Penebusan David Moyes, Kebangkitan West Ham

Analisis

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Penebusan David Moyes, Kebangkitan West Ham

West Ham United masih bersaing demi tiket Liga Champions ketika Premier League sudah memasuki gameweek 32. Dengan enam pertandingan tersisa, The Hammers memiliki jumlah poin yang sama dengan Chelsea di peringkat empat dan hanya terpaut empat angka dari peringkat ketiga, Leicester City.

Kiprah West Ham musim ini cukup mengejutkan. Musim lalu, Lukasz Fabianski dan kawan-kawan hampir terdegradasi. Mereka mengakhiri musim 2019/20 di peringkat 16, hanya terpaut lima poin dari Bournemouth dan Watford yang terdegradasi.

Kesukesan West Ham tentu tak bisa dipisahkan dari peran sang pelatih yang kini mendapatkan kesempatan layak, David Moyes. Musim lalu, Moyes juga lah yang menyelamatkan West Ham dari degradasi. Kini, ia tidak hanya membawa The Hammers ke posisi yang lebih stabil, melainkan membimbing timnya mengganggu dominasi klub besar seperti yang dilakukannya di Everton dulu.

Ini adalah musim penuh pertama Moyes membesut The Hammers. Sebelumnya, ia datang hanya sebagai solusi jangka pendek. Pada 2017/18, Moyes menggantikan Slaven Bilic dan membawa klub bertahan di Premier League. Namun, pelatih Skotlandia itu tak dipermanenkan West Ham yang pilih mendatangkan Manuel Pellegrini.

Keputusan tersebut terbukti keliru, karena Pellegrini justru kesulitan mengangkat West Ham dari papan bawah pada 2019/20. Sekali lagi, Moyes ditugasi menyelamatkan klub dari jurang degradasi. Ia memang mampu melakukannya. Tetapi, rekor Moyes sejatinya tidak cukup baik.

Pada 2019/20, ia hanya meraih lima kemenangan dan sembilan kali kalah dari 19 laga Premier League. Rata-rata poin-per-pertandingan Moyes hanyalah 1,05.

Hasil itu lebih buruk dibanding masa bakti Moyes pada 2017/18. Ia meraih delapan kemenangan dan 10 kali kalah dari 27 pertandingan Premier League pada musim itu. Rata-rata poin-per-pertandingannya 1,22.

Akan tetapi, hasil yang tak begitu menggembirakan nyatanya tak membuat direksi West Ham melepasnya. Moyes masih dipercaya menyelesaikan kontrak 18 bulan yang ditandatangani pada Desember 2019. Untuk mempersiapkan musim 2020/21, Moyes memiliki banyak waktu. Hasilnya pun amat positif bagi publik The Hammers.

“Tahun lalu ketika saya datang, misinya adalah menghindari degradasi. Dan bahkan sebelum itu [pada 2017/18] juga menghindari degradasi. Jadi ini adalah pertama kalinya saya mendapat kesempatan untuk memimpin klub sejak dari pra-musim hingga akhir musim. Dan saya berhasil membawa mereka bersaing di sekitar papan atas,” kata Moyes kepada Evening Standard.

Paduan Transfer Tepat dan Ruang Ganti yang Sehat

Beberapa musim belakangan, West Ham identik dengan transfer mahal yang mengecewakan. Mereka menghabiskan 38 juta euro untuk Felipe Anderson, 18 juta untuk Javier “Chicharito” Hernandez, dan memecahkan rekor transfer klub senilai 50 juta euro untuk Sebastian Haller. Ketiganya gagal memberikan impak signifikan.

Rekrutmen West Ham jauh lebih efektif sejak kedatangan Moyes. Pada musim dingin 2020, ia merekrut Jarrod Bowen dan Tomas Soucek. Eks rekan setim Soucek, Vladimir Coufal kemudian menyusul. The Hammers pun mendatangkan bintang EFL Championship lain, Said Benrahma dari Brentford. Jesse Lingard dan Craig Dawson, dua pemain yang tak terpakai di klub masing-masing, dipinjam West Ham dan tampil baik.

Kedatangan Soucek sukses mentrasformasi lini tengah West Ham. The Hammers tak lagi kedodoran di tengah berkat duet solid Declan Rice dan Soucek. Dalam diri gelandang Republik Ceko tersebut, Moyes seolah menemukan Marouane Fellaini yang baru.

