Atalanta Sebagai Ajax-nya Serie A Italia (?)

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Atalanta Sebagai Ajax-nya Serie A Italia (?)

Atalanta berhasil mengalahkan Lazio pada pekan ke-35 Serie A 2018/19 yang digelar Minggu (5/5) dengan skor 3-1. Laga tersebut berlangsung di kandang Lazio, Olimpico Stadium. Tapi lebih dari itu, kemenangan Atalanta cukup istimewa karena membukakan pintu mereka ke Liga Champions selebar-lebarnya, kompetisi yang belum sekalipun mereka ikuti.

Awalnya Atalanta tidak pernah bermimpi untuk bermain di kompetisi antar kesebelasan Eropa paling bergengsi itu. Target mereka hanya bermain di Europa League. Hal itu masih diucapkan sang pelatih, Gian Pero Gasperini, pada awal April. Apalagi Atalanta sempat "mempermalukan" dirinya sendiri ketika gagal mencetak gol ke gawang Empoli meski mereka mencatatkan 48 tembakan dengan 27 di antaranya on target.

"Kami hanya bermodal keyakinan. Tujuan kami selalu Europa League, apalagi setelah imbang di kandang melawan Empoli. Untuk Champions League masih ada AC Milan dan AS Roma," tutur Gasperini.

Tidak seperti perebutan gelar juara Serie A yang sudah disegel Juventus, perebutan zona Champions cukup sengit mengingat per musim depan peringkat empat mendapatkan jatah langsung ke fase grup Liga Champions —sebelumnya hanya tiga kesebelasan yang ke Liga Champions. Memang peringkat kedua dipastikan miliki Napoli dan posisi ketiga hampir pasti milik Inter. Tapi untuk perebutan peringkat empat, Milan dan Roma saling menyusul. Pun dengan Atalanta yang terus menantikan mereka terpeleset.

Hasil imbang lawan Empoli di pekan ke-32 membuat Atalanta turun ke peringkat enam dengan selisih dua poin dari Milan yang menempati peringkat empat. Atalanta cukup mawas diri menargetkan berada di zona Europa League mengingat setelah hasil buruk tersebut mereka harus bertandang ke markas Napoli dan menjamu Udinese. Apalagi Lazio dan Torino menguntit di bawahnya dengan selisih satu poin dan tiga poin.

Namun yang terjadi seperti keajaiban bagi Atalanta. Ketika Milan ditahan imbang Parma sementara Roma bermain imbang dengan Inter, juga Lazio yang takluk dari Chievo, Napoli berhasil dilibas 1-2. Lalu kekalahan Milan dari Torino pada pekan ke-34 pun dibarengi dengan kemenangan Atalanta atas Udinese (2-0). Kemenangan tersebut melengkapi keberhasilan Atalanta yang melangkah ke final Coppa Italia usai mengandaskan Fiorentina.

Pada pekan ke-34, Atalanta unggul satu poin dari Roma dan dua poin dari Milan. Di pekan ke-35, giliran Roma yang mendapatkan hasil imbang, sementara Atalanta kandaskan Lazio. Momen inilah yang membuat Gasperini mulai berharap timnya bisa berlaga di Liga Champions musim depan, meski harus menghadapi Genoa, Juventus dan Sassuolo di tiga laga sisa.

"Kami melakukan hal yang luar biasa. Kami sekarang ada di posisi untuk lebih yakin ke Liga Champions," ujar Gasperini pada wawancara dengan Sky Sports, seperti yang dikutip Gianluca Dimarzio. Kemenangan atas Lazio setelah tertinggal lebih dulu sangat berharga. Tertinggal lebih dulu sendiri menjadi rencana kami, karena situasi itu cukup sering terjadi pada kami."

Pelatih legendaris Italia, Fabio Capello, menyebut bahwa Atalanta adalah Ajax-nya Serie A Italia. Sebetulnya Atalanta musim ini tidak dihuni skuat semuda Ajax dan tidak bermain dengan pola dasar 4-3-3 seperti Ajax. Walau begitu memang ada kemiripan Atalanta dengan Ajax musim ini.

Man-to-man marking dan Ball Possession

Bukan kebetulan Atalanta selalu jadi penantang kuat zona Europa League, yang ternyata sekarang mulai naik level ke zona Champions League. Sejak ditangani Gasperini, Atalanta menjelma jadi kesebelasan dengan permainan yang istimewa. Dua musim di Atalanta, dua musim juga Gasperini membawa Atalanta ke Europa League.

Pada musim 2016/17, Atalanta asuhan Gasperini menempati peringkat empat klasemen akhir. Musim lalu menempati peringkat tujuh. Padahal sebelum itu Atalanta selalu berada di peringkat belasan, bahkan sempat menempati peringkat 17 pada klasemen akhir musim 2014/15.

