Perbandingan "Dongeng" Blackburn Rovers dan Leicester City

Analisis

by Billi Pasha

Billi Pasha

Selalu menganggap sepakbola dan musik adalah dua hal paling indah di dunia

Perbandingan "Dongeng" Blackburn Rovers dan Leicester City

Dunia terkejut dengan keberhasilan Leicester City meraih gelar juara. Terlebih, mereka melakukannya di Liga Primer Inggris yang punya banyak kompetitor untuk merebut gelar juara.

Dongeng tentang klub semenjana yang berakhir sebagai juara sebelumnya pernah terjadi pada medio 1990-an tepatnya pada musim 1994/1995 ketika Blackburn Rovers sukses merengkuh gelar Liga Primer. Rovers berhasil mengungguli Manchester United yang sebelumnya berpredikat sebagai juara selama dua kali beruntun.

Blackburn memulai karier di tingkat tertinggi Liga Inggris tersebut pada musim 1992/1993 setelah hampir tiga dasawarsa absen di Liga Primer. Pada musim tersebut, Blackburn sukses menjadi tim kuda hitam dengan menduduki peringkat keempat di akhir musim. Semusim berselang, kesebelasan yang bermarkas di Ewood Park tersebut semakin menunjukkan kualitasnya sebagai tim kuda hitam dengan mengantongi 84 poin dan finis sebagai runner up di bawah Manchester United.

Antara Leicester dan Blackburn punya kesamaan. Keduanya merupakan kesebelasan medioker yang mampu mendobrak hegemoni tim-tim mapan dengan menjuarai Liga Primer. Selain itu keduanya juga ditangani oleh pelatih bertangan dingin. Rovers diarsiteki oleh Kenny Dalglish sementara Leicester dilatih oleh Claudio Ranieri. King Kenny merupakan aktor di balik kesuksesan Liverpool ketika mereka berhasil menyabet trofi Liga Inggris tiga kali dalam kurun waktu empat tahun.

Foto: Zimbio, Independent


Sementara itu, Ranieri yang belum pernah mencicipi mahkota Liga Primer sebelumnya, memiliki pengalaman di Inggris ketika membesut Chelsea. Pencapaian terbaiknya adalah ketika menjuarai Coppa Italia bersama Fiorentina serta UEFA Intertoto Cup dan Copa del Rey kala membesut Valencia. Faktor tersebut tentu memiliki pengaruh besar kepada performa Leicester.

Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan yang amat mentereng. Yakni dari jangka waktu yang dibutuhkan dari promosi hingga menjadi juara serta sudut pandang publik terhadap kedua klub tersebut serta komposisi pemain, khususnya dalam hal kemewahan skuat.

Jangka Waktu dari Promosi Menjadi Juara

Dua musim sebelum menjadi juara, Rovers mampu menunjukkan kualitasnya setelah finis di posisi empat besar. Lalu semusim sesudahnya mereka sukses meraih posisi runner up dan klimaksnya saat berhasil menjuarai Liga Primer. Jadi grafik yang menanjak secara konstan ditunjukkan oleh Rovers dalam kurun waktu tiga musim tersebut.

Sementara itu, Leicester pada musim 2013/2014 mereka masih berkutat di Divisi Championship dan baru promosi semusim berselang. Setelah mereka memasuki divisi teratas sepakbola Inggris tersebut, mereka tak pernah mendapatkan predikat sebagai tim underdog. Jangankan untuk merangkak ke posisi empat besar, untuk bertahan di Liga Primer pun mereka kepayahan. The Foxes mengakhiri musim 2014/2015 di peringkat ke-14 dan hanya terpaut enam poin dari zona degradasi.

Saat menempuh musim baru, tentu Leicester tak masuk sebagai tim yang diperhitungkan dalam kancah Liga Primer. Mereka hanya dipandang sebagai salah satu tim pelengkap yang akan bertarung untuk lolos dari zona degradasi.

Akan tetapi, secara mengejutkan mereka berhasil meraih gelar juara. Kemenangan demi kemenangan diraih secara pasti, dan perlahan mereka mampu menembus papan atas dan kemudian bertengger di puncak klasemen. Mereka sanggup membuktikan bahwa prestasi yang mereka raih bukanlah sebuah keberuntungan ketika sukses mengalahkan Liverpool, Chelsea, dan Manchester City, yang merupakan klub kuat di Inggris.

Komposisi Pemain

Dari segi skuat, meskipun Rovers bukanlah tim mapan, akan tetapi mereka sanggup merekrut Alan Shearer dari Southampton seharga 3.6 juta pounds yang memecahkan rekor transfer di Inggris saat itu. Ditambah lagi dengan pembelian Chris Sutton pada awal musim 1994/1995 yang juga merupakan harga tertinggi bagi pemain Inggris.

Hal tersebut tentu berbeda dengan Leicester yang tidak merogoh kocek dalam untuk membeli pemain. Tercatat pada musim ini mereka hanya mengeluarkan 27,3 juta pounds, serta pemain termahal mereka adalah Shinji Okazaki yang dibeli dari Mainz 05 seharga tujuh juta Pounds. Jamie Vardy dan Riyad Mahrez yang menjadi tulang punggung tim juga hanya dibeli seharga total 1,2 juta pounds yang bahkan tak sampai setengahnya dari nilai transfer Shearer 12 tahun silam.

Foto: Dailymail, ESPNFC

Bahkan di musim sebelumya mereka lebih sedikit dalam membenahi skuatnya. Klub yang kala itu masih dibesut oleh Nigel Pearson tersebut hanya mengeluarkan 20 juta pounds untuk mengarungi Liga Primer. Selain itu mereka juga memanfaatkan pemain yang bebas transfer untuk direkrut, sehingga tak harus mengeluarkan dana terlalu besar. Metode tersebut terbukti efektif seperti Marc Albrighton dan Christian Fuchs yang didapatkan secara cuma-cuma namun mampu memberikan kontribusi.

Kehadiran mereka merupakan sebuah keajaiban dalam sepakbola yang belum tentu datang dalam satu hingga dua dekade. Hanya, berdasarkan beberapa fakta di atas tentu terlihat bahwa Leicester mempunyai kemungkinan lebih kecil dibanding Rovers untuk bisa menjadi juara. Tanpa mengesampingkan Rovers, Leicester melebihi keajaiban yang dimiliki oleh mereka. Sebuah dongeng tim semenjana yang menjadi juara.

Foto:talksport, The Guardian

ed: fva

Komentar