Memuji Rizky Pora, Memuji Alfred Riedl

Analisis

by Muhammad Firza Richsan 70597

Muhammad Firza Richsan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Memuji Rizky Pora, Memuji Alfred Riedl

Indonesia berhasil meraih hasil positif pada leg pertama semifinal Piala AFF Suzuki Cup 2016 melawan Vietnam, Sabtu malam (3/12) . Bermain di Stadion Pakansari, Bogor, Indonesia sebetulnya hanya mampu menang dengan skor tipis, 2-1. Walau demikian, kemenangan ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menatap leg kedua yang akan dimainkan di Vietnam, Rabu (7/12) nanti.

Kendati nama Hansamu Yama dan Boaz Solossa yang terpampang di papan skor, tetapi ada satu nama yang mustahil untuk dikesampingkan sebagai tokoh penting Indonesia dalam merebut kemenangan tersebut. Dia adalah Rizky Pora.

Rizky Pora lagi-lagi menjadi buah bibir bagi para pendukung Indonesia. Kembali di tempatkan oleh Alfred Riedl di sayap kiri, Rizky Pora mampu memorak-porandakan pertahanan Vietnam dengan tusukan-tusukan dan kecepatannya. Pergerakannya sangat liar. Ia pun beberapa kali memperlihatkan teknik olah bola yang mampu mengundang decak kagum. Kegemilangan Rizky Pora seolah menampar pelatih Vietnam, Nguyen Huu Thang, yang mengatakan bahwa pemain yang berbahaya dari Indonesia hanyalah Boaz Solossa, Andik Vermansah dan Stefano Lilipaly.

Di pertandingan melawan Vietnam, Rizky Pora berhasil menciptakan satu asis untuk Hansamu Yama, yang merupakan asis ketiganya di Piala AFF 2016. Selain itu, ia pun mampu menciptakan dua tembakan ke gawang, tiga umpan silang, dan dua dribel sukses yang membuat lini pertahanan Vietnam kocar-kacir.

Sebelumnya mungkin tidak ada yang menyangka jika Rizky Pora akan mendapatkan tempat sebagai pemain inti di sayap kiri Indonesia. Maklum, di skuat timnas saat ini ada nama Zulham Zamrun yang sebelumnya selalu menjadi andalan. Dari beberapa uji tanding menjelang Piala AFF pun nama Rizky Pora selalu berada di bawah bayang-bayang Zulham, apalagi jika kita mengingat posisi natural Rizky Pora adalah seorang bek kiri.

Namun, semuanya berubah ketika Piala AFF digulirkan. Rizky Pora langsung mendapatkan tempat sejak Indonesia melakoni laga pertama melawan Thailand. Jika kita melihat dari apa yang ditampilkan oleh Rizky Pora sejak laga melawan Thailand, pujian setinggi-tingginya harus kita berikan kepada Alfred Riedl.

Alfred Riedl dengan jeli memanfaatkan potensi Rizky Pora yang memiliki kelebihan untuk bertahan maupun menyerang dengan sama baiknya. Rizky Pora merupakan salah satu full-back modern yang dimiliki Indonesia, selain Ahmad Alfarizie. Gaya permainannya mengingatkan kita pada Daniel Alves, bek Brasil yang kini bermain di Juventus. Hanya saja Alves bermain di sisi kanan, sementara Pora di sisi kiri.

Bermain di skema 4-4-2, kemampuan Rizky Pora sangat cocok dengan sistem yang menjadi khas permainan Riedl sepanjang Piala AFF 2016 ini. Indonesia kuat menyerang, dengan selalu mencetak dua gol. Dengan adanya Rizky Pora (serta Abduh Lestaluhu), sisi kiri Indonesia pun tak seperti sisi kanan yang menjadi bulan-bulanan Thailand. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh Zulham, yang membuat Zulham hanya menjadi pemain yang selalu masuk di babak kedua.

Walaupun di laga melawan Thailand itu Indonesia harus kalah 4-2, tetapi Rizky Pora bermain cemerlang. Pemain Barito Putera ini tidak hanya selalu menyisir sisi kanan pertahanan Thailand, namun beberapa kali juga berani untuk masuk ke area tengah. Stamina yang dimilikinya pun sangat diandalkan Riedl dengan sering menginstruksikan dirinya melakukan pressing ketat sejak di wilayah pertahanan Thailand.

