Portugal Kalahkan Kroasia Meski Tampil Tak Dominan, Apakah Keberuntungan?

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Portugal Kalahkan Kroasia Meski Tampil Tak Dominan, Apakah Keberuntungan?

Mencetak gol dalam pertandingan sepakbola itu penting. Apapun caranya, dalam sebuah pertandingan sepakbola, apalagi jika bertanding dalam ajang sebesar dan sepenting Piala Eropa, maka harga dari sebuah gol cukuplah mahal. Satu gol saja sudah cukup untuk membedakan takdir antara dua tim yang bertanding di lapangan.

Lalu, bagaimana cara sebuah tim mencetak gol? Banyak macam cara yang bisa dilakukan oleh sebuah tim untuk dapat mencetak gol ke gawang lawannya. Entah lewat open play, set-piece, ataupun gol bunuh diri lawan, jika usaha-usaha tersebut menghadirkan gol bagi tim, maka jadilah sebuah gol, yang mewujud angka penentu takdir, meski hanya berselisih satu saja.

Begitu pun dengan apa yang terjadi dalam ajang Piala Eropa 2016 ini. Setelah Wales yang mampu lolos lewat gol bunuh diri, ada tim lain yang memegang teguh prinsip beda skor meski hanya satu saja ini. Tim itu bernama Portugal. Portugal sendiri berhasil lolos ke babak perempatfinal usai mengalahkan Kroasia dengan skor 1-0 setelah bertanding selama 120 menit.

Sebenarnya, Kroasia tampak lebih terlihat akan keluar sebagai pemenang. Kroasia menyerang lebih banyak, dan Portugal lebih banyak bertahan. Cerminan bahwa Kroasia menyerang lebih banyak dapat dilihat dari ball possession mereka yang berjumlah 59%, unggul dari Portugal yang hanya 41%serta total tembakan yang mencapai 17 kali.

Total 17 tembakan yang dilancarkan Kroasia tersebut, sangat berbanding jauh dengan Portugal yang memenangi pertandingan. Pada laga ini, Portugal hanya melepaskan enam tembakan, dengan dua di antaranya yang mengarah ke gawang. Uniknya, dua tembakan mengarah ke gawang yang terjadi pada satu momen tersebut yang kemudian melahirkan gol kemenangan untuk Portugal.

Lalu, apa yang mampu membedakan antara Portugal dan Kroasia ini? Apakah karena keberuntungan semata?

Jika merunut pada pernyataan Johan Cruyff, legenda Belanda sekaligus guru taktik sepakbola, bahwa coincidence is logical. Jika kalimat tersebut dialamatkan pada laga Portugal vs Kroasia, maka kemenangan Portugal atas Kroasia bukan hanya sekadar keberuntungan belaka.

Mari kita lihat permainan Portugal secara logis. Berdasarkan statistik yang dirilis Whoscored, Portugal benar-benar kalah jauh dari Kroasia dalam hal inisiasi permainan. Seperti yang sudah disebutkan di atas, Kroasia lebih unggul dalam hal possession ataupun penciptaan attempts ke gawang. Statistik lain seperti rataan umpan ataupun dribel pun Kroasia lebih unggul. Namun, kenapa Kroasia sangat sulit mencetak gol selama 120 menit pertandingan?

Dalam sepakbola, ada dua tim yang memainkan peran berbeda. Ada yang menjadi inisiator, dan ada yang menjadi orang yang lebih menunggu. Dalam pertandingan kali ini, bisa kita anggap Kroasia sebagai inisiator. Mereka bermain lebih aktif dan agresif. Apalagi mereka dibumbui oleh rasa kepercayaan diri yang tinggi karena mampu lolos dari fase grup dengan mengangkangi juara Eropa 2012, Spanyol.

Sementara itu, Portugal, dengan segala keterbatasan dan masalah yang ada dalam tim mereka, sadar bahwa mereka akan menghadapi Kroasia yang percaya diri. Ditambah mereka lolos sebagai peringkat ketiga terbaik di bawah Hungaria dan Islandia yang seharusnya bisa mereka kalahkan. Maka, melawan Kroasia ini, mereka bermain lebih menunggu, tak seperti ketika bermain di fase grup.

Portugal rela digempur habis-habisan. Mereka rela digempur oleh Kroasia yang berusaha untuk mencari gol dengan bertindak sebagai inisiator. Mereka hanya berusaha bertahan sebaik mungkin agar tidak kebobolan.

Namun, meski digempur, bukan berarti mereka tidak mengusahakan diri untuk mencetak gol. Jika ada kesempatan, meski harus menunggu terlebih dahulu, mereka akan langsung menggunakannya untuk mencetak gol.

Di sinilah, Portugal mengenal sebuah kata bernama efektivitas dan kecerdasan. Dalam proses terjadinya gol, setelah puas menunggu selama 116 menit, pada menit ke-117 mereka akhirnya melihat celah untuk mencetak gol. Dilakukanlah sebuah serangan balik ke wilayah pertahanan Kroasia. Ronaldo yang tak terkawal di sisi kanan mampu menerima umpan dari sayap kiri, untuk kemudian menembak bola. Bola ditepis, namun pantulannya mengarah kepada seorang Ricardo Quaresma yang tak terkawal. Gol pun tak terelakkan terjadi, dan gol ini, meski satu saja, sudah membedakan takdir antara Portugal dan Kroasia.

Cukup dengan dua tembakan mengarah ke gawang, Portugal berpesta. Sementara itu Kroasia bersedih. Apakah ini keberuntungan? Tentu tidak. Logisnya, kemana saja Kroasia yang tak mampu mencetak gol selama 116 menit pertandingan? Apa mereka tidak bisa menemukan gawang? Hal ini tentunya terjadi karena solidnya lini pertahanan Portugal.

Singkatnya, Portugal bukan hanya dinaungi keberuntungan pada pertandingan Minggu (26/6) dini hari. Mereka bermain lebih baik melawan Kroasia, dalam hal ini, bertahan dengan baik, dengan tak sekalipun membuat Kroasia menciptakan peluang terbuka (tanpa shots on goal). Sedangkan Kroasia, meski mereka menggempur, mereka menyerang dengan tidak baik. Hasilnya, mereka tak mampu mencetak gol.

Jadi Portugal menang bukan karena mereka beruntung. Mereka bertahan dengan baik. Dengan lini pertahanan yang lebih baik, mereka kemudian berhasil memanfaatkan sebuah momen untuk menjadi gol, walau harus menunggu hampir dua jam pertandingan. Tapi itu sudah cukup untuk membuat mereka bersuka cita melangkah ke babak delapan besar.

Komentar