Ramos Si Penyebab Kekacauan Strategi Simeone

Analisis

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

Ramos Si Penyebab Kekacauan Strategi Simeone

Liga Champions adalah kompetisi yang sangat istimewa utamanya bagi Real Madrid. Selain telah merengkuh 10 gelar Liga Champions, Real Madrid juga mampu menumbangkan Atletico Madrid, kesebelasan yang tidak bisa mereka kalahkan pada musim ini baik di La Liga mupun di Copa del Rey. Hingga akhirnya kesempatan itu datang ketika mereka untuk keenam kalinya bertemu pada musim ini .

Kemenangan atas Atletico menjadi hasil yang mutlak mesti didapatkan Real Madrid. Hasil seri dengan masing-masing kesebelasan mencetak gol, akan membawa Atletico yang lolos ke semifinal karena unggul gol tandang. Namun, Madrid menguatkan fakta bahwa Liga Champions memang istimewa bagi mereka. Pada leg kedua babak perempatfinal yang dihelat di Santiago Bernabeu, gol tunggal Javier "Chicharito" Hernandez pada menit ke-88 mengantarkan Real mengandaskan Atletico untuk pertama kalinya pada musim ini, sekaligus mengantarkan mereka ke semifinal.

Atletico Bermain Disiplin

Pelatih Atletico, Diego Simeone, kembali menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain disiplin sesuai dengan pola awal yang telah disusun. Mereka bermain bertahan sembari membiarkan Real Madrid mendominasi permainan. Atletico sendiri hanya mampu melepaskan dua tembakan tepat menuju sasaran.

Simeone sendiri menarik Griezmann bermain lebih dalam sehingga Atletico terlihat bermain dengan lima gelandang dengan Mandzukic yang berjaga di lini serang. Saat memasuki area depan kotak penalti, Atletico mulai melakukan pressing. Real yang panik kerap memindahkan bola ke kedua sisi.

Dari sini Atletico terlihat berhasil memaksa Real Madrid melepaskan umpan silang yang sebenarnya mudah untuk dinetralisir. Dengan posisi yang disiplin, hampir tidak ada pemain Real Madrid yang mampu menarik keluar pemain bertahan Atletico. Anak asuh Diego Simeone bermain begitu sabar menanti kesempatan serangan balik.

Baca juga: Kunci Sukses Atletico Menerapkan Pressing Selama 90 Menit

Mengubah Peran Ramos

Dengan banyaknya pemain yang tak bisa tampil, pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti, pun berjudi dengan menempatkan Sergio Ramos di lini tengah.Bahkan, Isco mengaku terkejut saat Ramos bermain sebagai gelandang. Mantan pemain Malaga tersebut mengungkapkan jika Ancelotti tak pernah melatih Real dengan skema Ramos sebagai gelandang bertahan.

"Saya sudah tahu sebelum yang lain. Sebelumnya, saya dan Ancelotti sudah membicarakan peran ini," kata Ramos seperti dikutip Football Espana.

Beruntung, usaha tersebut menuai hasil yang baik. Ramos bermain sebagai penopang lini pertahanan, lini tengah, dan lini serang. Ia membuat Mandzukic kesulitan mengembangkan permainan. Ia juga yang meringankan beban Pepe dan Raphael Varane yang berposisi sebagai bek tengah.

Dan di babak kedua, Ronaldo mulai rajin turun lebih dalam untuk mengambil bola, menciptakan ruang dan lebih terlibat dalam permainan antar lini di Real. Tentu saja hal itu menjadikan kerja Ramos menjadi lebih ringan untuk berada di setiap lini Real.

Ramos
Grafis Ramos via Stats Zone

Gambar di atas menjelaskan jika peran Ramos begitu krusial di pertandingan ini, khususnya untuk pemain yang berada di sisi kanan Real yang dominan di isi oleh Ronaldo. Ramos begitu rajin menyuplai bola ke sisi tersebut. Ini pula sebagai penjelas jika Ramos merupakan pemain serba bisa yang dimiliki oleh Real. Ramos sendiri setidaknya telah mencatatkan empat kali mencicipi perubahan peran di Real, setelah sebelumnya menjadi full-back kiri, full-back kanan, bek tengah dan kini sebagai gelandang.

Sedangkan di kubu Atletico, terlihat agak mengherankan, ketika Diego Simeone membuat satu perubahan saat istirahat  dengan memasukan Gabi dan menarik Saul Niguez, sebelum berlanjut ke pergantian Raul Garcia dengan menarik Griezmann pada menit ke-65. Tentu saja pergantian kedua menjadi hal yang sangat mengherankan. Sebab peran Griezmann menjadi salah satu penyebab Real berani untuk menekan lebih tinggi lagi.

Diganggu Kartu Merah

Namun semua tidak berjalan mulus setelah Arda Turan harus menerima kartu kuning kedua pada menit ke-75 setelah melanggar Ramos. Tentu saja keluarnya Arda Turan membuat Madrid semakin leluasa menekan. Kartu merah mengubah permainan sepenuhnya, karena sampai saat itu pertandingan tersebut bisa dikatakan seimbang dan berjalan normal seprti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Real mendominasi penguasaan bola, tapi penguasaan itu tak serta merta mengancam pertahanan Atletico. Begitupun melalui beberapa set pieces Real yang gagal untuk benar-benar mengancam pertahanan Atletico.

Bahkan masuknya Jose Gimenez yang menjadi stok terakhir Simeone menjadi penjelas  jika Atletico hanya mengejar perpanjangan waktu atau bahkan adu penalti. Seperti tak ada pilihan lain untuk menghindari tekanan dari Real. Tapi hanya dua menit kemudian setelah masuknya Gimenez. Oblak yang selalu tampil gemilang sejak leg pertama, akhirnya harus merasakn pahitnya memungut bola di pertandingan yang bertajuk derby Madrid.

Di sisi lain pemain Atletico hampir tidak pernah mendekat ke Iker Casillas dan gagal menciptakan peluang dari set pieces yang menjadi momok bagi para lawan saat menghadapi Atletico. Griezmann yang diletakan sebagai penyerang, tidak terlihat sepanjang pertandingan. Justru ia lebih banyak terlihat sebagai pemain sayap. Dengan begitu menjadi hal yang wajar jika Atletico minim peluang.

Pilihan untuk bermain bertahan yang dilakukan Simeone membuat kesempatan balas dendam di partai final musim lalu kandas begitu saja.

Baca juga: Chicharito yang Hanya Ingin Menjadi Manusia Seutuhnya

Serta ulasan lengkap mengenai kartu merah yang mengacaukan permainan bertahan Atletico

Komentar