Analisa Pertandingan: Leverkusen 1-0 Schalke

Analisis

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Analisa Pertandingan: Leverkusen 1-0 Schalke

Kualitas Serangan Buruk Buat Schalke Merugi

Dalam dua pertandingan pertamanya sebagai pelatih kepala FC Schalke 04, Roberto Di Matteo selalu berhasil menuai hasil positif. Kombinasi pertahanan kuat dengan serangan balik mematikan berhasil membawa Schalke meraih kemenangan 2-0 di pertandingan melawan Hertha Berlin di ajang Bundesliga dan 4-3 di ajang Liga Champions melawan Sporting Lisbon.

Namun saat bertandang ke BayArena, Di Matteo menemui kegagalan. Strategi yang ia terapkan tidak berhasil membawa Schalke kembali meraih kemenangan. Berhadapan dengan Bayer Leverkusen yang bermain menyerang di bawah asuhan Roger Schmidt, Schalke takluk lewat gol tunggal

Leverkusen naik dua peringkat ke posisi keempat, sedangkan Schalke turun tiga posisi. Di pekan kedelapan, Schalke duduk di posisi sembilan. Kini mereka harus rela berada enam peringkat di atas dasar klasemen.

4-2-3-1 melawan 4-2-3-1

Roger Schmidt menurunkan para pemainnya dalam formasi 4-2-3-1. Di hadapan penjaga gawang Bernd Leno, berdiri duet Ömer Toprak dan Emir Spahi?. Duo bek tengah tersebut diapit oleh Giulio Donati dan Wendell Nascimento Borges yang dipercaya memainkan peran fullback kanan dan kiri.

Tanpa kehadiran Simon Rolfes, Lars Bender bertindak sebagai kapten. Untuk menemani Bender yang memainkan peran gelandang penjelajah, Schmidt meminta Stefan Reinartz untuk bermain sebagai gelandang bertahan.

Ujung tombak serangan dipercayakan kepada Stefan Kiessling. Trio pemain kreatif; Karim Bellarabi, Hakan Çalhano?lu, dan Heung-Min Son, menyokong Kiessling dari lini kedua.

LINEUP

Sama seperti Schmidt, Roberto Di Matteo pun memainkan pola yang sama. Posisi penjaga gawang dipercayakan kepada Ralf Fährmann. Atsuto Uchida, Kaan Ayhan, Benedikt Höwedes, dan Dennis Aogo, menjadi kuartet lini belakang.

Marco Höger dan Roman Neustädter menjadi jembatan untuk lini belakang dan barisan depan yang diisi oleh Chinedu Obasi, Eric Maxim Choupo-Moting, Julian Draxler, dan Klaas-Jan Huntelaar.

Penuh Sesak di Sepertiga Pertama Schalke

Walaupun Schmidt dan Di Matteo memainkan formasi yang sama, ada satu hal yang membedakan keduanya: gaya bermain yang mereka terapkan pada timnya masing-masing. Leverkusen bermain menyerang dan menekan, sementara Schalke bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik.

Schmidt menyebut bahwa gaya bermain timnya adalah versi ekstrem dari strategi gegenpressing yang diterapkan oleh Jürgen Klopp di Borussia Dortmund. Dan hal tersebut terlihat begitu nyata di pertandingan semalam. Semua outfield player Leverkusen berada di wilayah permainan Schalke, memaksa semua pemain Schalke berada di sisi lapangan yang sama.

Duet Spahi? dan Toprak berdiri di sekitar garis tengah di wilayah permainan Schalke. Di hadapan mereka ada Reinartz yang siap menambal setiap lubang yang tercipta saat rekan-rekannya asik menyerang. Bender, Wendell, dan Donati ikut menyerang bersama Çalhano?lu, Kiessling, Son, dan Bellarabi. Tujuh orang pemain Leverkusen rutin terlihat di wilayah defensive third Schalke. Dalam beberapa kesempatan, Reinartz malah ikut menyerang sehingga jumlah pemain Leverkusen di area sekitar kotak penalti Schalke menjadi delapan orang.

Schalke, sebagaimana terlihat sejak ditangani oleh Di Matteo, bermain bertahan dan menumpuk banyak pemain di wilayah pertahanan. Barisan pertahanan yang berisikan Uchida, Ayhan, Höwedes, dan Aogo, dilindungi oleh Obasi, Höger, Neustädter, dan Draxler. Hanya Choupo-Moting dan Huntelaar saja yang tidak repot-repot ikut bertahan. Keduanya berada di wilayah middle third, bersiap menerima bola dan menyusun serangan balik cepat.

WS003

Pertemuan dua gaya bermain yang berbeda membuat sepertiga pertama permainan Schalke menjadi tempat yang penuh sesak. Statistik menunjukkan bahwa 36% aktivitas permainan terjadi di wilayah pertahanan Schalke.

