Taktik yang Meroketkan RB Leipzig ke Papan Atas Bundesliga

Taktik

by Sandy Firdaus 40580

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Taktik yang Meroketkan RB Leipzig ke Papan Atas Bundesliga

RB Leipzig sekarang menjadi buah bibir. Bukan hanya karena tudingan-tudingan negatif dari para pendukung klub Bundesliga yang lain kepada mereka, melainkan karena capaian yang sudah mereka torehkan hingga spieltag 8 Bundesliga. Dalam delapan pertandingan tersebut, Leipzig sama sekali belum mencatatkan kekalahan dan sekarang berada di peringkat kedua Bundesliga.

Capaian ini adalah capaian yang cukup membanggakan bagi klub yang sekira tujuh tahun lalu masih berkutat di divisi lima kompetisi sepakbola Jerman. Di balik keberhasilan yang Leipzig raih, ada banyak faktor yang menyertainya. Salah satunya adalah pendekatan taktikal yang dilakukan sang pelatih, Ralph Hassenhüttl. Pendekatan taktikal inilah, setidaknya, yang sampai sekarang membuat RB Leipzig mampu bersaing dengan klub-klub Bundesliga yang lain. Richard Downing, jurnalis dari SofaScore, menjelaskannya cukup detil.

Sistem dan Formasi Dasar RB Leipzig

Hassenhüttl menggunakan formasi dasar 4-2-2-2 untuk tim RB Leipzig. Formasi dasar ini disusun untuk mendukung sistem dan pola permainan yang diterapkan oleh pelatih yang musim lalu berhasil menyelamatkan FC Ingolstadt dari jurang degradasi. Berikut adalah susunan pemain yang biasa diturunkan oleh Hassenhüttl.

Dengan formasi dasar ini, Leipzig memainkan sebuah sistem permainan yang berfokus kepada intensitas dan tekanan tanpa henti ketika bertahan, dan juga kesabaran serta kekuatan fisik ketika menyerang. Keempat gelandang tengah berkombinasi dengan dua penyerang depan (Yussuf Poulsen dan Timo Werner) untuk mengizinkan Leipzig memberikan “kuasa semu” kepada lawan ketika mereka sedang tidak memegang bola.

Pertahanan Leipzig, Intens dan Terus Menekan

RB Leipzig mulai melakukan transisi dari menyerang ke bertahan tepat ketika mereka kehilangan bola, di area manapun itu, bahkan jika jauh dari lini pertahanan mereka sekalipun. Enam pemain yang berada di depan membiarkan bek lawan menguasai bola, dan keenam pemain tersebut membentuk tembok putih, terutama di lini tengah.

Menumpuknya pemain di lini tengah Leipzig akhirnya memaksa pemain lawan untuk memberikan bola ke area sayap, tepatnya kepada fullback. Ketika bola mengalir ke sayap inilah, tekanan RB Leipzig dimulai. Bahkan tak jarang kedua fullback RB Leipzig pun maju sampai ke tengah untuk meningkatkan tekanan sekaligus menutup winger lawan yang mungkin menjadi opsi umpan fullback.

Tekanan kepada fullback ini membuat fullback lawan tidak memiliki pilihan lain selain mengoper kembali bola ke tengah, atau memainlkan bola panjang, yang lebih mudah dipatahkan oleh para pemain Leipzig.

Grafik pemain tengah RB Leipzig ketika melawan Bremen, Augsburg, dan FC Köln. Sumber: sofascore.com

Menutup lini tengah dan memaksa pemain lawan mengumpan kepada fullback memiliki keuntungan tersendiri untuk Leipzig, antara lain: 1) kuasa lini tengah berada di tangan mereka kendati bola berada dalam penguasaan lawan, 2) memaksa lawan menyerang lewat area sayap, dan itu membuat serangan lebih mudah dihentikan karena ketika berada di sayap, tekanan akan lebih mudah untuk dilakukan

Fokus para pemain Die Bullen memang diarahkan kepada bola, sehingga ketika bola terebut mereka bisa langsung melancarkan serangan dari sisi manapun.

Serangan Leipzig, Model Jerman Lama dan Penuh Kesabaran

Untuk serangan sendiri, build-up serangan dari Leipzig adalah gabungan dari kesabaran para pemain untuk menunggu (para pemain jarang menekan pemain lawan secara membabi buta) dan transisi yang cepat. Tapi itu semua tergantung bagaimana build-up serangan dari lawan. Tapi Leipzig memiliki dua holding midfielder yang berani turun ke belakang, melapis dua bek tengah, lalu kemudian merebut bola dan membantu mengalirkan bola ke depan.

