"Boom! Hahaha..." Jurgen Klopp atau Garukan Kepala Pep Guardiola

Analisis

by Rahman Fauzi

Rahman Fauzi

Homo Narrans.

"Boom! Hahaha..." Jurgen Klopp atau Garukan Kepala Pep Guardiola

Menikmati sepakbola tidak lagi cukup sekadar menyaksikannya, membaca berita pratinjau/ulasan pertandingan, mengecek statistik sederhana, lalu membahasnya dengan teman sembari menyelipkan ejekan ringan tanda persahabatan.

Di tengah arus deras informasi di dunia maya, fakta unik berbasis angka bahkan tidak lagi dimonopoli Opta. Video wawancara pemain masih berpeluh keringat sekejap tersebar dengan transkripnya segera menyusul. Dari studio para komentator beradu argumen. Sementara suporter berlomba saling cepat merilis video memaki-maki. Produksi meme pun tidak sempat lagi terbendung untuk dikurasi. Rata-rata topik besarnya berupa, "Peak banter era".

Beberapa pihak mencoba menaikkan level perihal kemasan konten sepakbola. Mengambil sudut pandang jenaka dari peristiwa lapangan hijau, tataran `ejek-mengejek` memasuki tahapan relatif baru.

Misal, komedi sketsa akun Youtube Dream Team. Topiknya begini: "Bagaimana kalau seorang fan Manchester United alami koma selama enam tahun dimulai sejak musim terakhir Sir Alex Ferguson lalu terbangun hari ini?", "Bagaimana seandainya penggemar Arsenal dan Tottenham Hotspur mengikuti kontes kencan buta di televisi?", "Bagaimana kira-kira isi kepala Maurizio Sarri di saat mulutnya masam tidak bisa membakar tembakau?". Berhubung konten digital itu buatan The Sun, tentu saja perempuan seksi sering dilibatkan.

Kesampingkan Dream Team, karena ada satu lainnya juga yang terasa baru: Peniruan gaya berbicara tokoh sepak bola yang dilakukan komedian. Biang keladinya ada Conor Moore, ada pula Darren Farley. Lewat acting impersonifikasi, mereka dengan kocak menirukan kekhasan mimik muka, putaran mata, logat bicara, gesture tubuh, dan kalimat yang berulang milik pelatih ataupun pemain.



Contoh peniruannya: "Good ebening... argh..." dari Unai Emery yang terus memaksakan berbahasa Inggris. Logat Harry Kane yang biasa memunculkan sanjungan "Better English than Harry Kane" untuk siapapun yang berbahasa Inggris secara artikulatif. Juga beratnya suara pelatih Burnley, Sean Dyche yang sempat diduga akibat kebanyakan makan cacing tanah. Para komedian impresionis ini melakukannya secara `mulus`, kalau sulit dibilang kurang ajar.
Lupakan mereka yang berada di papan tengah klasemen, toh dua manajer tim yang dua musim terakhir saling terkam memburu gelar tidak luput jua. Manajer Liverpool, Jurgen Klopp punya onomotape otentik, "Boom! Hahaha..." setelah The Reds menang 3-0 atas Manchester City di awal bulan Maret musim 2015-16. City saat itu masih ditukangi Manuel Pellegrini. Sekalipun ironisnya, Pep Guardiola kadung diumumkan sebagai manajer musim mendatang pada sebulan sebelum "Boom! Hahaha..." bergema.


Seperti Klopp, kekhasan diri Pep juga tidak lepas dari bahan peniruan komedian. Dengan tutup kepala tipis berwarna kulit, aktor peniru acap kali mengulang-ulang kalimat "More than you believe (Lebih daripada apa yang anda percaya)...". Sambil menggaruk-garuk kepala, mengusap hidup, dan bermata sayu, terujar kalimat "More than you believe..." itu. Mencirikan satu momen pada musim pertama Guardiola yang penuh gundah gulana.



