Ange Postecoglou dan Harapan Spurs Buka Puasa Gelar

Analisis

by Bayu Aji Sidiq Pramono

Bayu Aji Sidiq Pramono

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Ange Postecoglou dan Harapan Spurs Buka Puasa Gelar

Musim lalu, Tottenham Hotspur mengalami penurunan performa. Hanya finish di peringkat kedelapan dengan hanya mengumpulkan 60 poin. Prestasi di kompetisi domestik lainnya juga cukup mengecewakan. Kalah dari Sheffield United di putaran kelima Piala FA, serta takluk dari Nottingham Forest pada putara ketiga Carabao Cup. Di kancah Eropa, klub asal London Utara tersebut tidak berbicara banyak. Berstatus sebagai juara Grup D, finalis Liga Champions musim 2018/2019 gugur di babak 16 besar setelah takluk dari AC Milan.

Hasil ini erat kaitannya dengan kepergian Antonio Conte pada bulan Maret tahun 2023. Sebelum Conte pergi, Spurs masih mampu bersaing di peringkat lima teratas. Namun, pasca kritik pedas Conte terhadap klub diindikasi menjadi pemicu memburuknya hubungan antara Conte dengan klub hingga pada akhirnya berpisah. Cristian Stellini dan Ryan Mason mengambil alih posisi yang ditinggalkan Conte hingga akhir musim. Sayangnya, mereka hanya memenangkan tiga dari 10 pertandingan dan gagal membawa Spurs berkompetisi di turnamen Eropa musim berikutnya.

Setelah musim 2022/2023 berakhir, manajemen Tottenham Hotspur bergerak cepat dengan merekrut Ange Postecoglou pada tanggal 1 Juli 2023. Uniknya tanggal tersebut adalah tanggal yang sama ketika Mauricio Pochettino (dan juga Nuno Espirito Santo) ditunjuk sebagai pelatih Spurs. Beberapa nama sempat digosipkan akan mendarat di Tottenham Hotspur stadium, termasuk Mauricio Pochettino. Sehingga keputusan Spurs meminang pelatih asal Australia ini terlihat spekulatif. Padahal, tidak sepenuhnya benar.

Daniel Levy menjelaskan secara gamblang bahwa Ange dengan pengalaman dan filosofinya, diharapkan mengembangkan Spurs bukan hanya untuk tim utama, tapi juga akademi. Artinya, yang dipikirkan Levy adalah tujuan jangka panjang. Levy menjelaskan

“Ange membawa mentalitas positif dan gaya permainan yang menyerang dan cepat. Dia (juga) memiliki rekam jejak yang kuat dalam mengembangkan pemain dan memahami pentingnya akademi untuk klub. Kami (Tottenham Hotspur) sangat senang Ange bergabung dengan kami saat kami mempersiapkan musim depan” ujar Levy dilansir dari Independent.

Visi jangka panjang Levy tentu langkah yang patut diapresiasi. Tapi, harapan fans untuk segera mendapat gelar (bukan Audi Cup) tidak boleh dihiraukan. Ange perlu menyadari tanggung jawab ini sekaligus membuktikan kemampuannya untuk memberi dampak instan terhadap lemari piala Tottenham Hotspur. Dari 10 tim yang pernah ia latih (termasuk tim nasional), hanya tiga tim yang tidak mendapatkan gelar bersama Ange. Sehingga pertanyaanya adalah, mampukah Ange Postecoglou membawa Tottenham Hotspur buka puasa gelar? Jika mampu, berapa lama waktu yang dibutuhkan?

Rekam Jejak

Ange Postecoglou memang nama asing untuk sepakbola Eropa. Namanya mulai dilirik ketika berhasil membawa Celtic sangat mendominasi di Liga Skotlandia. Padahal, pelatih berusia 57 tahun tersebut telah berkarir sebagai pelatih hampir 20 tahun. Namanya sangat harum di Australia dan Asia.

