Apakah Liga Indonesia Memang Memerlukan Michael Essien?

Analisis

by Dex Glenniza 193017

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor at Pandit Football Indonesia, head of content at Box2Box Football, podcaster at Footballieur, writer at Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Apakah Liga Indonesia Memang Memerlukan Michael Essien?

Lanjutan dari halaman sebelumnya

Menebak harga Essien

Biar bagaimanapun jika kita melihat usia dan reputasinya dalam lima tahun terakhir, Essien tetaplah merupakan pemain kelas dunia, tidak seperti Gumps, Gonzalez, Marcus Bent, atau Lee Hendrie.

Pemain berjuluk “Bison” ini bahkan sudah berhasil bermain di Piala Dunia FIFA 2006, dengan mengantarkan Ghana sampai ke babak 16 besar. Tentunya ia bukanlah sembarangan pemain, begitu juga dengan harganya.

Pertanyaannya, apakah Essien masih layak dihargai mahal?

Kontrak terakhirnya di Panathinaikos adalah kontrak yang besar yang menjadikannya sebagai pemain dengan bayaran tertinggi di Yunani saat itu. Pada 2015 tersebut, ia memiliki gaji yang dilaporkan mencapai 800 ribu euro per tahun, atau sekitar 11,5 milyar rupiah.

Meskipun harganya pasti sudah turun, ia tetaplah pemain yang akan dibayar mahal oleh siapapun kesebelasan Indonesia yang berniat mengontraknya. Situs Transfermarkt menilai harga Essien sebenarnya masih berada di kisaran 10 milyar rupiah, yang merupakan harga yang terlampau fantastis untuk ukuran Indonesia.

Sebagai perbandingan, Sergio van Dijk memiliki kontrak sekitar 4 miliar rupiah saat didatangkan oleh Persib pada 2012. Jika Essien bersedia mendapatkan kontrak yang terpangkas banyak, mungkin sekitar 5-8 milyar rupiah per tahun, kita bisa saja melihat Essien bermain di Liga 1 pada tahun 2017 ini.

Apakah harga mahal Essien akan menjadi investasi yang masuk akal?

Melihat uang 5, 6, 7, atau 8 miliar rupiah untuk digunakan hanya untuk satu pemain saja, kita mungkin akan banyak menyinyir. Pada kenyataannya, kita berhak untuk cerewet, apalagi sekarang isu yang sedang hangat bukanlah pemain asing bintang, melainkan pembinaan pemain muda dan infrastruktur.

Siapapun nama pemain bintang yang akan didatangkan, apalagi pemain tersebut sudah pernah bermain di Piala Dunia, misalnya Dimitar Berbatov, Robbie Keane, Didier Drogba, atau Ronaldinho, kita pastinya sedang membicarakan jumlah uang yang banyak, bahkan kalau mereka sudah berusia kepala empat sekalipun.

Tapi untuk menjawab pertanyaan di atas: “Apakah harga mahal Essien akan menjadi investasi yang masuk akal?”, maka kita harus mengubah sudut pandang kita terlebih dahulu, untuk menilai sepakbola dari segi bisnis.

Misalnya saja, uang sebanyak itu (taruhlah 8 miliar) lebih baik untuk pembinaan atau membangun infrastruktur, kan? Tapi, membangun akademi, kursus kepelatihan massal, membangun infrastruktur, dan lain sebagainya, itu butuh uang juga, uang yang sangat banyak malah.

Dari mana uang yang banyak tersebut akan didapatkan? Tentunya dari pemasaran atau marketing.

Ketika berhasil mendatangkan Essien, misalnya, tidak hanya pasar atau market Indonesia yang akan merasakan dampaknya. Dampak ini juga akan terasa sebagai promosi sepakbola Indonesia ke luar negeri, bukan hanya Asia Tenggara atau Asia, tapi bahkan dunia.

Jika kita mencontoh Liga India (Indian Super League), MLS Amerika Serikat, atau bahkan Liga Super Tiongkok, mereka merancang liga mereka dengan istilah “marquee player”. Istilah ini sebenarnya, utamanya, bukan untuk meningkatkan penampilan kesebelasan atau liga mereka, melainkan untuk mendompleng promosi.

Promosi yang baik akan menghasilkan uang yang banyak. Hal itu juga akan berdampak pada semakin banyaknya minat anak-anak, pemain muda, media, dan sponsor untuk semakin memainkan, mempopulerkan, dan menyeriusi sepakbola.

Jadi, jika ditanya apakah ini merupakan investasi yang sebanding? Jawabannya “harus” iya. Tidak boleh tidak. Karena jika kita sudah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk pemain kelas dunia, maka kita harus melihatnya dari perspektif pemasaran olahraga. Intinya, nilailah Essien dari sudut pandang khusus.

Foto: O Canada

Komentar