Mulut Besar Eric Cantona vs Zlatan Ibrahimovic

Berita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Mulut Besar Eric Cantona vs Zlatan Ibrahimovic

Kepindahan Zlatan Ibrahimovic dari Paris Saint-Germain ke Manchester United menjadi salah satu sorotan bursa transfer musim panas 2016/17. Tak heran, kedatangan Ibrahimovic pun disambut begitu gembira oleh pendukung dan eks pemain Manchester United.

Salah satu pihak yang gembira dengan kedatangan Ibrahimovic adalah legenda hidup United, Eric Cantona. Ya, sosok yang dikenal karena tendangan kungfu ke pendukung Crystal Palace ini mengakui bahwa keputusan Ibrahimovic untuk pindah ke United adalah pilihan terbaik yang pernah ia buat.

“Ketika Anda (Ibrahimovic) berjalan ke Theatre of Dreams (sebutan Old Trafford), Anda pasti akan merasakan bayangan dari legenda yang pernah bermain di sini sebelumnya. Keputusan untuk menjadi seorang United, adalah pilihan terbaik yang Anda buat,” ucap Cantona (19/7) seperti dikutip dari The Guardian.

Meski demikian, Cantona yang juga dikenal “bermulut besar” tak segan memberikan "pernyataan khusus" menyambut kedatangan Ibrahimovic. Dalam pernyataan lanjutan yang dikeluarkan Cantona, ia menyebut bahwa Ibrahimovic tidak akan bisa menjadi raja, seperti yang sudah ia lakukan di kesebelasan-kesebelasan sebelumnya yang ia perkuat.

“Tapi satu hal yang pasti, hanya ada satu raja di Manchester, yakni saya. Anda bisa menjadi pangeran di sini jika menginginkannya,” lanjutnya.

Sontak pernyataan Cantona didengar Ibrahimovic. Dan, bukan Ibrahimovic namanya jika tidak membalas komentar orang lain tentang dirinya. Pemain timnas Swedia ini pun membalas, “Saya mengidolakan Cantona dan mendengar yang ia ucapkan. Tapi, saya tidak ingin menjadi raja di Manchester, sebab saya akan menjadi tuhan (dewa).”

Psywar tersebut pun menjadi begitu tenar dalam beberapa hari terakhir tentang siapa yang lebih “bermulut besar”, Eric Cantona atau Zlatan Ibrahimovic. Ya, keduanya memang dikenal kerap membuat panas telinga beberapa pihak karena mulut besar-nya.

Banyaknya komentar yang mereka berdua keluarkan tak jarang menyudutkan satu pihak atau membuat perspektif yang sama. Berikut beberapa komentar dari keduanya yang membahas mengenai isu atau pihak yang sama.

Tentang Prancis

Cantona: Prancis adalah negara yang buruk. Meski Prancis adalah tempat kelahiran saya, namun saya tidak peduli dengan apa yang terjadi mengenai (sepakbola) di sana. Sebab, orang Prancis hanya memiliki pemikiran yang isinya negatif.

Ibrahimovic: Selama 15 tahun bermain, saya tidak pernah melihat seperti ini. Negara ini (Prancis) begitu buruk. Ligue 1 (kompetisi utama sepakbola Prancis) bahkan tidak berada di level saya, atau kompetisi yang pernah saya mainkan sebelumnya.

Pilihannya bermain

Cantona: Saya beruntung memiliki kebebasan untuk memilih kesebelasan mana yang akan saya bela.

Ibrahimovic: Zlatan tidak pernah mengikuti seleksi (untuk masuk ke suatu kesebelasan - dalam hal ini adalah Arsenal).

Pep Guardiola dan Jose Mourinho

Cantona: Saya menyukai Jose Mourinho. Tapi melihat sepakbola yang dia mainkan, saya pikir dia tidak tepat berada di sini. Saya cenderung menyukai Pep Guardiola berada disini (United). Dia satu-satunya yang pantas menangani United. Saya pikir dia kini berada di tempat yang salah.

Ibrahimovic: Jose Mourinho adalah seorang bintang dan seseorang yang menyenangkan. Sementara Pep Guardiola sebaliknya. Dia kerap membuat saya untuk selalu berpikir keluar (dari Barcelona). Saya pikir Mourinho adalah orang yang biasa membuat cahaya dalam sebuah ruangan menyala, sementara Guardiola adalah orang yang biasa membuat orang lain ketakutan.

Pandangannya tentang kemenangan dan menjadi terbaik

Cantona: Saya selalu berpikir untuk berada di lapangan untuk bermain dan bersikap seperti kesebelasan yang akan kalah. Sebab, saya tahu bahwasanya saya nantinya yang akan memenangkan pertandingan.

Ibrahimovic: Saya adalah yang nomor satu dan juga pemenang. Kenyataan bahwa saya tidak pernah memenangkan Ballon d`Or, tidak cukup membuktikan saya tidak nomor satu atau juga pemenang.

Komentar