Prestasi Gasperini di Atalanta ini memang jadi anomali mengingat dia sempat gagal total di Internazionale Milan ketika dipecat setelah hanya memimpin liga pertandingan saja. Di Atalanta pun Gasperini sempat menuai hasil buruk di lima laga perdana, tapi tidak seperti Inter, pemilik Atalanta, Antonio Percassi, yakin bahwa Gasperini adalah pelatih yang tepat untuk timnya.

Baca juga: Kepercayaan Berbalas Prestasi

Terbukti permainan Atalanta semakin membaik dari musim ke musim. Bahkan musim ini bisa dibilang jadi musim dengan permainan terbaik dari kesebelasan berjuluk La Dea (Sang Dewi) ini.

Saat artikel ini ditulis, Atalanta merupakan kesebelasan paling banyak mencetak gol dengan 71 gol. Juventus sang juara musim ini, yang memiliki Cristiano Ronaldo, baru mencetak 69 gol. Perlu diketahui juga, Atalanta musim ini hanya mendapatkan dua gol penalti (Sampdoria 9, Juventus dan Inter 7).

Tidak hanya itu, menurut catatan Wyscout, Atalanta saat ini menjadi kesebelasan dengan jumlah tembakan terbanyak kedua yang dibarengi dengan jumlah tembakan ke pertahanan (shot conceded) paling sedikit. Atalanta baru mendapatkan 347 tembakan ke gawang mereka, sementara Napoli 355 dan Juve 377 tembakan.

Atalanta saat ini tercatat sebagai kesebelasan ketiga dengan rataan penguasaan bola tertinggi (58,1%). Penguasaan bola Atalanta hanya kalah dari Inter (59,5) dan Napoli (58,5). Atalanta memang mengandalkan umpan-umpan pendek mengingat mereka jadi kesebelasan paling sedikit perihal umpan panjang (long ball).

Martin de Roon dan Romo Freuler sendiri saat ini menempati urutan ke-6 dan ke-7 perihal pemain dengan jumlah operan terbanyak. Keduanya juga menempati urutan ke-2 dan ke-5 soal umpan yang mengarah ke sepertiga akhir (final third). Keduanya sama-sama memiliki rataan 62 operan per laga.

Peran De Roon dan Freuler memang begitu vital dalam skema andalan Gasperini. Dalam formasi dasar 3-4-3 atau 3-4-2-1 atau 3-4-1-2 Atalanta, keduanya menempati gelandang tengah pada empat gelandang Atalanta. Keduanya difokuskan menjadi pemulai serangan awal Atalanta sekaligus pemutus serangan lawan.

Ketangguhan De Roon dan Freuler membuat Josip Ilicic, Alejandro "Papu" Gomez dan Duvan Zapata bisa leluasa melancarkan serangan. Apalagi Ilicic dan Gomez punya kelebihan dalam melewati lawan. Gomez menempati peringkat empat sebagai pemain dengan dribel terbanyak, Ilicic peringkat lima. Jika dribel mereka gagal, De Roon dan Freuler-lah yang bertugas menyapu bola atau merebut kembali penguasaan bola.

Skema tersebut cukup berhasil menjadikan Atalanta sebagai kesebelasan yang atraktif dalam menyerang. Terbukti Zapata kini telah mencatatkan 22 gol yang diikuti Ilicic dengan 11 gol. Gomez hanya mencetak 6 gol, tapi dia berhasil menjadi pencetak asis terbanyak Serie A untuk sementara lewat 10 asis.

Walaupun begitu, peran ketiganya juga penting ketika Atalanta dalam mode bertahan. Ketiganya fasih dalam melakukan man-to-man marking saat melakukan high press. Jika bola lewat dari mereka, ada De Roon-Freuleur dan duet wing-back yang biasanya diisi oleh Hans Hateboer dan Timothy Castagne di lini kedua.

Karena penggunaan man-to-man marking ini, sebagaimana yang belakangan kita lihat dalam permainan Ajax saat tak menguasai bola, posisi pemain Atalanta memang cukup fleksibel saat tak menguasai bola. Bahkan tak jarang bek tengah yang bertugas menjaga kedua sisi pun terpaksa naik untuk mengikuti lawan.

Misalnya seperti di laga melawan Lazio. Salvatore Masiello yang menempati pos bek tengah kiri (defender left centre) harus naik melewati tengah lapangan untuk melakukan penjagaan antar pemain. Lini belakang dan lini tengah Atalanta memang ditugaskan untuk mengawasi orang ketiga lawan yang hendak menerima bola.