Itu bermula tatkala The Citizens menang tipis 2-1 atas Burnley di pertandingan awal tahun 2017. Guardiola yang belum pernah berkarier di sepakbola Inggris, mesti menahan muntab akibat beragam keganjilan yang baru pertama kali dia temui. Alhasil, apa yang muncul dari wawancara hanya kekikukan luar biasa.

"Anda tidak tampak senang meskipun menang?" tanya jurnalis.

"Lebih daripada apa yang anda percaya (2x). Saya bahagia. Selamat tahun baru," kata Pep yang mengucapkan selamat tahun baru meski lewat dua hari.

Keduanya juru taktik berkarakter kuat bagi dua tim terhebat di Inggris saat ini. Falsafah sepak bola yang tersederhanakan dalam istilah `gegenpressing` dan `tiki-taka`. Akar `perjumpaannya` yakni dari manuver Bayern Muenchen merekrut Guardiola. Tugasnya, melanjutkan dominasi FC Hollywood atas Borussia Dortmund pimpinan Klopp yang sempat buat gempar sepak bola Jerman di awal dekade 2010-an.

Kemudian relasi berlanjut tatkala Liverpool jemu dengan Brendan Rodgers dan para taipan Uni Emirat Arab di Manchester mengerti bagaimana mesti meresponnya. Klopp hadir lebih dulu daripada Pep Guardiola, tapi keduanya memulai satu musim penuh bersama: Musim 2016-17.

Musim lalu rivalitas mereka menemui puncaknya. Manchester City sapu bersih gelar domestik, capaian yang sebelumnya tidak pernah ada yang rengkuh. Sedangkan Liverpool meraih trofi Liga Champions keenam mereka. Paragraf ini terlalu simplisistik, karena ada prakondisi yang terjadi sebelum catatan mengilap kedua tim tertorehkan.

City juara Premier League 2018-19 hanya unggul satu poin dari Liverpool, 98 berbanding 97 poin. Sebelumnya, City juara Premier League 2017-18 dengan rekor poin tertinggi (100 poin) dan mencetak gol terbanyak (106 gol) dalam satu musim.

Standar tinggi itu coba dikejar Liverpool yang sekalipun gagal, hanya ada satu kekalahan mereka terima sepanjang musim. Total 97 poin adalah jumlah terbanyak bagi tim yang tidak juara di akhir kompetisi. Sapuan bola John Stones di garis gawang pada perjumpaan di Stadion Etihad akhirnya teramat krusial menentukan nasib berbeda kedua tim.

Mengenai target perolehan gol yang sekalipun juga gagal, Liverpool menempatkan dua penyerangnya, Mohamed Salah dan Sadio Mane sebagai top skor (bersama Pierre-Emerick Aubameyang dari Arsenal dengan 22 gol). Tidak pernah ada satu tim yang punya dua juru gedor keluar sebagai top skor.

Tampak jelas upaya Liverpool memapas jarak di kancah domestik musim lalu. Kecewa berat? Tidak seutuhnya perlu, karena siapa juga yang tidak bangga menambah koleksi trofi Liga Champions menjadi enam. Trofi pertama Klopp untuk Liverpool. Kemenangan di final pertama Klopp setelah enam kali kandas di partai puncak.

Tercium iri dari City yang mendatangkan Guardiola untuk target trofi si kuping besar. Apalagi saat Liverpool milik Klopp mencapai final Liga Champions pertama, City diremukredamkan Roberto Firmino, dkk. dengan agregat 1-5. Plus bonus serangan ke arah bus. Musim selanjutnya giliran VAR mengintervensi ambisi mereka menjegal Tottenham Hotspur yang menyelonong sampai final, tapi keok karena gol penyerang bernama depan Divock.

Perburuan apa yang kurang lengkap terlanjur berlanjut sampai awal musim ini. Baiklah, City belum punya indikasi kuat menjadi juara Liga Champions karena amat gegabah ambil simpulan dari empat laga. Memuncaki Grup C yang ringan dengan 10 poin dengan hampir pasti lolos ke fase selanjutnya belum cukup untuk membangun argumen kuat. Sebab, pada grup lain juga tersebar para tim yang belum tanpa cela. Pastinya, Liga Champions selalu siap sedia menyediakan beragam kemungkinan.

