Liverpool Memanfaatkan Man United yang Minim Kreativitas

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Liverpool Memanfaatkan Man United yang Minim Kreativitas

Musim dingin di puncak terasa sangat menggigil. Liverpool sadar akan konsekuensi tersebut. Dengan kemenangan 3-1 atas Manchester United di Anfield semalam (16/12), mereka kokoh di puncak klasemen Liga Primer Inggris sampai pekan ke-17. The Reds tentu tidak keberatan sama sekali untuk memakai jaket yang lebih tebal dengan hoodie menutupi kepala.

Sebelum laga North West Derby itu —yang dianggap sebagai pertandingan terbesar di Inggris— trio Firmansah (Roberto Firmino, Sadio Mané, dan Mohamed Salah) sama sekali belum berhasil mencetak gol atau sekadar mencatatkan asis ke gawang Setan Merah dalam 855 menit. Namun semalam Mane berhasil membuka keunggulan tuan rumah.

United sempat menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui Jesse Lingard yang baru meluncurkan label fashion-nya, JLingz. Akan tetapi pergantian pemain yang tepat dari Jürgen Klopp, dengan memasukkan Xherdan Shaqiri di menit ke-70, mampu membuat Liverpool mencetak dua gol lagi.

Dengan kemenangan ini, perbedaan poin Man United dengan Liverpool adalah 19 poin. Meski perbedaan posisi mereka hanya lima setrip (United di peringkat keenam), tapi secara jumlah poin, United lebih dekat kepada juru kunci, yaitu Fulham dengan 9 poin (beda 17 poin).

Setelah pertandingan, José Mourinho berkomentar: “Aku tak bisa memperbaikinya, (tapi) kami masih bisa finis di posisi keempat, itu tak mudah. Tentu saja, kami akan finis di enam besar, tapi paling banter posisi empat, lah.”

Jumlah Tembakan: Liverpool 36-6 Man United

Ada banyak hal yang dinantikan sebelum pertandingan dimulai. Satu di antaranya adalah head-to-head kedua penjaga gawang, Alisson Becker (Liverpool) dan David De Gea (Man United). Keduanya dinilai sebagai yang terbaik di dunia. Walau begitu musim ini Alisson lebih baik karena kebobolan lebih sedikit.

Pada kenyataannya, meski De Gea kebobolan tiga gol lagi, Alisson kebobolan dengan blunder yang ia hasilkan. Satu kesalahan sepertinya bisa dimaklumi, tapi sebenarnya blunder tersebut membuat Alisson berada di bawah Bernd Leno (Arsenal) dan Asmir Begovic (Bournemouth) dalam soal error yang menghasilkan kebobolan.

Melihat harga Alisson, hal ini tetap menjadi sorotan. Untungnya blunder itu berakhir dengan kemenangan. Beda cerita jika itu menghasilkan kekalahan, apalagi jika terjadi di final Liga Champions UEFA seperti yang Loris Karius lakukan musim lalu.

Berseberangan dengan Alisson, De Gea juga sebenarnya tak seburuk itu. Malam itu De Gea mencatatkan delapan penyelamatan (Alisson dua penyelamatan).

Grafis tembakan (Man United di kiri, Liverpool di kanan) – Sumber: WhoScored

Lagi-lagi kegemilangan De Gea justru ironisnya menggambarkan buruknya pertahanan United. Bagi manajer yang terkenal dengan kesebelasan yang sulit ditembus (jika tidak ingin disebut bertahan), kesebelasan asuhan Mourinho ditembak sampai 36 kali (11 di antaranya on target). Sementara United hanya mampu mencatatkan 6 tembakan (dua tepat sasaran).

Roberto Firmino (9 tembakan) dan Fabinho (5) menjadi pemain yang paling banyak menembak. Bahkan kecuali Alisson, semua pemain Liverpool mendapatkan jatah menembak ke gawang De Gea semalam, termasuk Jordan Henderson yang baru masuk di menit ke-80.

Gol pertama Liverpool juga menunjukkan buruknya sistem pertahanan United di mana tidak ada yang menjaga Mane (seharusnya Ashley Young). De Gea hanya bisa geleng-geleng kepala.

Padahal sepanjang musim 2017/18 United hanya kebobolan 28 kali. Musim ini baru masuk ke pekan ke-17, United sudah kebobolan 29 kali. Jika masih ada yang menyebut Man United dan Mourinho adalah kesebelasan bertahan, maka ada yang tidak sinkron antara pernyataan dengan angka-angka realitanya.