Schalke: Pertahanan Top, Serangan Flop

Untuk urusan pertahanan, Schalke sebenarnya tidak bermain buruk. Berkali-kali mereka menghadapi ancaman dari Leverkusen, dan berkali-kali juga mereka berhasil mengatasinya. Jika pada akhirnya satu gol bersarang di gawang mereka, biarlah. Toh, gol tersebut tercipta lewat sebuah tendangan bebas sempurna; yang tidak dapat begitu saja digagalkan oleh penjaga gawang manapun.

Ketika bertahan, Schalke bermain baik. Schalke tahu cara untuk melepaskan diri dari tekanan Leverkusen. Dan tak hanya tahu, mereka juga mampu melakukannya. Untuk mengubah tekanan menjadi peluang, Schalke melepaskan bola-bola panjang sejauh mungkin.

Persoalannya adalah, tekanan yang mereka redam tak selalu berhasil mereka ubah menjadi peluang. Jika bukan karena bola tersebut mendarat di dekat pemain Leverkusen, bola tersebut mendarat di dekat pemain Schalke yang tidak dapat menguasainya dengan baik. Cukup sering para pemain Leverkusen berhasil merebut bola dari para pemain Schalke yang tidak mampu sepenuhnya menguasai bola.

Dan kalaupun para pemain Schalke mampu menguasai bola, mereka tidak mampu mengubahnya menjadi ancaman. Inkompetensi ini diakui sendiri oleh para pemain Schalke.

“Pertandingan ini adalah sebuah pertarungan taktis yang tidak menawarkan banyak peluang. Kami tidak berhasil memenangkan bola kedua di banyak kesempatan. Sebagai hasilnya, kami tidak mampu menghadirkan ancaman,” kata Huntelaar selepas pertandingan.

Pendapat Huntelaar didukung oleh Höwedes. “Kami tidak memiliki cukup kreativitas permainan untuk benar-benar mengancam di wilayah sepertiga akhir,” katanya.

Attacking Third Passes - S04

Sulit untuk membantah ucapan Huntelaar dan Höwedes karena apa yang dikatakan oleh keduanya memang benar. Statistik menunjukkan bahwa sepanjang pertandingan Schalke melepaskan umpan di dan/atau ke daerah sepertiga akhir sebanyak 91 kali. Dan hanya 40 di antaranya yang berhasil mencapai sasaran.

Leverkusen Berutang Budi Kepada Trio Kreatif dan Keberanian Çalhano?lu

Dua ujung tombak dari kedua tim, Huntelaar dan Kiessling, sama-sama tidak berhasil memberi pengaruh besar di pertandingan ini. Tak hanya gagal mencetak gol, keduanya gagal memberi pengaruh besar dalam setiap serangan.

Tak masalah. Di belakang setiap ujung tombak, ada sepasang trio penyokong. Sial bagi Di Matteo, trio penyokong ujung tombak (Draxler, Choupo-Moting, dan Obasi) sama mandulnya dengan Huntelaar. Jangankan mencetak gol, menciptakan peluang saja ketiganya tidak mampu. Di antara ketiganya hanya Choupo-Moting yang berhasil menciptakan peluang. Itupun hanya dua.

Untuk urusan trio penyokong ujung tombak, Schmidt lebih beruntung. Son, Bellarabi, dan Çalhano?lu bermain gemilang. Kreatifitas ketiganya terbukti mampu menciptakan banyak peluang dan berhasil membuat Schalke begitu kerepotan. Terutama, tanpa mengecilkan arti Son dan Bellarabi, Çalhano?lu.

Ada batas pemisah yang sangat tipis antara keberhasilan dan kegagalan. Seringkali, menang atau kalah hanyalah soal tepat atau tidaknya pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang pemain. Pada pertandingan ini, hal tersebut dibuktikan oleh Çalhano?lu.

Leverkusen begitu beruntung karena mereka memiliki Çalhano?lu. Keputusan Çalhano?lu untuk melepaskan sebuah tendangan bebas langsung di menit ke-53 berbuah manis. Bola hasil tendangannya dengan mulus masuk ke gawang Schalke. Fakta bahwa setelah tak ada gol lain yang tercipta hingga pertandingan berakhir membuat gol tersebut lebih manis lagi.

Dan ternyata, ada cerita dibaliknya. Tanpa keberanian Çalhano?lu untuk mengusir rekan-rekannya agar ia bisa berdua saja dengan bola, bisa jadi tak akan ada gol tercipta.

“Kami biasanya menempatkan dua atau tiga orang di sekitar bola. Namun kali ini aku menyingkirkan mereka karena aku ingin menentukan sendiri apa yang akan aku lakukan, menendang langsung ke gawang atau tidak. Aku rasa itu adalah keputusan yang benar, dan untungnya aku berhasil mencetak gol,” kisahnya selepas laga.

Komentar