Pembelaan untuk Antonio Conte

Analisis

by Abrar Firdiansyah 28754

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Pembelaan untuk Antonio Conte

Arsenal mampu terus menjaga momentum kemenangan mereka. Menghadapi Chelsea di Stadion Emirates, The Gunners mampu mengalahkan tim tamu dengan skor 3-0, lewat gol-gol dari Alexis Sanchez, Theo Walcott, dan Mesut Ozil.

Kemenangan di pekan keenam Liga Primer ini pun membawa Arsenal ke posisi tiga. Sementara bagi Chelsea, kekalahan ini membuat posisi mereka di klasemen sementara disalip oleh Manchester United, Liverpool, dan Crystal Palace.

Dari beberapa faktor yang menjadi biang kekalahan Chelsea di laga tersebut, salah satu yang patut disoroti tentu adalah koordinasi lini pertahanan mereka. Betapa tidak, melihat catatan kebobolan hingga pekan keenam, gawang Thibaut Courtois telah kemasukan sembilan gol.

Laga melawan Arsenal pada akhirnya menunjukkan bahwa Chelsea memang tak cukup baik dalam bertahan. Keberadaan dua pemain baru, David Luiz dan N’Golo Kante, tak mampu menolong kualitas bertahan Chelsea yang tak cukup baik. Kedatangan Antonio Conte juga demikian.

Kegagalan melawan Arsenal juga menunjukkan bahwa jalan Chelsea untuk menjadi juara akan begitu berat. Berbeda ketika awal Conte datang, yang membuat beberapa pendukung Chelsea optimis bahwa gelar juara akan kembali datang ke Stamford Bridge.

Rentetan tersebut menandakan satu hal, Conte yang notabene juru taktik papan atas juga kesulitan mengatasi beratnya gaya permainan di Liga Primer. Lalu apakah ini salah Conte?

Target Empat Besar Antonio Conte

Jika Liga Primer berhenti saat ini, Antonio Conte bisa dikatakan gagal. Pasalnya, melihat target yang dibebankan oleh manajemen Chelsea seperti dilansir Daily Mail, Conte harus mampu membawa The Blues untuk setidaknya duduk di empat besar, bukan posisi kedelapan seperti yang saat ini mereka duduki.

Namun, pantaskah Conte disalahkan? Jika melihat statusnya sebagai seorang manajer, ya. Tapi, jika melihat apa yang sudah diberikan oleh manajemen dan pemain Chelsea, untuk mendukung tercapainya target Conte, tidak.

Dilihat dari awal musim, Conte disebut menginginkan beberapa nama demi menyelesaikan target yang dibebankan kepadanya. Tapi, hasilnya, tidak semua nama berhasil didaratkan ke Stamford Bridge.

Dua nama yang disebut sesuai dengan tipikal Conte untuk memulai penyerangan dari lini belakang, Kalidou Koulibaly dan Leonardo Bonucci, pada akhirnya tidak jadi mendarat. Chelsea pun terpaksa mengandalkan pemain belakang sisa musim lalu, meski pada akhirnya mendatangkan David Luiz di detik-detik akhir tenggat transfer. Kembalinya pemain timnas Brasil di akhir tersebut bisa mengindikasikan bahwa ia memang bukan incaran utama Conte.

Tidak berhenti di lini belakang. Di posisi gelandang tengah dan sayap, meski Chelsea berhasil mendatangkan N’Golo Kante, namun mereka juga gagal mendatangkan pemain yang sesuai keinginan Conte, seperti Antonio Candreva, Saul Niguez, hingga Marco Verratti.

Hasil dari kegagalan perburuan pemain di masa transfer, terlihat di Liga Primer saat ini. Conte memainkan strategi yang bukan merupakan kesukaannya. Tidak ada formasi 3-5-2 yang terkenal dari Conte itu. Selain itu juga, tidak ada gelandang box-to-box tangguh seperti halnya Arturo Vidal dan Marco Parolo di dua masa kepelatihan Conte.

Lalu salah siapa, pemain?

Jika melihat apa yang The Blues lakukan di laga melawan Arsenal, tentu pemain lah yang menjadi sosok utama yang patut disalahkan. Bukan Conte seperti yang disebut beberapa pendukung sebagai biang kegagalan.

Pilihan pemain yang ia lakukan sudah benar. Taktik yang ia terapkan juga tidak salah. Namun apa yang diperlihatkan oleh pemain Chelsea begitu jauh dari standar yang diinginkan oleh Conte.

Kesalahan ini pun begitu terlihat dari tiga gol yang bersarang di jala Courtois. Gol pertama benar-benar murni kesalahan Gary Cahill. Gol kedua, Eden Hazard menjadi pihak yang patut dipersalahkan. Sedangkan ketiga, salah semua pemain bertahan Chelsea, termasuk Kante dan Nemanja Matic.

Dilihat dari gol pertama. Ini bukan sekali Gary Cahill melakukan kesalahan elementer. Di laga pekan keempat melawan Swansea City, ia juga melakukan hal yang sama dan sama-sama berujung gol. Sementara, gol kedua, dilihat dari struktur pertahanan Chelsea, Eden Hazard seharusnya berada dalam posisi untuk menutup pergerakan Hector Bellerin. Tapi, ia justru lalai dan membiarkan Bellerin masuk dan dengan mudah mengirim bola ke Walcott.

Ada dua kemungkinan besar kesalahan untuk masalah-masalah tadi. Pertama karena memang para pemain tak bisa memahami dengan baik taktik dari Conte. Seperti yang diketahui, sudah menjadi stereotip tersendiri bahwa Liga Inggris masih kalah untuk kekayaan taktik dibanding liga lainnya. Lalu kedua adalah metode latihan yang diterapkan memang tak cocok, untuk hal ini maka Conte wajib yang menyesuaikan jika memang ingin berprestasi.

Lalu, apa yang harus diperbaiki?

Melihat tren buruk yang dijalani Chelsea saat ini, mau tak mau Conte harus melakukan perubahan besar-besaran. Courtois yang reflek-nya sangat menurun dibandingkan musim 2014/15, harus segera dievaluasi. Begitu pun dengan beberapa pemain belakang yang kerap melakukan kesalahan fatal. Mengingat Kurt Zouma disebut sudah memiliki kemungkinan untuk bermain.

Akan lebih baik jika Conte mau mengubah taktik dan formasi timnya saat ini ke era di saat ia berhasil menangani Juventus dan timnas Italia. Dengan taktik dan formasi yang sudah ia pahami bukan tidak mungkin kesuksesan yang sama bakal ia raih bersama The Blues, setidaknya di musim depan. Namun tentu dengan catatan tadi bahwa budaya yang ia anut harus sudah sejalan dengan atmosfer Cobham Training Centre, tempat para penggawa Chelsea menjalani latihan sehari-hari.

Jadi, bagaimana tuan Abramovich? Sudah siap mengucurkan uang tambahan untuk beli pemain lagi?

Komentar