Ange mengawali karir di South Melbourne FC sebelum dipercaya memimpin tim nasional Australia baik tim senior maupun kelompok umur. Enam tahun menukangi Australia U-17 dan U-20, Ange mempersembahkan enam gelar di tingkat Oceania. Bukan prestasi yang istimewa sebab persaingan di Oceania cenderung tidak begitu ketat. Ia mulai mendapat sorotan ketika berhasil membawa Australia memenangkan kejuaraan di tingkat Asia untuk pertama kalinya pada tahun 2015.

Klub/Negara

Ditunjuk

Gelar Pertama

South Melbourne FC

1 Januari 1995 (94/95)

Australian Champion (97/98)

Australia U-20

1 Januari 2001 (00/01)

OFC U19/U20 Championship (00/01)

Australia U-17

1 Juli 2001 (01/02)

OFC U16/U17 Championship (01/02)

Panachaiki

12 Maret 2008 (07/08)

-

Whittlesea Zebras

10 Januari 2009 (08/09)

-

Brisbane Roar

16 September 2009 (09/10)

Australian Champion (10/11)

Melbourne

25 April 2012 (11/12)

-

Australia

28 Oktober 2013 (13/14)

Asian Cup (14/15)

Yokohama Marinos

1 Februari 2018 (17/18)

Japanese Champion (18/19)

Celtic

10 Juni 2021 (20/21)

Scottish League Cup (21/22)

Scottish Champion (21/22)

Jika berkaca pada rekam jejak yang ditunjukan tabel di atas, di level klub, rekor tercepat Ange mempersembahkan gelar adalah selama satu musim (Celtic). Sebelum memulai musim 2021/2022 Ange mendatangkan 13 pemain dengan total pengeluaran 27,97 juta Euro. Tapi, ia berhasil menyeimbangkan pembelian tersebut dengan menjual pemain sehingga mendapatkan 39,74 juta Euro. Kebijakan ini membuat finansial Celtic sehat meski mendatangkan banyak pemain.

Pemain-pemain yang didatangkan pun memberi kontribusi besar terhadap tim. Joe Hart seperti mendapatkan “kehidupan kedua” dengan menjadi kiper utama. Liel Abada yang didatangkan dari liga Yunani menjelma menjadi pemain paling produktif dengan torehan 15 gol. Tidak hanya itu, Kyogo Furuhashi yang didatangkan dari Vissel Kobe langsung menjadi bintang lapangan dengan catatan 20 gol. Prestasi di Celtic menunjukan kinerja Ange Postecoglou yang sangat efektif dan efisien.

Meski catatan di atas menunjukan Ange yang sangat ampuh dalam hal meraih gelar, jangan lupakan perbedaan level persaingan setiap liga. Di Liga Inggris, yang level persaingannya sangat ketat, diperkirakan Ange butuh lebih dari satu musim untuk mempersembahkan gelar mayor. Minimal Carabao Cup. Terlebih, musim 2023/2024 adalah musim pertamanya berkarir di Inggris.




Langkah-Langkah Awal

Ange Postecoglou ditunjuk tanggal 1 Juli 2023. Ia hanya punya waktu sekitar 52 hari untuk menyiapkan tim menyambut musim 2023/2024. Salah satu tugas penting untuk Ange adalah menyusun strategi transfer. Ange juga perlu memutuskan siapa saja pemain yang harus dilepas dan didatangkan. Tidak banyak waktu yang ia punya, terhitung hanya dua bulan waktu yang ia punya sebelum jendela transfer ditutup.

Komposisi pemain yang Spurs miliki cenderung terbatas dan tidak efisien. Terbatas karena tidak banyak pemain yang mampu berkontribusi besar terhadap tim. Akibatnya, performa Spurs musim lalu bergantung pada beberapa pemain saja, yaitu Harry Kane, Rodrigo Bentancur, dan Pierre Emile Hojbjerg. Son Heung-min tidak terhitung karena musim lalu kontribusi pemain asal Korea Selatan tersebut cenderung lebih rendah dibanding musim-musim sebelumnya.

