Alasan Klopp yang Tak Rela Sakho Cedera

Taktik

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Alasan Klopp yang Tak Rela Sakho Cedera

Bek Liverpool asal Prancis, Mamadou Sakho, menderita cedera saat The Reds kalah 2-1 melawan Crystal Palace dua pekan yang lalu. Bukan sembarang cedera, ia dilaporkan menderita cedera lutut dan harus menepi dari lapangan selama delapan pekan lamanya.

Cedera ini semakin menambah daftar cedera beberapa pemain penting Liverpool seperti kapten Jordan Henderson, Daniel Sturridge, dan Danny Ings, serta ditambah James Milner yang juga sempat dikabarkan cedera saat jeda internasional kemarin.

Bagi Sakho sendiri, cederanya ini akan membuat pemain berusia 25 tahun tersebut absen pada masa Natal dan Tahun Baru atau yang lebih terkenal dengan sebutan �"boxing day�".

Manajer Liverpool, Jürgen Klopp, berpendapat bahwa cederanya Sakho akan sangat mempengaruhi performa pertahanan Liverpool dalam dua bulan ke depan.

�"Lebih baik saya kalah 4-1 tapi bisa tetap mempertahankannya (Sakho) di tim,�" kata Klopp setelah pertandingan melawan Palace tersebut.

Pendapat Klopp di atas bisa jadi akan dinilai terlalu berlebihan. Namun, apakah benar Sakho sudah menjadi pemain yang sepenting itu bagi Liverpool di bawah asuhan Klopp?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita pastinya harus membandingkan Sakho dengan Martin Škrtel dan Dejan Lovren. Sejak awal musim ketika Liverpool masih dilatih oleh Brendan Rodgers, Škrtel adalah bek pilihan pertama, sementara pilihan kedua memag biasanya menjadi milik Lovren atau Sakho.

Tapi Lovren yang lebih sering menjadi pilihan Rodgers. Kecuali di musim lalu ketika Liverpool bermain dengan tiga bek, Sakho biasanya yang selalu menjadi pilihan untuk mengisi posisi bek tengah sebelah kiri karena ia berkaki alami kiri.

Sedangkan ketika Klopp datang, ia selalu menjadikan Sakho pilihan pertama, menjadi tandem Skrtel. Hal ini membuat Lovren lebih sering duduk di bangku cadangan.

Mantan penyerang Liverpool, Neill Mellor, menjuluki Sakho sebagai �"pejuang�". Sementara mantan pemain Liverpool lainnya, Mark Lawrenson, menjuluki Sakho sebagai �"monster�". Kedua julukan di atas (warrior dan beast), bukan sembarangan diberikan kepada Sakho. Julukan tersebut mulai lekat pada diri pemain bertinggi badan 1,87 meter itu karena sifatnya yang �"tidak neko-neko�" ketika bertahan, sama seperti Škrtel.

Sakho_Skrtel_Lovren Perbandingan beberapa statistik Mamadou Sakho, Martin Škrtel, dan Dejan Lovren. (sumber: Squawka)


Jika kita lihat beberapa poin statistik di atas, apa yang dideskripsikan sebagai �"pejuang�" atau �"monster�" sebenarnya tidak otomatis bisa ditemukan dalam diri Sakho.

Dari tujuh pertandingannya di Liga Primer Inggris, ia mencatat 13 tekel dan 7 di antaranya adalah tekel berhasil. Namun, tidak seperti Škrtel yang sudah melakukan 9 kali pelanggaran, Sakho hanya sekali melakukan pelanggaran.

Dari statistik di atas juga kita bisa menilai bahwa bek yang paling menjadi andalan Liverpool sebenarnya Škrtel, bukan Sakho atau Lovren. Jadi, cederanya Sakho bisa jadi tidak sebegitu membuat Klopp merasa kehilangan.

Hanya saja, anggapan beberapa suporter Liverpool selama ini yang menilai Lovren agak tidak bisa diandalkan-lah yang membuat kehilangan Sakho menjadi sangat serius bagi The Reds. Padahal jika dilihat dari statistik bertahan di atas, Lovren tidak terlalu ketinggalan jauh dari Sakho maupun Škrtel.

Tapi memang ada satu hal penting yang membedakan Sakho dengan Lovren jika kita lihat dari kacamata Klopp. Hal tersebut adalah kemampuan mereka dalam mentransformasikan permainan dari bertahan ke menyerang, apalagi jika Liverpool menerapkan gegenpressing khas Klopp.

Salah satu dari kemampuan di atas bisa kita lihat dari jumlah, akurasi, dan jenis operan. Pertama, angka akurasi antara Sakho dan Lovren jauh berbeda, 91% berbanding 84%. Sakho juga mendapatkan angka itu dari 400 operan yang sudah ia lakukan, sedangkan Lovren hanya 220 kali.

Dari jumlah sebanyak itu, Sakho melakukan operan ke depan (forward pass) sebanyak 323 kali sementara Lovren 173 kali.

Di luar angka statistik, dari kondisi fisik misalnya, kita bisa mendapatkan bahwa Sakho adalah pemain yang memiliki kecepatan yang lebih tinggi daripada Lovren yang terlihat lebih lambat. Ini juga yang menjadikan Sakho lebih unggul daripada Lovren.

Duet Sakho dengan Škrtel juga dianggap menjadi duet terbaik Liverpool karena mereka berdua bisa saling melengkapi. Škrtel lebih kuat, sementara Sakho lebih cepat. Škrtel berkaki kanan, sementara Sakho berkaki kiri. Lovren lebih lambat dan lebih dominan kaki kanan meksipun kemampuan kaki kirinya tak terlalu buruk.

Pada akhir pekan ini Liverpool akan menghadapi Manchester City di Etihad Stadium, Manchester, dipastikan tanpa Sakho. Mantan pemain Paris Saint-Germain ini diharapkan sudah kembali bermain setelah boxing day, yaitu ketika Liverpool harus menghadapi Arsenal (12 Januari 2016) dan Manchester United (16 Januari 2016).

Selain Lovren, sebenarnya Liverpool masih memiliki Kolo Touré yang juga berposisi alami sebagai bek tengah. Emre Can juga bisa dimainkan sebagai bek tengah meskipun posisi alaminya adalah gelandang. Sementara Joe Gomez, bek serba bisa, sedang mengalami cedera.

Jadi, dengan absennya Sakho, siapa pasangan bek tengah paling ideal untuk Skrtel di lini pertahanan Liverpool? Lovren, Toure atau Can? Silakan tinggalkan pendapat Anda di kolom komentar di bawah ini.

Sumber: Sky Sports, Squawka

Foto: flickr

Komentar