Hampir 90 Menit di Depan Kotak Penalti Man United

“Cara kami bermain sempurna. Kami mencoba terus mengoper, memenangi bola kembali, dan bermain di belakang garis. Itu bagus,” kata Klopp setelah pertandingan.

Bukan hanya soal skor dan angka tembakan, Liverpool benar-benar menguasai pertandingan semalam. Mereka menang penguasaan bola dengan 64,3%. Giorginio Wijnaldum dan Andrew Robertson menjadi pemain yang paling sering menguasai bola.

“Liverpool adalah kesebelasan yang lebih baik, kami tak bisa membandingkan intensitas mereka, kami tak bisa membandingkan kondisi fisik mereka,” kata Mourinho setelah pertandingan. Namun ia masih juga mencoba sedikit menghibur: “Saat ini hasil yang paling mungkin adalah hasil imbang.”

Salah satu kelemahan United semalam, yang juga disoroti oleh Gary Neville, adalah mereka tidak memiliki pemain yang bisa mengoper dan mengontrol permainan di lini tengah.

Secara kuantitas, Liverpool unggul jumlah operan dengan 562 banding 323. Secara kualitas juga mereka unggul akurasi operan dengan 81% (457 tepat sasaran) banding 65% (211 tepat sasaran).

Pemain United yang paling banyak mengoper malam itu adalah Ashley Young (43 operan dengan 30 sukses) dan Nemanja Matic (42 operan dengan 30 sukses). Angka itu memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan para pemain Liverpool (Wijnaldum misalnya dengan 72 dari 79 operannya tepat sasaran), tapi ada alasan kenapa United sulit memainkan bola dari tengah.

Grafis heat map (Liverpool di kiri, Man United di kanan) – Sumber: WhoScored

Permainan gegenpressing Liverpool tak mempersilakan United untuk membangun serangan, bahkan dari belakang sekalipun, padahal bek-bek mereka juga tak ada yang piawai sebagai ball-playing defender.

Pada heat map dari WhoScored di atas, bola banyak dimainkan di daerah pertahanan United, baik oleh para pemain Liverpool maupun oleh para pemain Man United sendiri (bersebelas maksudnya, bukan sendirian). Tak heran kemudian Liverpool berhasil mencatatkan 258 operan di final third.

Dalam kondisi normal dengan bermain di kandang lawan, memang seperti sudah kodratnya sebuah kesebelasan bermain menunggu dan sedikit ke dalam, sehingga tak perlu mengontrol serta membangun serangan dari belakang ke tengah kemudian ke depan.

Akan tetapi permainan pasif saja pasti satu-dua kali memiliki momen turnover-nya berupa serangan balik. Masalahnya jika sebuah kesebelasan tak memiliki pemain (tengah) yang andal dalam mengoper dan meredam tekanan, maka serangan balik yang ditunggu-tunggu pun hanya akan menjadi isapan jempol. Itu yang ditunjukkan United semalam.

Pogba Juga Kedinginan

Sebenarnya ada satu pemain yang bisa saja menjadi pemecah kebuntuan di lini tengah, yaitu Paul Pogba. Namun Pogba tak dimainkan sama sekali semalam.

Pertandingan melawan Liverpool pastinya merupakan pertandingan yang terlalu penting untuk dilewatkan oleh pemain termahal Man United. Apapun masalahnya dengan Mourinho, Pogba adalah salah satu (atau mungkin satu-satunya) pemain tengah United yang bisa meredam tekanan sambil sesekali mengeluarkan operan berbahaya yang bisa menembus pertahanan lawan.

Dalam skema pasif-sambil-serangan-balik yang dirancang Mourinho, alfanya pengoper ulung di lini tengah adalah sebuah penistaan.

Pada akhirnya dari ekspresi yang tercermin di pertandingan itu juga, setidaknya bukan hanya Liverpool yang terlihat kedinginan (di puncak) sehingga harus memakai jaket tebal dan hoodie.

Don’t sack Mourinho,” adalah nyanyian para suporter Liverpool di Anfield semalam menjelang pertandingan berakhir. Ini sudah musim dingin dan masih ada 21 pekan pertandingan lagi di Liga Primer. Selamat hari Senin.

Komentar