Sedikit berbeda kalau berbicara sepak terjang Liverpool di Premier League. Sebelas pekan berjalan, mereka hampir sapu bersih kalau tiada bagi angka di Old Trafford. Alergi kekalahan masih mereka idap sampai musim ini.

Stadion Anfield kian lupa kapan terakhir kali tim berseragam merah kalah. Menang tipis semakin banyak Liverpool lakukan sebagai wujud pragmatis. Memang harus begitu kalau mau berbuka puasa gelar liga selama 30 tahun.

Liverpool pimpinan Klopp dan City era Guardiola bakal berjumpa lagi di Premier League, Minggu (10/11/2019). Menutup pekan ke-12 sebelum berganti hari. Sang juara bertahan dalam posisi bukan unggulan di rumah angker sang pemburu gelar pernuh nafsu.

Ini memang hanya suatu poin tiga pada musim yang belum berjalan separuh. Namun menengok tipisnya jarak kedua tim musim lalu, percayalah kalau hasil akhirnya sanggup menentukan siapa yang juara.

Perlu Pemenang

Buang dulu jauh-jauh dugaan terulang kembali laga 0-0 membosankan seperti musim lalu di Merseyside. Kala itu Pep terpaksa meminta anak buahnya cenderung pasif tanpa banyak menguasai bola. Bukan sebagaimana karakter ofensif mereka.

Ingatlah laga tersebut sebagai anomali, karena The Citizens kapok tiga kali kalah yang diwarnai banyak kebobolan di Anfield (agregatnya 3-8!). Main bertahan pun bisa membuat City menang, kalau eksekusi penalti Riyad Mahrez tidak melambung di atas awan.

Guardiola dengan profil besarnya pastilah mengidamkan menang di Anfield pertama kali. Kalah juga sama saja melepas trofi ke Liverpool di musim yang masih pagi. Barang kali pendekatannya tidak sebegitu menyerang seperti biasa, karena bakal habis diterkam gaya main hipercepat Liverpool juga. Mungkin apa yang dilakukan pada musim lalu cukup tepat, tapi hasil seri kini wajib bukan sesuatu yang dicari.

Hambatannya jelas: Liverpool di Stadion Anfield adalah Liverpool yang tidak terkalahkan selama 48 laga kandang liga (Crsytal Palace menang 2-1 pada April 2017). The Reds menang 16 kali beruntun di semua ajang (termasuk adu penalti vs Arsenal di Carabao Cup). Dalam 64 laga terakhir di Anfield, anak asuh Klopp hanya dua kali menelan kekalahan (dari West Bromwich Albion dan Chelsea di ajang piala domestik).

Fakta-fakta keras di atas mendorong harus ada satu tim keluar sebagai pemenang. Dilengkapi pula dengan adu permainan pikiran, psy-war, atau apalah yang semakin memacu adrenalin dari kedua pelatih.

Mulanya, Pep Guardiola asal tuding penyerang rival, Sadio Mane tukang diving. Liverpool menang 2-1 atas Aston Villa pekan lalu lewat gol penalti Mane yang dilanggar di kotak penalti.

Klopp balas, "Otak saya tidak cukup besar" untuk mengurusi tim lain yang juga baru selesai bertanding. Seperti apa yang dilakukan Guardiola mengomentari timnya. Disisipi pula sarkasme terkait `taktik melanggar sengaja` City yang menjengkelkan saat menghentikan momentum tim lawan membangun serangan.

Saling tuding ini jelas bisa merembet ke mana-mana. Terbaru, tersebar pamflet di media sosial, soal ajakan Liverpudlian membawa suar, gelas kaca, bendera, dan spanduk untuk mengintimidasi bus City. Seperti apa yang terjadi pada perempat final Liga Champions dua musim lalu.