Tidak efisien karena komposisi skuad Spurs “gendut” pada posisi tertentu. Misalnya, di posisi bek kanan. Ada Emerson Royal, Matt Doherty, Pedro Porro, dan Djed Spence. Tapi dari empat pemain tersebut tidak ada satu pun yang kualitas permainya bisa dipercaya dan konsisten tiap pertandingan. Di posisi lain, Spurs sangat kekurangan seorang gelandang kreatif yang mampu mengatur serangan. Masalah tersebut tidak terlihat ketika Bentancur bermain. Tapi, klub asal London Utara tersebut mengalami penurunan ketika Bentancur cedera dan tidak memiliki pengganti yang sepadan. Ange merespon situasi ini dengan memberlakukan kebijakan transfer yang tepat sasaran.

Jika berkaca pada pola perekrutan pemain pada jendela transfer musim panas lalu, jelas, Ange berinvestasi untuk pemain muda potensial. Pelatih asal Australia tersebut memboyong sembilan pemain dengan rata-rata umur 22,4 tahun. Di posisi kiper, ia mendatangkan Guglielmo Vicario dari Empoli untuk menggantikan posisi Hugo Lloris yang tidak tergantikan selama lebih dari tiga musim. Micky van de Ven yang didatangkan dari Wolfsburg langsung mendapatkan posisi utama di lini belakang Spurs, meskipun masih berusia 22 tahun dan baru pertama kali merumput di Liga Inggris.

Untuk mengakomodasi gaya permainan menyerang khas Ange, ia memboyong James Maddison sebagai mesin kreativitas. Kehadiran Maddison sangat membantu Ange untuk mempercepat proses adaptasinya sebab Maddison adalah pemain senior di Liga Inggris meski umurnya masih 26 tahun. Terbukti hingga pekan keempat, Maddison mampu menjalankan tugasnya sebagai gelandang serang dan pusat serangan Spurs. Sejauh ini, Maddison layak dinobatkan sebagai pembelian terbaik Spurs di awal musim 2023/2024.

Tidak hanya belanja pemain, Ange juga tidak ragu untuk melepas beberapa pemain. Bahkan ia rela melepas Harry Kane yang menjadi “penggendong” Spurs selama lebih dari tiga musim. Selain itu, pemain-pemain yang gagal memberi kontribusi besar terhadap tim, seperti Davinson Sanchez, dan Lucas Moura juga dilepas untuk menghindara skuad “gendut” seperti musim lalu. Sementara untuk pemain yang belum berkontribusi tapi relatif masih muda, seperti Djed Spence (23 tahun) Japhet Tanganga (24 tahun), dan Serge Reguilon (26 tahun) dipinjamkan ke klub lain.

Selain strategi transfer, langkah awal Ange adalah menciptakan harmonisasi antar pemain dengan orasi. Melansir dari The Athletic, empat tahun lalu saat Ange masih berkarir di Jepang, ia memberi pertanyaan bahwa bahasa adalah senjata terbaik dan paling efektif yang ia miliki. Jawaban tersebut sangat unik karena biasanya, seorang pelatih kemungkinan besar akan menjawab yang ada kaitanya dengan taktik, pengelolaan pemain, dan hal-hal teknis lainnya.

Kemampuan Ange dalam menuturkan bahasa yang persuasif tumbuh ketika ia menjadi analis Studia Fox Sports TV pada tahun 2009. Beberapa mantan pemain Ange juga mengamini kemampuan Ange dalam berorasi hingga membuat seluruh pemain yang mendengar larut dalam orasinya. Salah satunya adalah Matt McKay, gelandang yang pernah diasuh Ange di Brisbane Roar dan tim nasional Australia menggambarkan bagaimana Ange berpidato setelah memenangkan Liga Australia pada tahun 2011.

