Dua Pesta Berbeda untuk Inggris dan Panama

Berita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Dua Pesta Berbeda untuk Inggris dan Panama

Pada 1968, grup band asal Inggris bernama The Beatles merilis lagu berjudul “Back in the U.S.S.R”. Gara-gara lagu tersebut, publik menuding John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr pro ideologi kiri karena USSR merupakan singkatan dari Union of Soviet Socialist Republics.

Namun lagu tersebut sama sekali tidak bicara sosialis, komunis, ataupun ideologi lainnya. Lagu itu bercerita tentang anak laki-laki yang senang sekali bisa kembali ke rumahnya di Uni Soviet setelah sibuk dengan urusannya di luar negeri. Sontak ia merayakan kepulangan itu dengan cara pesta bersama gadis-gadis.

Setengah abad setelah lagu tersebut rilis, orang-orang Inggris melawat ke Rusia yang dahulu merupakan wilayah Uni Soviet. Mereka hadir sebagai tim peserta Piala Dunia 2018. Pada pertandingan kedua Grup G melawan Panama, publik Inggris berpesta.

Bagaimana tidak? Total ada enam gol yang disarangkan para pemain Inggris ke gawang Panama. Padahal di pertandingan pertama melawan Tunisia, Inggris butuh injury time untuk dapat memetik kemenangan. Persis seperti penggalan lirik Back in the U.S.S.R: “on the way the paper bag was on my knee, man I had a dreadful flight.”

Saat menghadapi Tunisia, Inggris seolah masih dalam kondisi jet lag. Anak-anak asuh Gareth Southgate bikin 18 peluang, tapi hanya tercipta dua gol. Di pertandingan kedua, ceritanya sungguh sangat berbeda.

Inggris sudah unggul 2-0 dengan hanya menciptakan dua kali peluang pada 20 menit awal. Pertama melalui skema tendangan penjuru yang diambil oleh Kieran Trippier. Bola lambung yang dikirim ke kotak penalti Panama segera disambar oleh John Stones dengan sundulan kepala yang tanpa penjagaan.

Gol kedua lahir dari tendangan penalti yang dieksekusi Harry Kane. Wasit menunjuk titik putih setelah Jesse Lingard yang sedang menguasai bola dijatuhkan oleh Fidel Escobar.

Gol ketiga giliran Lingard yang mencatatkan namanya di papan skor. Berawal dari kerja sama apik antara dirinya dengan Raheem Sterling, Lingard melepas tembakan dari luar kotak penalti. Karena ditendang dengan teknik yang sangat baik, bola jadi melengkung sehingga sulit dijangkau oleh Jaime Penedo, penjaga gawang Panama.

Unggul tiga gol tidak membuat Inggris mengendurkan serangan. Stones mencetak gol keduanya pada laga itu lagi-lagi dengan sundulan kepala yang tanpa penjagaan. Skor 4-0 membuat para suporter Inggris yang hadir di Stadion Nizhny Novgorod semakin larut dalam euforia.

Di penghujung babak pertama, Inggris masih sempat menambah keunggulan. Seakan tak mau kalah dengan Stones, Kane juga cetak gol keduanya pada laga itu melalui titik putih setelah dijatuhkan oleh Escobar di kotak penalti. Eksekusi kedua dilakukan Kane dengan cara yang sama seperti pada eksekusi pertama yakni menendang keras ke pojok kiri atas gawang. Skor 5-0 menutup babak pertama.

Panama sebenarnya bukan tanpa perlawanan. Setidaknya ada tiga kali peluang yang tercipta di babak pertama. Namun sayang, tiada satu pun yang mengarah ke gawang Jordan Pickford. Jika diibaratkan, Panama seperti lagu The Beatles lain yang berjudul “I Don’t Want To Spoil The Party”.

“I don`t want to spoil the party so I`ll go. I would hate my disappointment to show, there`s nothing for me here so I will disappear.”

Di pertandingan pertama, Panama kalah oleh Belgia. Mereka butuh poin penuh jika masih ingin berlama-lama di Rusia. Namun apa daya, penampilan mereka tertutup oleh tim lawan yang tampil lebih efektif dalam menyerang. Panama seharusnya kecewa karena kebobolan lima gol di babak pertama menandakan ada yang salah dengan cara mereka bertahan dan menyikapi pertandingan.

Bahkan Inggris masih sanggup menambah satu gol lagi di babak kedua. Derita Panama justru menjadi berkah buat Kane yang mencetak hat-trick pada hari itu. Menit ke-63, Ruben Loftus-Cheek melepas tembakan mendatar dari jarak jauh. Siapa sangka bola membentur kaki Kane. Alhasil arah bola jadi tak menentu dan penjaga gawang tertipu karenanya. Gol itu membuat nama Harry Kane sejajar dengan Geoff Hurst dan Gary Lineker yang mampu mencetak tiga gol dalam satu pertandingan Piala Dunia untuk Inggris.

Panama akhirnya mampu menciptakan pesta mereka sendiri pada menit ke-78. Lewat sebuah bola mati, Felipe Baloy menyambut bola lambung yang ia ceploskan ke gawang Jordan Pickford dengan kaki kanan.

Inilah gol pertama Panama sepanjang sejarah Piala Dunia. Gol inilah yang menciptakan pesta di dalam pesta. Seluruh suporter Panama dengan atribut serba merah, berjingkrak riang gembira menyambut gol itu. Mereka tidak peduli jika komentator mengatakan bahwa gol itu adalah gol hiburan, karena ya, mereka jelas terhibur dengan gol itu.

Wasit akhirnya meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Dengan hasil ini, Inggris dengan mantap lolos dari Grup G. Skor telak 6-1 setidaknya bisa jadi modal pada laga berikutnya melawan Belgia. Namun Inggris harus berhati-hati karena Belgia juga lolos dari Grup G lewat sebuah pesta. Sehingga pertemuan antara keduanya akan sangat menarik karena akan menentukan siapa yang bakal jadi juara grup, siapa yang sah menyandang status “si raja pesta”.

Komentar