghidupi klub. Salah satu caranya adalah dengan melepas pemain bergaji mahal secara bertahap.

Nama-nama tersebut di atas hanyalah sedikit dari banyaknya pemain, terutama pemain asing, yang dilepas dan hijrah ke liga lain.

Di musim 2013-14, Panathinaikos bahkan melepas 21 pemain. Hasil penjualan ini menghasilkan dana segar sebesar 5,7 juta Euro. Presiden klub, Giannis Alafouzos, sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa klub akan mengurangi jumlah pemain secara masif. Ia mengungkapkan, krisis finansial di seluruh Yunani menjadi penyebab utamanya.

Pemain-pemain yang dianggap memiliki gaji besar seperti Toche dan Vitolo bahkan harus rela gajinya dipotong hingga 50 persen. Krisis finansial membuat semuanya terlihat sulit. Ditinggal pemain asing, dan sejumlah pemain top Yunani, membuat liga yang dulu bernama Alpha Ethniki ini kehilangan pamor. Belum lagi kasus pengaturan skor yang diungkap UEFA pada 2009 silam, menggoyahkan Liga Yunani sebagai 10 besar liga terbaik di Eropa. Alhasil budaya korupsi yang mengakar kuat dalam masyarakat mereka membuat sepakbola terkena imbasnya. Semoga saja sepakbola di negeri ini tak mengikut langkah jejak Yunani.. Amiinn..

Komentar