Persija Kalah Telak dari PS Polri

Berita

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng!

Persija Kalah Telak dari PS Polri

Persija Jakarta gagal memenuhi ambisinya yang bertekad mengalahkan PS Polri pada laga pertama Grup B Piala Bhayangkara 2016 di Stadion I Wayan Dipta, Sabtu (19/3). Persija justru kalah tiga gol tanpa balas dari pendatang baru di persepakbolaan Indonesia saat ini.

Persija harus rela gawangnya dikoyak Fabiano Beltrame (4'), Bio Paulin (23') dan Robertino Pugliara (88'). Hal yang paling disorot pada pertandingan ini adalah proses dua gol pertama PS Polri. Gol yang dicetak Fabiano dan Bio Paulin itu dilakukan melalui duel udara. Kedua duel udara tersebut diciptakan dari tendangna bola mati.

Fabiano mampu menyambar umpan silang Hargianto yang mengeksekusi tendangan bebas. Mampunya kepala Fabiano menyambar umpan tersebut bukan tanpa alasan. Fabiano berada dalam posisi tidak terkawal ketika menerima umpan tersebut. Tidak ada pemain Persija yang mengawalnya. Bahkan Fabiano tidak sendirian berdiri bebas. Ada Ilham Udin juga yang berdiri bebas tanpa kawalan.

Sementara itu gol kedua karena Andik Rama kalah duel udara dengan Bio Paulin. Hal itu terjadi ketika Bio Paulin menyambut tendangan pojok Dedi Hartono. Maka dari itu Paulo Camargo, Pelatih Persija, perlu mengasah para anak asuhnya saat menghadapi situasi bola mati, terutama dalam duel udara.

Selain menghadapi situasi bola mati, Camargo mesti mengakali kekosongan kedua sisi pertahanannya. Dua sisi pertahanan Persija acap kali menjadi sasaran serangan PS Polri. Hal ini terkait dengan formasi 3-5-2 yang diterapkannya sejak awal laga. Dua wing-back Persija yang diperankan Ismed Sofyan dan Andik Rama tidak bisa mengimbangi sayap lawan.

Ismed dan Andik Rama tidak bisa mengimbangi kecepatan Dedi dan Ilham, terutama ketika melakukan transisi dari menyerang ke bertahan. Ismed menjadi titik paling lemah wing-back Persija. Ketika menyerang, ia tidak bisa menaklukan Gerald Pangkali, full-back PS Polri. Pangkali sendiri tidak terlalu agresif membantu serangan. Ia difokuskan untuk bertahan, mengantisipasi Ismed yang membantu serangan.

Kekosongan di sisi pertahanan itu, tidak ditutupi sejara inisiatif oleh tiga bek Persija. Baik Gunawan Dwi Cahyo, Maman Abdulrahman dan Franck Bezi, bermain terlalu rapat ke tengah. Sehingga kekosongan dua sisi pertahanan yang ditinggalkan kedua wing-back, tidak ditutupi oleh mereka. Persija sendiri baru berubah formasi menjadi 4-4-2 ketika Rachmat Affandi masuk menggantikan Gunawan pada pergantian babak.

Komentar