Pada pertandingan ini, Rizky Pora berhasil menyumbangkan satu asis setelah umpan silangnya mampu dimanfaatkan oleh Boaz Solossa. Asisnya terhadap Boaz ini yang memperkecil keadaan menjadi 2-1 dan membakar semangat para pemain Indonesia lainnya untuk mengejar ketertinggalan.

Kegemilangan Rizky Pora menjadi perhatian pelatih Filipina, Thomas Dooley, yang menjadi lawan Indonesia di laga setelah Thailand. Seperti yang dilansir oleh detiksport, Dooley secara terang-terangan mengatakan bahwa Rizky Pora merupakan pemain terbaik Indonesia. Ia pun telah mengintruksikan para pemain belakangnya untuk melakukan penjagaan lebih padanya.

Pada pertandingan itu pergerakan Rizky Pora pun menjadi tidak sedinamis kala menghadapai Thailand. Bek kanan Filipina bermain lebih ke dalam dengan hanya sesekali saja ikut membantu penyerangan. Walau demikian, secara keseluruhan permainannya tidaklah mengecewakan. Indonesia pun harus berbagi angka dengan Filipina, 2-2.

Bentuk permainan Rizky Pora akhirnya kembali lagi di laga terakhir grup A melawan Singapura. Laga ini menjadi partai hidup mati bagi kedua tim, dan mereka wajib memenangkan pertandingan jika ingin lolos ke babak semifinal.

Singapura langsung menggebrak dengan memperagakan permainan menyerang. Hal ini jelas menjadi keuntungan bagi Indonesia yang lebih memilih untuk mengandalkan serangan balik cepat. Memiliki seorang pelari macam Andik dan Rizky Pora-lah yang menjadi alasannya.

Singapura seolah tidak mau belajar dari Filipina yang melakukan penjagaan ketat dengan tidak banyak memberikan ruang bagi pergerakan Rizky Pora. Alhasil, mereka pun terkena batunya. Diawali dari serangan yang dibangun dari sisi kiri, Rizky Pora dengan cerdik melihat posisi Andik yang tanpa pengawalan. Umpan silang yang dilepaskannya pun mampu dimaksimalkan Andik dengan tendangan first time.

Di akhir laga, Indonesia mampu memenangi pertandingan dengan skor 2-1, dan berhak melaju ke babak semifinal. Sedangkan Rizky Pora dianugerahi sebagai pemain terbaik pertandingan oleh AFF Suzuki Cup saat Indonesia mengalahkan Vietnam, melengkapi penampilan cemerlangnya sepanjang Piala AFF 2016.

Hingga pertandingan semifinal kemarin, pemain Barito Putera ini telah berhasil menyumbangkan tiga asis untuk Indonesia. Jika ia mampu mempertahankan penampilan terbaiknya, bukan tidak mungkin bagi Indonesia untuk melenggang mulus ke babak final. Namun, terlalu bergantung kepada dirinya pun menjadi salah satu sinyal yang berbahaya. Vietnam pasti tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan membiarkan Rizky Pora menampilkan pergerakan-pergerakan liarnya.

Sementara itu bagi Rizky Pora, skema Riedl membuatnya menjadi salah satu sosok penting dalam skuat Indonesia di Piala AFF 2016 ini. Rizky Pora adalah salah satu kejelian Riedl kali ini. Jika Indonesia berhasil berprestasi di Piala AFF kali ini, pujian setinggi langit patut diberikan pada Rizky Pora, juga Riedl yang berhasil memaksimalkan potensi yang dimilikinya.

Ya, memuji Rizky Pora berarti kita memuji Riedl. Karena jika bukan Riedl, mungkin gelandang berusia 27 tahun ini akan ditempatkan di kiri pertahanan Indonesia, bahkan mungkin tidak dipanggil membela tim nasional Indonesia. Karena Riedl-lah yang pertama kali memberikan debut timnas pada Rizky Pora di tahun 2014. Riedl tahu betul potensi yang dimiliki Rizky Pora.

foto: affsuzukicup

Komentar