Dalam situasi di atas, Masiello bertugas mengawasi pergerakan Marco Parolo. Benar saja, Wallace, bek Lazio yang menguasai bola, hendak memberikan bola pada "orang ketiga" pada jalur operannya yaitu Parolo (bukan pada orang kedua yang dalam situasi tersebut adalah Lucas Leiva atau Adam Marusic). Terlepas dari Gomez yang berhasil memblok dan merebut bola, jika operan Wallace pada Parolo berhasil dan Masiello tidak mengikuti Parolo, maka Parolo bisa membalik badan dan melanjutkan serangan Lazio dari posisi yang cukup kosong.

Dengan skema ini, maka bukan kebetulan Atalanta mampu manaklukkan kesebelasan-kesebelasan yang bermain dengan build-up lewat operan pendek dari belakang. Bersama Atalanta, Gasperini mampu mengalahkan Napoli, yang bermain dengan possession, sebanyak empat kali dari tujuh pertemuan. Inter asuhan Spalletti pun sudah tiga laga terakhir gagal menaklukkan Atalanta. Jangan heran pula jika Lazio akan kembali kalah pada final Coppa Italia nanti mengingat dalam dua pertemuan di Serie A musim ini Atalanta selalu menang.

Tidak Menggunakan Banyak Pemain Akademi

Secara permainan, Atalanta musim ini mungkin hampir mirip dengan Ajax. Tapi secara komposisi skuat, Atalanta musim ini berbeda jauh dengan Ajax yang dihuni oleh banyak pemain muda.

Sebetulnya Atalanta punya akademi seperti Ajax. Atalanta dikenal pandai mengorbitkan pemain muda yang kemudian direkrut kesebelasan lain.

Sebelumnya ada nama-nama alumnus akademi Atalanta seperti Andrea Conti, Mattia Caldara, Roberto Gagliardini, Alberto Grassi, Alessandro Bastoni atau Giuseppe De Luca di skuat utama. Atau di masa lalu seperti ketika Atalanta melahirkan talenta berbakat dalam diri Manolo Gabbiadini, Giacomo Bonaventura, Riccardo Montolivo, Giampaolo Pazzini, Damiano Zenoni, Cesare Natali, Alex Pinardi, Rolando Bianchi, Ivan Pelizzoli, Gianpaolo Bellini, Luciano Zauri, Alessio Tacchinardi, sampai Roberto Donadoni.

Tapi musim ini, Atalanta tidak lagi mengandalkan pemain akademi. Untuk susunan pemain utama sendiri merupakan pemain-pemain yang baru datang di era Gasperini. Pierluigi Gollini dan Etrit Berisha yang bergantian mengisi pos penjaga gawang baru datang per musim 2016/17. Begitu juga dengan Hans Hateboer dan Gianluca Mancini.

Jose Palomino, Castagne, Ilicic, Robin Gosens, dan De Roon baru datang per 2017/18. Mario Pasalic serta Duvan Zapata yang jadi andalan di lini depan pun merupakan rekrutan anyar musim ini dari Chelsea (pinjaman) dan Sampdoria. Rafael Toloi, Berat Djimsiti, Gomez, Masiello, dan Freuler juga bukan alumnus akademi Atalanta, tapi datang sebelum Gasperini menjadi pelatih Atalanta.

Walau begitu, Atalanta punya rekam jejak seperti Ajax dalam mendapatkan pemain berbakat. Mereka membeli pemain muda dengan harga murah untuk kemudian dipoles sehingga bisa bermain di tim utama bahkan dijual dengan harga mahal. Selain nama-nama di atas, ada nama Franck Kessie yang dijual dengan harga 32 juta euro (harga beli 300 ribu euro), Bryan Cristante yang dibeli Roma dengan harga 21 juta euro, Andrea Petagna, dan ketika menjual De Roon ke Middeslbrough (sebelum akhirnya dibeli kembali pada musim lalu).

Baca juga: Cara Ajax Menciptakan dan Mendapatkan Pemain Berbakat

***

Atalanta punya prospek cemerlang di bawah asuhan Gasperini. Jika bermain di Liga Champions musim depan, bukan tak mungkin Atalanta akan benar-benar seperti Ajax Amsterdam. Apalagi masih banyak pemain muda Atalanta yang berpotensi jadi bintang baru, seperti Filippo Melegoni, misalnya.

Tapi pencapaian musim ini telah menjadi keberhasilan tersendiri bagi Atalanta dan Gasperini. Karena seperti kata Gasperini, keberhasilan tidak hanya diukur oleh sebuah trofi. "Ke Liga Champions atau juara Coppa Italia? Aku ingin ke Liga Champions. Tapi kami tidak bisa memilih. Pencapaian bukan hanya berbentuk piala, tapi mencapai target tertentu pun sudah menjadi trofi bagi kami."


Simak prediksi dan penerawangan "Mbah" Rochi Putiray soal Liga 1 Indonesia 2019:


Komentar