Adegan kacau lainnya yang mungkin saja terjadi: Kyle Walker kembali menjadi kiper. Cederanya Ederson Moraes prasktis memaksa Pep memilih Claudio Bravo memulai laga Premier League lagi setelah 18 bulan berlalu. Pep jelas tidak segila Neil Warnock yang saat melatih Sheffield United di musim 2006-07 sengaja tidak membawa kiper cadangan. Dia malah meminta Phil Jagielka (bek) berdiri di bawah mistar gawang setelah kiper utama cedera.

Anggaplah nanti ada kiper ketiga City, Scott Carson. Namun siapa juga yang bisa menebak seandainya Carson datang dari bangku cadangan menggantikan Bravo, lalu kiper veteran ini misalnya diganjar kartu merah?

Bukankah itu yang terjadi saat City seri melawan Atalanta di tengah pekan ini? Bukankah Kyle Walker, sang kiper dadakan, berhasil nirbobol selama sembilan menit lebih? Jumlah penyelamatan Walker lebih banyak daripada kombinasi penyelamatan Ederson dan Bravo di laga itu. Tidak ada yang lebih mengasyikkan melihat seorang outfield player (pemain non kiper) memasang sarung tangan dan mendadak berganti kostum.

Momen ganjil ini baru terjadi hanya beberapa hari sebelum laga krusial tergelar. Apakah itu suatu hal yang muluk membayangkan 10 menit terakhir laga, Walker atau pemain lain, berusaha membendung trio Firmansah (Firmino, Mane, Salah, err...)?

Bayangkan betapa chaos suasana seandainya itu terjadi.

Seperti Paisley dan Clough

Klopp dan Pep nyatanya tidak pernah benar-benar beradu fisik di pinggir lapangan. Adu mulut mereka juga masih di ambang batas normal. Belum seperti rivalitas manajer di era 2000-an, seperti Sir Alex Ferguson, Arsene Wenger, Jose Mourinho, dan Rafael Benitez.

Tekanan untuk Klopp mengantar Liverpool juara Premier League juga dirasakan senada pada diri Pep guna meraih trofi Liga Champions pertama City. Tekanan jangan sampai membuat keduanya lepas kendali. Sebab ada baiknya mereka justru mencari guratan takdir yang sama seperti dua pelatih legendaris Britania Raya capai di musim 1978-79.

Klopp bisa menapak tilas kiprah Liverpool asuhan Bob Paisley yang juara Premier League pada musim 1978-79 setelah setahun sebelumnya juara Liga Champions. Sedangkan Pep juga patut membayangkan nasibnya mirip pelatih eksentrik Brian Clough mengantar Nottingham Forest juara Liga Champions di tahun 1979 pasca mendominasi liga lokal setahun lampau.

Apa yang menjadi cita-cita 40 tahun lalu, berulang kembali hari ini. Dengan orang yang berbeda, tapi tekanan hampir serupa. Keempatnya legenda, tapi biarlah dua yang masih ada di dunia saja membuat kisah-kisah berikutnya.

Sebab,menikmati falsafah sepakbola Klopp dan Guardiola tidak lagi cukup sekadar menyaksikannya, membaca berita pra tinjau/ulasan pertandingan tim mereka, mengecek statistik sederhana, lalumembahasnya dengan teman sembari menyelipkan ejekan ringan tanda persahabatan.

Di tengah arus deras informasi, kita mengerti kalau Klopp dan Pep acap kali menunjukkan sisi ambisi diri dari bagaimana mereka berekspresi. Terkadang tegang, risau, emosional, dan negatif. Sering juga ringan, jenaka, dan penuh kekikukan.

Seperti pada tutur, "Boom! Hahaha..." Jurgen Klopp ataupun garukan kepala Pep Guardiola yang lebih dari apa yang anda percaya.

Sumber: DTFC/The Guardian/11vs11/Liverpool.com

Komentar