“Dia mendudukkan kami di lingkaran tengah setelah kami memenangkan gelar dan berkata, `Lihatlah sekeliling. Lihatlah orang-orang yang bersamamu, dan betapa istimewanya hal ini. Hargai momen dan semua kerja keras yang telah Anda lakukan karena Anda tidak akan pernah mengalaminya lagi bersama grup yang sama’” ujar McKay kepada The Athletic

Dua langkah awal tersebut diperkirakan menjadi katalis untuk meningkatkan performa Spurs di lapangan.

Gaya Permainan

Spurs dalam tiga hingga empat musim terakhir dikenal sebagai tim yang sangat reaktif. Cenderung bermain bertahan, menunggu lawan di area sendiri. Jarang sekali mereka bermain aktif dengan mengambil inisiatif serangan dan mendominasi penguasaan bola. Jika dilihat dari hasil, cara tersebut efektif karena memiliki duet Kane dan Son yang sangat klinis. Mereka tidak membutuhkan banyak peluang untuk mencetak gol. Tidak heran jika Spurs sangat ketergantungan dengan koneksi antara Kane dan Son. Pemain lain praktis bermain untuk mereka.

Tapi, gaya permainan tersebut tidak cukup untuk membawa Spurs ke level permainan yang membawanya meraih gelar juara. Tidak banyak tim dalam sejarah sepakbola yang berhasil meraih gelar dengan gaya permainan yang reaktif. Padahal, jika mengacu pada kualitas individu yang mereka memiliki sangat memungkinkan untuk bermain dengan gaya yang lebih aktif, bukan reaktif.

Jika berkaca pada periode sebelumnya, Spurs sempat tampil sangat agresif ketika diasuh oleh Mauricio Pochettino. Puncaknya adalah ketika mereka berhasil melangkah ke babak final Liga Champions. Meski kalah, tapi capaian tersebut sangat layak diperoleh. Tampil hampir selalu mendominasi. Banyak menciptakan peluang tanpa bergantung pada satu atau dua pemain saja. Spurs pada saat itu menjadi salah satu tim terbaik di Inggris.

Dari dua poin di atas, terlihat bahwa Spurs belum memiliki identitas gaya permainan. Maka dari itu, Levy menyadari hal tersebut dan bermaksud untuk mengembalikan gaya permainan era Pochettino dan mematenkan sebagai identitas.

Jika berkaca pada empat pertandingan pertama di Liga Inggris, Spurs tampil jauh berbeda dari tiga hingga empat musim sebelumnya. Ange menggunakan formasi dasar 4-2-3-1 yang sudah jarang sekali digunakan sejak era Jose Mourinho apalagi Antonio Conte. Ketika menyerang, Ange menugaskan Destiny Udogie sebagai inveted fullback untuk menambah opsi umpan ke arah tengah membentuk 3-2-5. Dinamika penempatan posisi tersebut hampir tidak pernah terjadi pada dua hingga tiga musim terakhir.

Ketika berhasil memasuki area pertahanan, Spurs mampu menciptakan peluang dari berbagai skema. Kehadiran James Maddison sebagai mesin kreativitas membuat Son Heung-min seperti terlahir kembali. Terutama pada pekan keempat ketika ia ditempatkan sebagai penyerang tengah. Pada laga tersebut, Son mencatatkan trigol pertama musim ini dan membawa Spurs menang telak di kandang Burnley dengan skor 2-5. Saat ini Spurs duduk di peringkat kedua dengan kemenangan penuh. Tidak hanya itu, mereka juga tercatat sebagai salah satu tim dengan produktivitas tertinggi.

Kesimpulan

Saat ini, Spurs dengan wajar baru di bawah Ange tampil sangat atraktif. Secara permainan di lapangan, mulai memenuhi syarat untuk meraih gelar. Namun perlu dipantau perkembangan dan konsistensinya. Jika Ange mampu mempertahankan situasi seperti ini satu musim penuh, bukan tidak mungkin musim berikutnya Spurs meraih gelar.

Komentar