Ryan Mason: Mengatasi Mimpi Buruk dan Menjadi Pelatih Termuda EPL

Cerita

by Redaksi 7

Redaksi 7

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Ryan Mason: Mengatasi Mimpi Buruk dan Menjadi Pelatih Termuda EPL

Ryan Mason resmi menjadi pelatih kepala termuda di Premier League pada 20 April 2021. Saat menjabat pos pelatih kepala Tottenham Hotspur, usianya baru 29 tahun 10 bulan. Delapan pemain Spurs bahkan lebih tua darinya.

Ia ditunjuk sebagai pelatih interim usai Tottenham mendepak Jose Mourinho. Sehari selang pengangkatan, Mason kembali mencetak rekor sebagai pelatih pemuda yang meraih kemenangan di EPL. Ia membawa Spurs mengalahkan Southampton pada 21 April kemarin.

Menang 2-1 atas Southampton adalah hasil penting bagi Tottenham. Tiga angka menghidupkan kembali asa Spurs untuk lolos ke kompetisi UEFA. The Lilywhites gagal menang dalam tiga pertandingan terakhir sebelum menjamu Soton. Di enam laga terakhir Mourinho, Spurs hanya meraih satu kemenangan.

Kemenangan tersebut juga istimewa bagi Mason. Ia berhasil menang di partai debutnya sebagai pelatih tim senior. Dan yang lebih penting, kemenangan itu diraih bersama klub yang dicintainya sejak kecil.

“Saya telah terhubung dengan klub ini selama lebih dari 20 tahun, waktu yang sangat lama, mengalaminya sebagai pemain dan pelatih juga. Dipercaya dengan kesempatan ini dan bisa membantu klub adalah kehormatan yang besar. Dan saya akan berusaha sebisa saya untuk membuat klub ini bangga,” kata eks pemain Spurs itu setelah ditunjuk menjadi pelatih kepala.

Ryan Mason masuk sistem pengembangan pemain muda Tottenham sejak berusia tujuh tahun. Ia adalah salah satu pemain terbaik di akademi pada generasinya. Rekan-rekan sebayanya pun mencuri perhatian dan sebagian besar berhasil merumput di klub Premier League, di antaranya adalah Steven Caulker, Jake Livermore, Danny Rose, dan Andros Townsend.

Di tim muda Tottenham, Mason tampil prolifik. Penampilan cemerlang itu membuatnya diganjar debut tim senior pada 2008, saat usianya 17 tahun. Ia turun sebagai pengganti saat timnya menghadapi NEC Nijmegen di Piala UEFA.

Akan tetapi, meskipun tampil menjanjikan untuk tim muda, Mason harus menunggu lama untuk menembus tim senior Tottenham. Dalam tulisannya untuk FourFourTwo, ia menyebut staf akademi Spurs menilainya belum siap di Premier League. Pasalnya, pertumbuhan fisiknya tergolong lambat dibanding rekan-rekan seusianya.

Pemain kelahiran Enfield, London utara itu pun harus melakoni serangkaian masa peminjaman ke klub-klub League One dan Championship. Mason bermain untuk Yeovil Town, Doncaster Rovers, dan Swindon Town pada 2009-2014.

Pada 2014/15, Mason mulai mendapatkan kesempatan yang layak di Premier League. Di musim debut Mauricio Pochettino, ia tampil dalam 31 pertandingan EPL. Semusim setelahnya, Mason membantu The Lilywhites lolos ke Liga Champions.

Akan tetapi, kurangnya jaminan starter membuat Mason memutuskan hengkang saat usianya menginjak 25 tahun. Pada 2016/17, ia direkrut Hull City dengan mahar 13 juta paun, memecahkan rekor transfer The Tigers.

Mason berniat menyelamatkan kariernya bersama Hull. Namun, kiprahnya sebagai pesepakbola justru berakhir dengan nahas. Pada Januari 2017, dalam pertandingan melawan Chelsea, Mason menderita cedera parah yang mengancam nyawa. Tengkoraknya retak usai berbenturan dengan Gary Cahill saat memperebutkan bola lambung. Mason segera dibawa ke rumah sakit dan harus dioperasi.

“Saya ingat merasakan sakit yang hebat [setelah dioperasi]. Saya punya 14 pelat metal di tengkorak, dengan 28 sekrup menahan mereka di tempatnya dan 45 staples. Saya orang yang beruntung [bisa selamat dari cedera],” tulis Mason.

Ryan Mason berangsur pulih dan memulai rehabilitasi sebagai persiapan kembali ke lapangan. Pada 2017, ia sempat kembali berlatih. Namun, setelah melakukan pemindaian, dokter menyarankannya berhenti main bola.

“Pemindaian saya pada Februari [2018] menunjukkan beberapa masalah di otak. Kami berbicara dengan beberapa ahli bedah saraf dan spesialis, dan mereka menggarisbawahi fakta tentang apa yang dapat terjadi jika saya bermain lagi,” lanjutnya.

Menurut dokter, Mason bisa terkena demensia atau epilepsi jika melanjutkan kariernya sebagai pesepakbola. Mason pun harus mengambil keputusan sulit: pensiun ketika usianya masih 26 tahun.

Dua Kali Diselamatkan Pochettino

Pensiun dini awalnya sulit bagi Mason. Namun, akhirnya dia terbiasa juga. Mason pun tak butuh waktu lama untuk kembali berkarier di sepakbola.

Di penghujung musim 2017/18, Mason bertemu dengan John McDermott, mantan pelatihnya di akademi Spurs. McDermott menawarinya gabung ke staf pelatih akademi Tottenham.

Pochettino, yang kala itu masih melatih Tottenham, menginginkannya kembali ke klub. Semasa bermain, Pochettino juga yang pertama kali memberinya kesempatan untuk tampil reguler.

Setelah mengambil kursus kepelatihan, Mason resmi menjadi pelatih tim muda Spurs. Ia dipercaya menangani tim U-19 saat bertanding di UEFA Youth League. Agustus 2020 lalu, jabatan Mason dinaikkan menjadi Kepala Pengembangan Pemain Muda, menggantikan McDermott yang kini bekerja di FA.

Saat ini, Mason sedang menempuh pendidikan untuk meraih lisensi UEFA Pro. Lisensi tersebut adalah syarat menjadi pelatih kepala di level tertinggi liga domestik di Eropa. Sebagai interim tanpa lisensi UEFA Pro, Mason hanya boleh melatih Spurs paling lama 12 pekan.

Ryan Mason kemungkinan akan melatih tim senior Spurs hingga akhir musim 2020/21. Meskipun sebentar, ia menghadapi tantangan sulit bersama Harry Kane dan kolega. Misi Spurs adalah finis di zona Liga Champions. Kini mereka masih berkutat di peringkat enam.

Tottenham memang hanya terpaut dua poin dari Chelsea di peringkat empat. Namun, mereka telah memainkan satu pertandingan lebih banyak. Pesaing Spurs yang lain, yakni Liverpool dan Everton pun masih memiliki pertandingan simpanan.

Selain itu, Mason mendapat tugas berat memimpin timnya di final Piala Liga. Ia akan menghadapi Manchester City-nya Pep Guardiola pada 25 April.

Semasa bermain, Mason pernah membela Spurs di final Piala Liga 2015. Timnya kalah dari Chelsea dengan skor 0-2 pada waktu itu. Kini, dengan jabatan berbeda, mampukah Mason menorehkan hasil lebih baik dan mengakhiri puasa gelar klub?

Komentar