Soucek tak hanya penting dalam menjaga stabilitas permainan. Kepiawaian merangsek dari lini kedua dan kemampuan duel udaranya juga menjadi outlet serangan berbahaya West Ham. Ia telah mencetak 12 gol dan satu asis untuk The Hammers. Musim ini, ia menjadi top skor sementara klub dengan sembilan gol, sama dengan Jesse Lingard.

Ke-12 gol Tomas Soucek dicetak dari dalam kotak penalti. Sedangkan lima gol di antaranya dicetak melalui sundulan.

Eks bintang Hull City, Jarrod Bowen juga terus tampil impresif di bawah Moyes. Ia tak hanya pandai menjadi kreator peluang, tetapi juga mematikan sebagai opsi penyelesaian. Musim ini, Bowen telah mencetak delapan gol dan lima asis Premier League.

Bowen adalah winger dengan dua kaki yang sama kuatnya. Pergerakannya juga cepat dan lincah. Kemampuan itu membuat Moyes sering memasangnya sebagai penyerang tengah, terutama jika Michail Antonio cedera.

Dari kebangkitan West Ham musim ini, Jesse Lingard berkontribusi dengan performa yang sensasional. Di Manchester United, ia nyaris tak terpakai. Tetapi, setelah berseragam West Ham, Lingard mampu tampil impresif.

Meskipun baru datang pada akhir Januari, Lingard terus mencetak gol dan menjadi top skor klub. Moyes berhasil mengasah potensi dan mengembalikan kepercayaan diri pemain 28 tahun tersebut.

Di West Ham, Lingard cenderung bermain langsung (direct) dan diandalkan sebagai outlet serangan balik. Tak seperti di Manchester United, ia tak lagi dituntut membuat peluang bagi rekan-rekannya. Rata-rata umpan kunci Lingard menurun di West Ham. Musim lalu bersama Setan Merah, Lingard mencatatkan rata-rata 1,64 per petandingan. Bersama The Hammers, rata-rata umpan kuncinya menurun jadi 0,82 per pertandingan.

Lingard juga menorehkan rasio tembakan tepat sasaran yang lebih baik. Ia membuat 16 tembakan tepat sasaran dari 28 tembakan, sembilan di antaranya berbuah gol. Rata-rata tembakan per pertandingannya (2,83) memang tak berbeda jauh dengan musim terbaiknya di MU (2017/18). Namun, rasio tembakan tepat sasaran Lingard menunjukkan perkembangan berarti. Di West Ham, Lingard berhasil memosisikan diri menjadi bagian gelombang serangan balik yang efisien.

Cerita serupa terjadi kepada Craig Dawson. Sebelum datang ke London Stadium, ia kesulitan mendapat menit bermain di Championship bersama Watford. Moyes berhasil mengungkap kemampuan bek Inggris tersebut.

Di skuad West Ham musim ini, ia menjadi bek dengan persentase keberhasilan duel udara terbaik (69,2%). Dawson bahkan telah mencetak tiga gol untuk klub.

Moyes berhasil mengembalikan kepercayaan diri Lingard dan Dawson. Dua pemain ini pun segera terintegrasi ke dalam skuad.

Suasana ruang ganti yang positif adalah tulang punggung kebangkitan West Ham musim ini. Moyes berhasil menyatukan para pemain ke dalam satu kelompok yang padu. Hubungan rekat antara sang pelatih dan para pemain terlihat dari selebrasi “Backstreet Moyes” yang dilakukan Lingard, Fornals, Rice, dan Soucek.

Moyes pun berhasil mengatasi masalah potensial sejak dini. Ketika Mark Noble secara terbuka memprotes penjualan Grady Diangana, isu ini dapat diselesaikan baik-baik dan tak merembet ke performa.

Untuk mengelola ruang ganti, Moyes sendiri memiliki staf yang cukup ternama di West Ham. Salah duanya adalah Stuart Pearce dan Kevin Nolan yang berstatus mantan pemain The Hammers. Nolan adalah kapten tim ketika Rice dan pemain segenerasinya masih berlatih di tim muda.

Bertahan dengan Rapat, Efektif dalam Serangan Balik

Musim ini, Moyes masih mengandalkan sistem 4-2-3-1. Eks pelatih Everton itu juga terkadang menurunkan skema tiga bek yang berubah menjadi lima bek ketika bertahan. Dengan dua formasi tersebut, Moyes menginstruksikan timnya untuk bertahan dengan rapat dan mencetak gol via serangan balik.

