Pesta Gol Tutup "Sesi Pemanasan" Indonesia

Analisis

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Pesta Gol Tutup "Sesi Pemanasan" Indonesia

Kemenangan Indonesia dengan skor 5-1 atas Laos, Minggu (12/12), patut disambut dengan gembira. Hasil tersebut bukan hanya mengantarkan timnas memuncaki klasemen sementara Grup B, melainkan juga menunjukkan adanya peningkatan performa yang memuaskan.

Berbeda dengan laga pembuka melawan Kamboja yang terbilang ketat, Indonesia memenangi pertandingan vs Laos dengan cukup nyaman. Skuad Garuda membuktikan diri bahwa mereka memang berada satu kelas di atas skuad asuhan V. Selvaraj, terbukti dengan keunggulan penguasaan bola sebesar 74,1%.

Dominasi Evan Dimas dkk dalam menguasai bola tidak terlepas dari formasi 5-4-1 dan sistem pertahanan low block yang digunakan Laos sejak menit pertama. Hanya menyisakan penyerang Billy Ketkeo di antara dua bek tengah Indonesia, hampir seluruh sisa pemain Laos berkumpul di dekat kotak penalti sendiri, menunggu kesempatan untuk melakukan serangan balik.

"Pemberian" Laos dimanfaatkan dengan baik oleh para pemain Indonesia. Mereka cukup tenang dan sabar dalam mengatur tempo. Hal ini berujung peningkatan jumlah operan (536 vs Laos, 383 vs Kamboja) dan akurasi yang signifikan (86% vs Laos, 79,9% vs Kamboja).

Sejalan dengan perbaikan dalam mengoper bola, jumlah peluang yang didapatkan pun meningkat drastis. Indonesia total mencatatkan 26 tembakan dan, dari sembilan yang mengarah ke gawang, lima di antaranya berbuah gol. Jelas tidak buruk, meski akurasi secara keseluruhan (34,6%) tentu masih patut diperbaiki.

Buah Keputusan STY

Permasalahannya, Indonesia baru benar-benar "panas" di babak kedua, lebih tepatnya setelah Shin Tae-yong memasukkan Elkan Baggott (menggantikan Rachmat Irianto) pada menit ke-46. Kehadiran Elkan, yang diturunkan untuk pertama kalinya di Piala AFF 2020, menghadirkan ketenangan di barisan pertahanan yang tak muncul sepanjang babak pertama.

Penempatan posisi pemain berusia 19 tahun tersebut mampu memperbaiki bentuk formasi dan transisi dari menyerang ke bertahan timnas yang berantakan di babak pertama (bahkan sejak melawan Kamboja). Aliran bola dari lini belakang juga semakin terukur; serangan dibangun bukan semata-mata untuk menekan, melainkan membongkar pertahanan lawan.

Kemampuan Elkan sebagai (meminjam istilah Football Manager) ball-playing defender dapat dikatakan menjadi salah satu kunci pola permainan yang diterapkan oleh STY, yakni garis pertahanan tinggi dan pressing ketat, bisa berjalan. Tujuannya jelas: tak memberikan lawan ruang bernafas sejak sepertiga pertama.

Elkan bukan satu-satunya yang menonjol di atas lapangan. Keputusan STY menarik keluar Rachmat Irianto, alih-alih bek tengah ketika Elkan masuk, terbilang jitu. Alfeandra Dewangga sukses menjalankan perannya sebagai gelandang bertahan dengan baik. Tak hanya disiplin, ia juga punya kemampuan dan visi operan yang mumpuni.

Secara keseluruhan, kejelian STY melakukan perubahan setelah jalannya babak pertama patut diacungi jempol. Selain Elkan, Witan Sulaeman juga diturunkan di awal babak kedua (menggantikan Kushedya Hari Yudo). Pergantian ini tidak terlepas dari perubahan pola permainan.

STY menyadari bahwa cara terbaik untuk membongkar pertahanan Laos adalah memanfaatkan lebar lapangan. Indonesia tidak bisa terus-menerus berharap pada operan terobosan kepada tiga penyerangnya yang selalu berdekatan di babak pertama.

Dengan kemampuan jelajah Witan sebagai pemain nomor 8, serta pergerakan aktif rekan-rekannya mengisi ruang kosong ketika tanpa bola, permainan Indonesia jauh lebih dinamis. Dan, ketika Witan mencetak gol ketiga timnas ke gawang Laos, sesungguhnya pertandingan telah berakhir.

Berakhirnya "Sesi Pemanasan"

Kini, satu-satunya pertanyaan tersisa, apakah kita harus kembali mengandalkan kemampuan STY membaca arah permainan ketika melawan Vietnam (15/12) dan Malaysia (19/12)? Rasanya terlalu riskan untuk menyandarkan seluruh harapan hanya di salah satu babak kala menghadapi dua tim tersebut, yang kelasnya berada di atas Kamboja, Laos, dan bahkan timnas sendiri.

Terlebih, jika melihat laga melawan Kamboja, keputusan mengganti Ryuji Utomo dengan Victor Igbonefo di awal babak kedua hampir menjadi bumerang. Masuknya Syahrian Abimanyu untuk menggantikan Evan Dimas juga gagal melepaskan Indonesia dari tekanan.

Barangkali, rotasi besar-besaran dengan mengganti lima pemain dari susunan pertama di laga melawan Laos adalah bentuk persiapan terakhir STY jelang hari-hari penentuan. Jangan lupa, beberapa pemain juga telat bergabung dengan tim di Singapura sebab satu dan lain alasan (kebanyakan karena ketidakjelasan kebijakan federasi dan jadwal Liga 1).

Dengan pelbagai eksperimen dan pematangan yang telah dilakukan, semoga saja skuad Garuda dapat langsung terbang tinggi sejak menit pertama di pertandingan-pertandingan selanjutnya.

Komentar