Celta Vigo dan Ambisi Menjadi EuroCelta Kedua

Berita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Celta Vigo dan Ambisi Menjadi EuroCelta Kedua

Pada awal 2000-an, beberapa media Spanyol menyebut Celta Vigo dengan nama EuroCelta. Alasannya,  beberapa pemain bintang dari beragam daerah bermain di sana. Pemain-pemain bintang tersebut adalah Aleksandr Mostovoi, Valery Karpin, Claude Makelele,  Benni McCarthy, Juanfran, Lyuboslav Penev, Pablo Cavallero dan Eduardo Berizzo.

Nama-nama tersebut berhasil membawa Celta menjuarai Piala Intertoto 2000, yang juga merupakan prestasi terbaik Celta sejauh ini. Mereka pun sukses berada di empat besar La Liga.

Namun pada musim 2014/15, skuat Celta tidak diisi satu pemain bintang pun. Kedatangan Luis Enrique pada musim sebelumnya tidak mampu membawa pemain bintang untuk singgah di Balaidos, kandang Celta. Tapi meski skuatnya compang-camping, pelatih Celta yang juga bagian dari EuroCelta, Berizzo mampu membawa Celta duduk di peringkat kedelapan klasemen La Liga.

Berizzo pun seakan memperbarui apa yang dilakukan oleh Luis Enrique, pelatih Celta sebelumnya. Meski tetap menggunakan taktik ball possession mirip Enrique, ia juga menambah dengan pressing tinggi saat lawan berada di wilayah permainan Celta.

Celta Vigo milik Berizzo pun tak hanya dikenal sebagai tim yang memilki pakem khas. Berizzo menekankan bahwa skuatnya harus dapat beradaptasi dengan taktik-taktik baru yang bisa saja berganti dalam setiap pertandingan.

Sebagai contohnya saat klub asal Galicia ini melawan Barcelona. Kemenangan telak Celta pada laga tersebut disebut media Spanyol sebagai mesin serangan balik, karena cepat dan padunya serangan balik yang mereka lakukan.

Eduardo Berizzo bahkan mengatakan taktik timnya dapat berganti kapan pun dibutuhkan. Ia pun mengatakan bahwa kesuksesan tim ini tak lain hasil dari kerja keras bersama. “Kini kami duduk di papan atas La Liga. Padahal tiga musim lalu kami masih berada di zona degradasi,” jelasnya.

“Target kami tidak pernah berubah tiap pekannya. Kami bahkan selalu berpikir bahwa kami dapat mengalahkan siapapun di lapangan. Kami yakin dengan hal tersebut sebab kami telah bekerja keras dan selalu berupaya untuk menyulitkan lawan di lapangan,” ujar Berizzo kepada Football Espana.

Berizzo pun menerangkan bahwa tidak ada pemain bintang di skuatnya merupakan keuntungan bagi timnya. Ia mengatakan bahwa pemain sayap dan striker selalu berlatih sprint dan ketangkasan dalam setiap latihan pagi. “Tujuannya ketangkasan agar pemain depan dapat berupaya mencari posisi saat kami sedang memegang bola,” tambahnya.

Ucapan Berizzo mengenai possession dan permainan terbuka pun terlihat di lapangan. Celta rata-rata unggul possession 59 %. Selain itu, 22 dari 26 gol mereka berasal dari permainan terbuka dan serangan balik cepat. Tak hanya itu, trio striker Celta juga cukup tajam. 73 % dari 26 gol Celta dicetak oleh lini depan mereka yang diisi Nolito, Iago Aspas, dan Fabian Orellana.

Trio striker tersebut membuat Celta menorehkan jumlah gol terbanyak ketiga di La Liga. Celta yang berada di posisi keempat menorehkan 26 gol, berada di bawah Barcelona dan Real Madrid, yang mencetak 36 dan 32 gol.

Meski La Liga baru berjalan hingga pekan ke-15, tidak ada salahnya memprediksi Celta dapat kembali bangkit layaknya 15 musim yang lalu. Selain karena agar kompetisi Spanyol semakin panas, tentu kita ingin melihat bagaimana EuroCelta versi kedua.

Sumber : AS, Football Espana, Whoscored

Komentar