Dalam bertahan, The Hammers berupaya menutup ruang antar lini. West Ham cenderung pasif, berusaha menutup ruang dengan menjaga kerapatan antara lini belakang dan lini tengah.

Rice dan Soucek pun menjadi poros West Ham di sepertiga pertahanan. Dua gelandang bertahan ini diandalkan Moyes untuk menyetop serangan lawan dan merebut bola untuk memulai serangan balik. Keduanya menjalankan peran dengan baik. Rice dan Soucek adalah pemain dengan jumlah intersep tertinggi di West Ham, masing-masing 62 dan 45.

Kedua bek sayap juga harus bekerja keras dalam skema ini. Pasalnya, area tengah yang tertutup rapat cenderung membuat lawan mengalihkan serangan ke sayap. Vladimir Coufal dan Aaron Cresswell atau Arthur Masuaku pun dituntut sigap menutup celah. Coufal adalah pemain dengan jumlah blok tertinggi (64) di skuad West Ham. Sedangkan Cresswell (44), Masuaku (35), dan gelandang kiri Pablo Fornals (43) juga rajin memblok upaya lawan.

West Ham pun mengembangkan serangan balik cepat yang menjadi andalan mereka mencetak gol. The Hammers sering menurunkan hingga enam pemain untuk serangan balik. Selain striker, winger, dan gelandang serang, Soucek dan satu full-back juga ikut naik membantu serangan.

West Ham sendiri memiliki sederet pemain cepat untuk melancarkan serangan balik. Kombinasi Antonio, Lingard, dan Bowen cepat dan berbahaya. Said Benrahma pun dapat menjadi opsi untuk melapisi mereka.

Selain itu, West Ham juga memaksimalkan kemampuan bola udara mereka untuk mencetak gol. Selain Soucek, empat bek tengah senior The Hammers, Dawson (3), Diop (2), Ogbonna (2), serta Balbuena (1) telah mecetak gol di Liga Inggris musim ini. 12 dari 42 gol West Ham dicetak melalui sundulan, tertinggi di Liga Inggris bersama Everton.

Dari situasi bola mati, West Ham telah mencetak 10 gol (tertinggi di Premier League). Bek kiri The Hammers, Aaron Creswell menjelma eksekutor bola mati yang mumpuni. Lima dari tujuh asis Cresswell dikirim dari situasi bola mati.

Misi Liga Champions dan Penebusan David Moyes

Sepanjang 126 tahun eksistensi klub, West Ham belum pernah lolos ke Liga Champions. Kini, Moyes memiliki peluang terbuka untuk membawa The Hammers ke kompetisi elite tersebut.

Kiprah impresif bersama West Ham pun menjadi penebusan bagi David Moyes. Sebelumnya, pelatih berusia 57 tahun ini mengalami tiga kegagalan beruntun di Manchester United, Real Sociedad, dan Sunderland.

Tiga kegagalan tersebut merusak reputasi Moyes. Ia pernah sukses bersama Everton dan Preston North End. Namun, semua berubah ketika Moyes menjadi The Chosen One.

Pada 2013/14, Moyes gagal menjadi penerus Sir Alex Ferguson di Old Trafford. Ia hanya bertahan selama 34 pertandingan Premier League, hanya berhasil meraih 17 kemenangan dan 11 kali kalah. Melawan rival enam besar, Moyes bahkan hanya menang sekali dari 10 kesempatan.

Sederet hasil negatif membuat Moyes didepak pada April 2014. Pada akhir musim, Setan Merah gagal lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya sejak 1995.

Setelah didepak United, Moyes sempat istirahat dari karier manajerial dan bekerja di UEFA. Ia baru kembali melatih pada November 2014, menangani Real Sociedad. Namun, eks pelatih Preston ini kesulitan beradaptasi dengan sepakbola Spanyol. Ia pun didepak pada awal musim 2014/15.

Sekembalinya di Inggris, nama baik Moyes semakin terjerumus. Ditunjuk sebagai pelatih Sunderland, ia gagal meloloskan The Black Cats dari jurang degradasi. Mereka mengakhiri musim 2016/17 sebagai juru kunci Premier League dan Moyes mengundurkan diri.

Kini, Moyes berhasil memulihkan reputasinya di West Ham. Pelatih kelahiran Glasgow ini menunjukkan bahwa ia masih bisa bersaing di Premier League. Di London Stadium, Moyes berhasil membayar waktu dan dukungan yang diberikan.

Source foto: West Ham United

Komentar