Zlatan Ibrahimovic, LA Galaxy, dan Ambisi Berikutnya

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Zlatan Ibrahimovic, LA Galaxy, dan Ambisi Berikutnya

Setelah menghabiskan dua musim di Major League Soccer (MLS), Zlatan Ibrahimovic akhirnya pergi dari LA Galaxy. Melalui sosial media miliknya, Ibrahimovic mengucapkan salam perpisahan dengan gaya khas. “Saya datang, melihat, dan menaklukkan. Terima kasih LA Galaxy telah membuat saya hidup lagi. Terima kasih fans Galaxy, Anda meminta Zlatan; Saya berikan Zlatan! Terima kasih kembali. Sekarang, silahkan kembali menonton bisbol,” tulis Ibrahimovic.

Sejak didatangkan dari Manchester United, Ibrahimovic memang meningkatkan gairah sepakbola Amerika Serikat. Terutama di daerah Los Angeles, tempat LA Galaxy bermukim. “Sejak datang pada 2018, Zlatan sudah memperlihatkan etos kerja dan gairah yang luar biasa bersama kami. Apa yang dilakukan Zlatan tidak dapat diukur. Dirinya memberikan dampak besar untuk komunitas Los Angeles dan sepakbola di Amerika Utara secara keseluruhan,” kata Presiden Galaxy Chris Klein.

Kehadiran Ibrahimovic memang dibutuhkan oleh Galaxy. Musim 2018 merupakan kampanye pertama dari rival sekota mereka, Los Angeles FC (LAFC). Lokasi LAFC lebih dekat dengan pusat kota Los Angeles. Berbeda dengan Galaxy yang lebih dekat dengan Hollywood. Tanpa atraksi seperti Ibrahimovic mungkin LA Galaxy akan kehilangan dukungan. Namun berkat penyerang Swedia tersebut, Galaxy tetap menjadi nomor satu di Los Angeles.

Meskipun gagal menembus playoff MLS Cup 2018 dengan mengakhiri musim di peringkat tujuh zona barat atau posisi ke-13 secara keseluruhan, Galaxy tetap mengumpulkan lebih banyak massa dibanding LAFC. Padahal LAFC ketika itu lolos ke playoff dan secara tak langsung punya lebih banyak pertandingan daripada Ibrahimovic dan kawan-kawan.

Musim 2019, prestasi Galaxy semakin membaik. Mereka lolos ke playoff MLS Cup untuk pertama kalinya sejak 2016, ketika diperkuat Ashley Cole dan Steven Gerrard. Ibrahimovic pun menjadi katalisator dari kebangkitan tersebut. Ia terlibat dalam 37 gol dari 29 laga sepanjang musim. Lebih produktif dibanding musim pertamanya (29). Galaxy juga tetap mengumpulkan massa lebih banyak dibandingkan LAFC yang merupakan juara musim reguler MLS 2019.

Ibrahimovic bahkan menjadi pemain dengan kostum paling laku di toko resmi MLS. Melebihi Carlos Vela (LAFC), Wayne Rooney (DC United), Bastian Schweinsteiger (Chicago Fire), ataupun Luis Nani (Orlando City). Hal ini sudah diprediksi oleh ikon sepakbola Amerika Serikat sekaligus mantan pemain LA Galaxy, Landon Donovan.

“Zlatan pasti akan menjadi tontonan bagi publik. Ia sangat menarik, saya bahkan tidak sabar untuk melihat aksinya di atas lapangan. Bagaimana dirinya akan berkontribusi untuk tim? Siapa yang akan dikorbankan oleh Galaxy dengan kedatangan ini? Bagaimana reaksi yang diterima dia?,” kata Donovan.

“Publik sudah terbiasa dengan nama-nama besar di Galaxy. Gio dan Jonathan dos Santos, Ashley Cole, Romain Alessandrini, semuanya mendapat respon berbeda-beda. David [Beckham] sangat membumi waktu datang ke Galaxy. Ia sangat memperhatikan dan baik kepada teman-temannya. Saya sama sekali tidak mengenal Zlatan. Jadi penasaran juga bagaimana dia di ruang ganti,” lanjut mantan pemain Bayer Leverkusen tersebut.

