Piala FA, Flare, dan Liga Inggris yang Tak Aman Lagi?

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Piala FA, Flare, dan Liga Inggris yang Tak Aman Lagi?

Keberhasilan Reading melaju hingga babak semifinal Piala FA tercoreng setelah aksi tak terpuji sejumlah suporter usai pertandingan. Mereka memasuki lapangan, menyalakan suar (flare), dan mengintimidasi suporter lawan.

Media Inggris pun memberi porsi besar atas kejadian ini. Seperti yang kita tahu, suar sudah tidak diperbolehkan dibawa ke stadion. Suar yang menyala setelah pertandingan memberi tanda tanya besar bagi sistem keamanan di Stadion Madjeski, kandang Reading. Walaupun dinyalakan usai pertandingan, tapi tetap saja, membawa suar ke dalam stadion bukan hal yang wajar di Inggris.

Hal tersebut juga memancing kemarahan penggemar Bradford. Mereka menganggap keamanan stadion berlaku tak adil. Sebelum pertandingan, salah seorang dari mereka diperingatkan karena membawa kembang api ke stadion. Belum lagi, pada jeda turun minum, seorang penggemar Bradford ditahan oleh kepolisian karena dituduh meneriakkan kata-kata rasis kepada pemain Reading, Garath McCleary.

Terkait dengan perkataan Rasis kepada McClearly, juru bicara Reading mengatakan bahwa pria berusia 36 tersebut dituduh meneriakkan kata-kata rasis jelang pertandingan babak pertama usai. McClearly pun terkejut dengan teriakan tersebut. Ia lantas memberi tahu asisten wasit, yang kemudian diteruskan pada wasit keempat, yang langsung ditanggapi oleh kepala keamanan stadion Madjeski.

Siapa Sih Bradford Itu? 

Usai pertandingan, penggemar Reading merayakannya dengan berlebihan. Mereka memasuki lapangan dengan gestur mengejek penggemar Bradford. Penggemar Reading pun menyalakan suar berwarna biru muda, sama dengan warna The Royals, julukan Reading, ke tribun  selatan, tempat penggemar Bradford berada.

Kemenangan 3-0 Reading tersebut semakin tercoreng setelah beberapa penggemar Reading mengeluarkan korek dan berkata, “fire, fire, fire.” Bagi Bradford, ini seperti menguak luka di masa lalu. Kala itu, 11 Mei 1985, kandang Bradford, Valley Parade, terbakar.

Kebakaran bermula saat seorang penggemar membuang puntung rokok yang menyelip masuk ke bawah stadion. Api pun mulai menyebar karena area tersebut dipenuhi oleh kertas-kertas. Stadion yang terbuat dari kayu pun memudahkan api menyebar ke sekeliling stadion. Sebanyak 59 penggemar tewas, dan ratusan lainnya mengalami luka berat. Bukan angka yang kecil. 59 orang tewas terpanggang! Jelas sebuah tragedi yang memilukan dan mengerikan.

Kemarahan penggemar Bradford pun tersebar di twitter. Mereka tak senang atas perilaku penggemar Reading yang terlalu berlebihan merayakan kemenangan. Bagi Reading, ini adalah untuk kali pertama dalam 88 tahun terakhir, mereka bisa lolos ke semifinal Piala FA.

Chris Hilton misalnya. Pemegang tiket terusan Bradford ini mencuit: “Suar dilemparkan ke tribun #BCAFC  dari penggemar Reading.” Salah seorang saksi mata kepada Daily Mail menegaskan bahwa tidak ada yang dilakukan oleh stewards yang menjaga di stadion. “Seorang remaja dengan jelas melemparkan suar ke arah kerumunan penggemar Bradford saat pertandingan berakhir. Steward hana duduk-duduk dan membiarkan itu terjadi,” kata saksi mata tersebut.


Siapa nih yang buang sampah sembarangan? (Sumber: dailymail.co.uk)

Namun, hal berbeda dinyatakan oleh bekas pemain nasional Inggris, Gary Lineker. Ia yang menjadi komentator dalam BBC Live Coverage yang disiarkan langsung dari Stadion Madejski, menggambarkan invasi penonton ke atas lapangan sebagai “lovely scene” dalam kejadian usai pertandingan. Komentar tersebut jelas mengejutkan karena masuknya penonton ke lapangan, dapat menjadi masalah bagi keamanan itu sendiri.

Masuknya penonton ke atas lapangan, juga membuat penggemar Bradford kesal. Mereka menganggap perayaan kemenangannya terlalu berlebihan. Saat penggemar Bradford mencoba memasuki lapangan, stewards menahan mereka. Penggemar Bradford pun melampiaskan amarahnya dengan melemparkan berbagai hal ke atas lapangan.

Atas kejadian ini, polisi hanya menahan seorang penggemar Reading. Sementara itu, dua penggemar Bradford juga ditahan; satu karena dicurigai membawa obat terlarang, satu yang lain karena tertangkap berbuat onar karena mabuk.

Ini merupakan kejadian kedua setelah kejadian serupa terjadi dalam pertandingan antara Aston Villa menghadapi West Bromwich Albion di ajang yang sama. Pada pertandingan tersebut, bahkan kedua suporter langsung terlibat gesekan. Penggemar West Brom menghancurkan kursi, dan melemparkannya ke arah pendukung Villa.

Masuknya penonton ke atas lapangan juga terjadi. Bahkan, kapten Villa, Fabian Delph menyatakan suasana saat itu amatlah menakutkan. Ratusan penggemar mengerubungi Delph, dan bahkan ada yang mencoba untuk mengambil sepatunya.

“Ban kaptenku sobek, seseorang mengambil paksa sepatuku, tapi aku mengapresiasi dorongan suporter setelah hasil pertandingan itu,” kata Delph seperti dikutip Guardian, “Kejadian tersebut amatlah berbahaya. Seseorang mencoba mengambil paksa sepatuku. Orang-orang mencoba mencium dan menggitku. Itu sangatlah menakutkan.”

Kejadian ini bukan cuma memalukan bagi Reading maupun Villa, tapi juga otoritas sepakbola Inggris. Dengan masuknya penonton dalam jumlah banyak, jelas membahayakan keselamatan pemain. Selain itu, masuknya penonton akan mengganggu jalannya pertandingan serta siaran televisi, karena menghadirkan pemandangan yang tidak elok.

Penurunan keamanan ini sudah terasa sejak musim 2014/2015 dimulai. Dari penggemar yang mencoba melakukan tendangan bebas, hingga trik kotor dalam rangka pemasaran produk. Dengan sejumlah masalah yang ada, mungkinkah ke depannya Liga Inggris makin diminati? Atau malah penggemar beralih ke Liga Jerman dan Liga Prancis yang tidak kalah kreatif mengelola liga mereka?

Sumber foto: dailymail.co.uk

Komentar