"Si Rasis" Sagnol Dibela oleh Para Pemain Afrika

Berita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Willy Sagnol, manajer Girondins de Bordeaux, terlihat menangis di tempat duduknya saat ia menemani pasukannya bertanding di kandang Racing Club de Lens. Beban hidup Sagnol belakangan memang sedang berat-beratnya. Tuduhan rasisme mencoreng wajah manajer muda yang karirnya terlihat menjanjikan itu.

Sebuah aksi yang menyentuh terlihat di menit ke-40 pada pertandingan semalam. Cheick Diabaté, pencetak gol kedua Bordeaux, memimpin rekan-rekannya menghampiri Sagnol yang masih menangis. Diabaté dan para pemain Bordeaux lainnya menunjukkan dukungan nyata untuk manajer mereka.

Belakangan pria yang pernah bermain untuk Bayern München tersebut memang dipandang sebagai pesakitan. Komentarnya mengenai pemain Afrika membuat dirinya dipandang rasis oleh banyak pihak. Termasuk di antaranya adalah Lilian Thuram, eks rekan satu tim Sagnol di tim nasional Perancis, dan Antoine Kombouaré, manajer Lens.

“Apa yang ia katakan adalah sesuatu yang serius. Itu tidak dapat diterima. Ia mengatakan bahwa pemain Afrika berharga lebih murah. Itu membuat saya merasa direndahkan dan tersakiti,” ujar Kombouaré sebagaimana dikutip oleh Fox Sports.

Sagnol pernah berkata bahwa para pemain Afrika memiliki dua keunggulan; berharga murah dan siap bertarung. Apa yang membuatnya menjadi masalah adalah ucapan Sagnol yang mengikuti opini tersebut. “Namun sepakbola bukan soal itu saja. Sepakbola juga membutuhkan teknik dan kecerdasan,” ujarnya.

Itulah yang membuat Kombouaré dan banyak pihak lainnya berang. Eks pemain andalan tim nasional Perancis itu sendiri sepenuhnya memahami reaksi masyarakat. Masyarakat hanya salah menangkap maksud dibalik ucapannya. Ia pun sudah melayangkan permintaan maaf. Menurut Sagnol, apa yang membuat banyak orang marah kepadanya adalah kesalahpahaman semata; kesalahapahaman yang timbul dari ucapan yang tidak jelas dan semantik yang tidak sempurna.

“Ketika saya berbicara mengenai pemain Afrika yang berharga murah dan siap bertarung, saya merujuk kepada pemain muda Afrika yang datang ke Eropa dengan semua kemauan untuk menang dan seringkali dengan tujuan untuk membebaskan diri dari situasi sulit,” ujarnya menjelaskan.

“Kemudian, karena kita sedang membicarakan sepakbola, kecerdasan yang saya maksud jelas-jelas merujuk kepada kecerdasan taktikal. Pelatihan pemain muda di Afrika, mungkin karena kurangnya dana atau infrastruktur, tidak selalu selengkap Eropa,” tambah Sagnol.

Penjelasan Sagnol bisa dibilang masuk akal. Pasalnya, kapten Bordeaux, Ludovic Lamine Sané, adalah pemain Afrika. Sané sendiri mengatakan bahwa Sagnol memiliki kepercayaan yang besar terhadap semua pemain berkulit hitam di Bordeaux. Ras dan warna kulit tidak menjadi pertimbangan Sagnol ketika memilih pemain.

“Ia tidak memiliki pandangan yang buruk. Ia memiliki rasa percaya kepada semua pemain berkulit hitam di tim. Kami percaya kepadanya dan kami berharap mampu melaju jauh bersamanya,” ujar Sané.

Kepercayaan yang diberikan oleh Sagnol dibayar dengan baik oleh para pemainnya. Tanpa ragu, dipimpin oleh Diabaté, para pemain Bordeaux memberikan dukungan moral kepada sang manajer. Tanpa ragu, di pertandingan yang disiarkan ke seluruh dunia, mereka nyata-nyata menunjukkan pembelaan terhadap Sagnol, yang menurut mereka memang tidak bermaksud rasis.



Komentar