Kemudian bagaimana caranya Leipzig mengalirkan bola ke depan? Richard Downing menyebutkan bahwa Die Bullen memakai pendekatan a la Jerman lama, yaitu langsung menekan secara vertikal melalui tengah, tidak meyirkulasikan bola ke sayap dan memanfaatkan lebar lapangan. Serangan secara vertikal melalui tengah ini dapat dilakukan karena menumpuknya pemain di tengah (sisa dari fase bertahan yang siap mengalirkan bola ke depan ketika beralih ke fase menyerang).

Tapi bukan berarti serangan vertikal RB Leipzig ini selalu lancar. Acap kali serangan menjadi buntu ketika para pemain tengah Leipzig tidak mampu bermain dengan tempo yang cepat dan mengalirkan bola langsung ke depan. Di sinilah peran Emil Forsberg dan Naby Keita diperlukan.

Forsberg dapat menjadi pengalir bola kepada para penyerang dengan catatan chances created-nya yang sudah mencapai angka 3 dalam delapan pertandingan (tertinggi di antara para pemain Leipzig yang lain). Sementara itu Naby Keita menjadi gelandang box-to-box, mengisi area tengah dan menjadi penghubung antara holding midfielder dengan Emil Forsberg. Malah terkadang jika ada ruang yang bisa dimanfaatkan, ia bisa maju untuk mencetak gol.

Bukan cuma menyerang secara vertikal, Leipzig pun mampu memanfaatkan fisik dari para pemain depannya, dalam hal ini Timo Werner dan Yussuf Poulsen. Karakter yang berbeda dari dua pemain ini membuat Leipzig memiliki rencana B ketika serangan mereka secara vertikal dari lini tengah buntu.

Poulsen yang dapat berduel di udara dengan bek lawan sekaligus mampu menahan bola dengan baik dapat menjadi target man, sedangkan Werner yang memiliki pergerakan tanpa bola yang baik dapat menarik bek lawan untuk memberikan ruang kepada para pemain tengah masuk ke dalam kotak penalti dan mengeksekusi peluang yang didapat.

Cacat Dari Taktik RB Leipzig Ini

Dengan pendekatan taktik seperti ini, sampai sekarang RB Leipzig tidak terkalahkan dalam delapan pertandingan dan menduduki peringkat kedua Bundesliga. Menarik untuk disimak apakah mereka akan tetap mampu bermain dengan tempo tinggi seperti ini selama satu musim penuh.

Selain itu taktik dari RB Leipzig ini pun memiliki cacat. Bermain dengan tempo tinggi selama 90 menit penuh, maka para pemain dituntut untuk bugar selama satu musim. Hal ini tentunya sangat sulit untuk dilakukan karena cedera selalu menghantui para pemain, apalagi mereka bermain dalam tempo tinggi dan melakukan transisi dari bertahan ke menyerang dan sebaliknya secara cepat. Belum lagi dengan masalah akumulasi kartu yang membuat pemain penting acap absen.

Juga Leipzig akan menemui masalah ketika lawan mereka menumpuk pemain di lini belakang. Sampai sekarang Leipzig belum bersua tim dengan pendekatan ultra-defensif seperti itu. Tapi jika nanti mereka bertemu dengan tim seperti demikian (kemungkinan besar SV Darmstadt akan menerapkan pola itu), menarik untuk melihat bagaimana pendekatan yang akan dilakukan Hassenhüttl (kemungkinan besar serangan vertikal tak akan jalan).

Mungkin mereka bisa memanfaatkan keunggulan fisik Poulsen dan kemampuan Werner untuk membuka ruang di kotak penalti. Tapi bagaimana jika mereka berdua out of perform dan tampil mengecewakan?

**

Pengaruh dari Ralf Rangnick sebagai direktur olahraga sekaligus orang yang menangani RB Leipzig musim lalu di 2. Bundesliga masih terasa. Strategi yang diterapkan oleh Hassenhüttl ini pun tampaknya adalah strategi peninggalan Rangnick, yang pernah ia gunakan juga ketika masih menangani Schalke 04 dulu.

RB Leipzig benar-benar memberikan warna baru di Bundseliga 2016/2017, baik itu dari sisi isu, cerita, dan juga pendekatan taktik yang mereka lakukan.

foto: @DieRotenBullen

Komentar