LA Galaxy adalah kesebelasan pertama yang gagal diberikan piala oleh Ibrahimovic selain Malmo FF, tim pertamanya sebagai pesepakbola profesional. Sebelumnya, Ajax Amsterdam, Juventus, Inter Milan, FC Barcelona, Paris Saint-Germain (PSG), Manchester United, semua diberikan piala. Bahkan AC Milan yang hanya meminjam jasanya dari Barcelona diberikan gelar Serie-A.

Akan tetapi, pengaruh Ibrahimovic di LA Galaxy tetap mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Ana Paulina Maupome dari AS menyebut Ibrahimovic sebagai pemain dengan dampak terbesar untuk MLS sejak David Beckham (2007-2012). Beckham sendiri merupakan sosok yang mengarahkan Ibrahimovic ke LA Galaxy.

“Kami bertemu saat sama-sama membela PSG. Dia mengatakan bahwa apa yang terjadi di sana [Galaxy] adalah sebuah kebanggaan tersendiri baginya. Sekalipun David [Beckham] juga mengakui bahwa semua masih sebuah proses. Tapi LA Galaxy adalah pengalaman fantastis untuk dia. Ucapan seperti membuat saya mudah mengambil keputusan. Ini adalah takdir,” kata Ibrahimovic.

Sebelum memutuskan untuk pergi, Ibrahimovic sebenarnya membuka peluang untuk bertahan di Los Angeles. “Jika saya pergi, tidak akan ada yang mengingat MLS,” katanya. Namun, dirinya juga masih ingin bermain di Eropa. Terutama Serie-A, liga yang familiar dengan Ibrahimovic. Tempat paling lama ia menghabiskan karier. Membela tiga kesebelasan berbeda dalam periode tujuh musim.

Awalnya, Ibrahimovic disebut akan kembali ke AC Milan. Akan tetapi, alasan utama ia ingin kembali ke Serie-A adalah Napoli. Lebih tepatnya, film dokumenter Diego Maradona. “Seluruh kota mencintai diri Maradona. Saya tertantang untuk melakukan hal yang sama. Apabila saya di sana, San Paolo pasti akan selalu penuh setiap pekan,” kata Ibrahimovic.

Namun, dirinya menolak hanya menjadi atraksi semata. Ibrahimovic masih haus gelar dan mengincar tim yang punya peluang meraih scudetto. “Saya tetap dapat menjadi pembeda. Saya tak ingin diperlakukan seperti binatang, dipajang untuk dilihat orang-orang saja. Mencetak 20 gol di Serie-A masih jadi target realistis bagi saya,” jelasnya.

Kepala Pelatih Napoli Carlo Ancelotti pun menyambut bahagia ketertarikan Ibrahimovic. “Saya akan segera menelpon dia dan mengatakan bahwa kami menunggu kedatangannya di sini,” kata Ancelotti membahas masa depan mantan anak asuhnya di PSG.

Napoli bukan satu-satunya kesebelasan yang meminati Ibrahimovic. Bologna juga tertarik memboyong peraih enam gelar Serie-A itu (termasuk dua yang ditarik karena calciopoli). Rossoblu –julukan Bologna- bahkan mendapat dukungan dari mantan rekan satu tim Ibrahimovic, Patrick Vieira.

“Bologna dan Sinisa Mihajlovic adalah kombinasi yang sempurna untuk dia,” kata Vieira. Ibrahimovic mengaku bahwa mantan kapten Arsenal itu adalah sosok yang berjasa dalam karier dia sebagai seorang profesional. “Tanpa Vieira saya mungkin tidak akan seperti ini. Dia selalu memaksa saya untuk berbuat lebih. Sekalipun saya sudah bermain bagus, dia tetap meminta lebih. Dirinya yang membuat saya selalu bermain 120 persen. Dia memiliki mental berbeda dengan pemain-pemain lain,” aku Ibrahimovic.

Sayangnya, Bologna tidak dalam perebutan scudetto 2019/2020. Walaupun sempat menduduki posisi dua klasemen setelah mengalahkan Brescia 4-3 di pekan ketiga, Gary Medel dan kawan-kawan duduk di peringkat ke-15 klasemen sementara dan hanya unggul tiga poin dari Sampdoria yang berada di zona merah. Jadi, Napoli? Kita tahu Maradona juga fans Ibrahimovic.

Komentar